Beranda Uncategorized Berekspedisi ke Wisata Alam Sarambu Tai Bai Marende, Desa Kaleok

Berekspedisi ke Wisata Alam Sarambu Tai Bai Marende, Desa Kaleok

151
BAGEI TOLAEN !
Air Terjun "Tai Bai" Marende, Desa Kaleok, Foto: Fikri 2017

PATTAE.com | Kaleok- Daerah dimana masyarakat pattae bermukim, terletak di dataran tinggi (pegunungan), sehingga untuk mendapatkan potensi alam seperti air terjun, tidak sulit di temukan di daerah tersebut, dengan kesempatan ini, kru pattae.com pun mengadakan ekspedisi, menjajaki potensi wisata alam yang ada di wilayah Kaleok, tepatnya kampung Marende, Desa Kaleok.

Tujuan akspedisi ini, tidak lain adalah bagian dari pada kecintaan kita terhadap kekayaan Alam, khususnya di daerah Pattae, sembari juga untuk menggaungkan keindahan pesona wisata Alam yang ada di Polewal mandar.

Air terjun “Tai Bai” di dapat dari cerita-cerita masyarakat setempat, tentang keindahan Air terjun tersebut. bukan karena namanya yang unik, akan tetapi juga karena memang pesona keindahan air terjun “Tai Bai” mengundang rasa penasaran sehingga, tim Pattae.com pun mengagendakan Ekpedisi pada hari Jumat ( 25/5/17).

Tepat pada pukul 14:00 wita, Batetangnga menjadi titik awal perjalanan kami menuju ke lokasi air terjun Tai Bai. Dengan modal seadanya, kami pun sampai di sebuah Desa yang kami tujuh, dan untuk sampai kesana tentu harus melewati kampung Baru (Desa Paku) dan Desa Amola dengan durasi waktu 25 menit kita sudah bisa sampai di daerah marende.

Tidak jauh, Setelah kami melewati jembatan perbatasan antara Desa Amola dengan Desa Kaleok, yang berjarak 10 meter dari tapak batas wilayah desa di temui jalan bercabang, untuk jalur ke lokasi air terjun Tai Bai, anda harus belok kiri.

Kita akan menemukan jalan menanjak, semakin keatas jalanan, akan semakin sempit dan jalur pendakian hanya bisa dijangkau oleh kendaraan roda dua, tapi dengan adanya pemandangan dan suasana asri selalu menghiasi perjalanan sehingga tak terasa jauh.

Setelah sampai di masjid Jabal Nur yang letaknya disebelah kiri sisi jalan, kita akan menemukan lagi jalan yang bercabang, anda harus berhenti di masjid tersebut, atau di rumah warga sebelah kanan sisi jalan untuk memarkir kendaraan. Jalanan bercabang itulah akses menuju ke air terjun “Tai Bai”.

Perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki, kendaraan sudah tak bisa menjangkau karena jalan ini hanya diperuntuhkan untuk pejalan kaki (setapak) yang lebarnya hanya ½ meter saja.

Untuk sampai ke ketujuan, kami pun menghabiskan waktu selama 15 menit dan melewati pohon-pohon menjulang tinggi, bebatuan, dan kebun kakao warga yang tertata rapi serta hutan yang masih hijau yang belum terjamah oleh manusia.

Kicauan burung, dan suara gemuruh air sungai terdengar jelas mengiringi perjalalan kami yang tentunya membawa nuansa tersendiri bagi para penikmat ekpedisi.

Sesampainya kami di lokasi air terjun Tai Bai, langsung terlihat w,o,w…..! kucuran keringat dan rasa lelah terbayarkan dengan keindalahan alam yang sangat luar biasa, sejuk, rasa haus pun menghilang setalah melihat keindahan dua air terjun yang memiliki ketinggian 45 Meter nampak terlihat.

Bukan hanya keindahan air terjunnya, tapi Alam yang ada disekelilingnya juga sangat menarik, masih sangat Hijau dan asri yang tentunya memanjakan mata bagi para pengunjungnya, juga terpampang Batu Hitam yang besar menambah dekorasi keindahan tempat ini.

Air Terjun “Tai Bai” Foto Fikri 2017

Air terjun Tai Bai sebenarnya memiliki cerita mitos yang di percaya oleh masyarakat setempat, dan juga merupakan asal muasal kenapa di sebut sebagai sarambu Tai Bai (air terjun kotoran babi).

Konon katanya, sesuai cerita masyarakat setempat, di area sungai air terjun ini, jika ada salah seorang melihat hewan yang hidup di air tawar (udang, kepiting, ikan dan sejenisnya) lalu menyebutkan salah satu jenis kepiting, atau ikan air tawar tersbut, maka batu besar menjulang tinggi tempat air mengalir, akan mengalami retak dan jatuh.

Jika menunjuk atau menyebut hewan tersebut dengan kata kotoran binatang (babi) Tai Bai, batu tersebut tidak akan terjadi apa-apa. dari sinilah sehingga masyarakat setempat menyebut air terjun tersebut sebagai sarambu Tai Bai.

Penamaan air terjun ini beda lagi dengan dinas kehutanan Polewali Mandar dimana air terjun tersebut dinamainya sebagai air terjun kembar, sesuai dengan bentuknya yang terlihat, terdapat dua air terjun yang berdekatan.

Terlepas dari penamaan dan mitos, panorama air terjun Tai Bai tetap mantap di jiwa, menyejuk dihati setiap pengunjungnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 17:15 wita, meskipun masih ingin berlama-lama di air terjun untuk menikmati pesona keindahan alam ini, tapi mau tidak mau, kami harus bergegas karena siang hari akan berganti malam.

Sebelum beranjak pulang kerumah masing-masing, kami tidak lupa untuk mampir dirumah kepala dusun Marende, beristirahat sejenak sambil menikmati kue khas.

Kepada keluarga dan sahabat agar kiranya menjaga kelestarian alam yang ada, karena mereka adalah warisan dan kebanggaan kita yang harus kita jaga bersama, dengan terjaganya alam ini maka terjaga pulalah kehidupan kita.

Salam Pattae.com