Beranda Sejarah & Budaya Bukan Hanya Tempat Berziarah, Makam To Salama’ Juga Menjadi Obyek Wisata Religi

Bukan Hanya Tempat Berziarah, Makam To Salama’ Juga Menjadi Obyek Wisata Religi

251
BAGEI TOLAEN !
Makam To Salama' di pulau Tosalama, Rabu, 26/04/2017 (Foto: Achi Proletariat)

PATTAE.com | Binuang- Siapa tidak kenal dengan sosok pembawa ajaran islam pertama ke Wilayah sulawesi Barat, Waliullah Syech Bil Maruf, atau Abdul Rahim Kamaluddin, yang masyarakat Binuang menyebutnya To Salama’. jika di artikan “To Salama”, adalah merupakan orang yang selamat, atau sebagai orang yang membawa keselamatan.

Makam “To Salama” terletak di salah satu Pulau di Binuang yaitu Pulau Tangnga, Kelurahan Ammasangan, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar. untuk menghargai dan mengenang terus jasa-jasa Syeh Bil Ma’ruf, oleh masayarakat setempat mengganti nama pulau Tangga menjadi pulau To Salama’

Pulau To Salama tersebut tidak pernah sepi dari Pengunjung, menurut, Haruna, salah satu pengelola makam To Salama, menyebutkan bahwa setiap bulannya, dipulau To Salama pengunjung bisa mencapai 1000 Orang lebih dari berbagai wilayah, baik dari wilayah Sulawesi, Kalimantan, maupun manca negara seperti Malaysia. Bahkan, Turis pun sering juga berkunjung melihat makam To Salama Binuang. untuk bisa sampai kepulau To Salama, kita harus menyeberangi laut dengan menggunakan perahu tradisional

“Jumlah pengunjungnya perbulanya mencapatai 1.000 an bahkan lebih, bulan ini saja sudah lebih 300 mahasiswa yang datang itu baru mahasiswa belum yang lainya, karena kami punya catatan pengunjung (buku tamu)”. sebut Haruna

Ketika tim pattae.com menyambangi makam tersebut, pada hari Rabu, (26/04/2017) dengan menggunakan perahu nelayan yang masih sangat tradisional, masyarakat menyebutnya sebagai perahu “Katinting” yang bertolak dari “Buttu Te’neng” (Gunung Te’neng) Kel. Ammassangan ke Pulau To salama’ ditempuh hanya 10 menit perjalanan.

Bukan hanya “Buttu Te’neng” sebgai akses utama untuk bisa sampai ke area makam To Salama, kita juga bisa melalui jalur dari daerah Tonyaman, Bajoe, Silopo, Tappina dan daerah-daerah lain, jalur menuju kesana juga sudah disiapkan oleh masyarakat setempat seperti melalui Taksi laut yang di khususkan bagi para pengunjung dengan hanya mengeluarkan biaya pulang pergi (PP) sekitar Rp 30.000/orang.

Lanjut, Haruna, mengatakan bahwa Pengunjung yang datang di Makam To Salama berbagai macam tujuan, ada yang sekedar melepas Nazar, ada juga yang Berziarah, bahkan ada pengunjung yang datang untuk bertujuan untuk membuang sial (Massampo), ada juga yang sekedar jalan-jalan, atau Study Tour. 

“Pengunjung yang datang di disini ada yang datang hanya sekedar untuk berziarah kubur ada juga yang datang untuk melepas Nazar, massampo (buang sial) ada juga yang datang untuk Jalan-jalan, study tour” Lanjut Haruna

Tangga Menuju Makam Abdul Rahim Kamaluddin (To Salama’) Foto: Achi Proletariat

ketika kita masuk dalam area Makam To Salama’, para pengunjung akan menaiki sebuah tangga yang berjumlah 30 anak tangga. Dalam makam tersebut kita akan melihat 4 makam, yaitu makam sahabat To Salama, dan makam murid To Salama yang terbagi menjadi dua tempat.

“makam yang ada disamping Waliullah Abdul rahim kamaluddin adalah sahabat beliau semasa dia hidup dan disebelah selatan itu adalah batu nisan ke dua muridnya, sayang nama dari ketiga makam tersebut belum dapat dipastikan” Tutur Haruna

Foto: Achi Proletariat

Makam “To Salama” terletak diatas puncak bukit dengan ketinggian kurang lebih 45 meter dari permukaan laut yang memiliki luas area 10 X 25 Meter Persegi dan bangunan situsnya seluas 5 Meter persegi.

Pengunjung yang datang membawa berupa Sesajen seperti Sokko, Telur, Pisang, dan lainnya. bukan hanya itu, pengunjung juga biasanya membawa se ekor Kambing, Sapi dan Kerbau untuk disembeli di area Makam, dan dimasak, kemudian mengadakan ritual “Ma’ baca-baca” (mendoakan) di depan makam To Salama’ dan terahkir berziarah dengan menyiram air bersih ke 4 batu nisan tersebut.

Ditempat yang terpisah, Dahlan, yang juga salah satu penjaga kuburan tersebut mengatakan bahwa objek wisata religi ini paling ramai dikunjungi pada hari-hari tertentu, seperti hari libur.

“Objek wisata religi ini ramai di kunjungi setiap hari sabtu, minggu dan tanggal merah, dan biasanya pengunjung yang datang tidak saja siang hari, karena biasa juga ada pengunjung yang datang pada saat malam untuk membaca Al-Qur’an, zikir, baca Yasin” tutur dahlan sambil berjalan menuju rumahnya.(*)