Beranda Budaya Pattae Makanan Khas Baje’ dan Tradisi Pa’bongian Masyarakat Pattae

Makanan Khas Baje’ dan Tradisi Pa’bongian Masyarakat Pattae

446
BAGEI TOLAEN !
Makanan Khas Baje' dan Tradisi Pa'bongian Masyarakat Pattae
Makanan Khas Baje' dan Tradisi Pa'bongian Masyarakat Pattae

Baje’ | PATTAE | Baje’ adalah nama penganan yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Pulau Sulawesi. Hampir setiap daerah di Pulau Sulawesi mengenal baje’ sebagai makanan tradisional. Demikian halnya dengan masyarakat Pattae di Kab. Polman, Prov. Sulbar, yang juga menjadikan baje’ sebagai salah satu makanan khasnya.

Mungkin berbeda dengan tradisi masyarakat di Pulau Sulawesi pada umumnya. Baje’ dalam masyarakat Pattae memiliki keterkaitan yang erat dengan sebuah tradisi, yang oleh masyarakat Pattae disebut dengan tradisi Pa’bongian atau Ma’bongi.

Baje’ dalam Tradisi Pa’bongian

Tradisi Pa’bongian atau Ma’bongi adalah sebuah acara peringatan kematian atau mengenang sekaligus mendoakan keluarga yang telah pergi lebih dulu menghadap sang khaliq. Dalam acara Pa’bongian ini, akan disajikan baje sebagai penganan untuk dicicipi sekaligus untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing oleh setiap tamu yang datang. Kurang lengkap rasanya, jika makanan khas ini tidak hadir dalam acara Pa’bongian tersebut.

Jumlah baje’ yang dibuat dalam Pa’bongian diupayakan agar sesuai dengan perkiraan jumlah tamu yang akan datang, sekaligus yang akan dibawa pulang ke rumah masing-masing. Sebelum acara Pa’bongian dilaksanakan, biasanya para kerabat dan tetangga sektiar akan berkumpul di kediaman keluarga yang berduka untuk membuat makanan khas ini bersama-sama.

Inilah yang kemudian membedakan baje’ dalam masyarakat pattae’, dengan baje pada umumnya di masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Oleh karena selain dijadikan makanan khas, juga menjadi kebiasaan dalam tradisi masyarakat pattae’, khususnya tradisi ma’bongi atau pa’bongian.

Saat ini, baje’ bukan lagi hanya dibuat sebagai penganan khas dalam acara Pa’bongian. Bahkan dalam acara-acara adat lainnya, seperti Ma’pateka Doa’ (aqiqah) dan Mappabotting (acara pernikahan), makanan khas ini juga kerap hadir melengkapi sajian makanan di meja hidangan.

Membuat Baje’

Bahan dasar yang digunakan untuk membuat baje, antara lain: Beras ketan, gula merah, dan kelapa parut. Bahan-bahan itulah yang menjadi bahan dasar dalam membuat Baje. Adapun bahan tambahan lainnya yang sering dipadukan dengan bahan dasar tersebut, seperti durian, dan kacang tanah. Baje yang menggunakan bahan tambahan durian kemudian disebut baje durian, sedangkan baje yang dipadukan dengan kacang tanah disebut dengan baje’ kambu.

Proses membuat makanan khas ini sebenarnya sederhana. Namun, biasanya baje’ dimasak dengan menggunakan tungku yang besar dan harus diaduk terus menerus. Bila sesaat saja baje berhenti diaduk, maka biasanya baje akan menjadi gosong atau rasanya akan berubah. Oleh karena itu, biasanya diperlukan banyak orang untuk membuat makanan khas ini. Bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki yang akan bergantian menjaga bara dan mengaduk baje’ terus menerus sampai matang.

Jenis-Jenis Baje’

Baje’ yang umumnya disajikan dalam acara pa’bongian biasanya adalah baje yang tidak dipadukan dengan bahan tambahan lainnya. Berikut ini beberapa jenis baje yang dikenal dalam masyarakat Pattae:

Baje’ Baka – Agak berbeda dengan baje (baje biasa), jenis ini tidak menggunakan beras ketan dan kelapa. Baje baka hanya terdiri atas gula merah yang di didihkan kemudian dicampur dengan buah sukun.

Baje’ Tang Jaji – (Baje setengah matang). Baje ini sebenarnya matang dan sangat layak untuk dikonsumsi, namun karena proses pengadukannya tidak sampai mengental seperti baje pada umumnya makanya disebut baje tang jaji. Baje ini biasanya dibuat untuk acara-acara tolak bala, orang-orang terdahulu berharap bala/petaka tidak menimpa seseorang atau suatu kampung dengan membuat baje tang jaji.

Baje Tori’ – pada acara pernikahan khususnya ketika mempelai pria diantar ke rumah mempelai wanita untuk akad. Biasanya iringan pengantin membawa beragam jenis seserahan seperti peralatan rias, buah atau tanaman tertentu, dan berbagai jenis kue. Salah satu yang khas itu baje tori.

Baje’ Durian – Baje jenis ini hanya dapat dibuat pada musim durian, bahan dasarnya sama dengan baje lainnya, hanya saja pada Baje’ Durian ini, memiliki bahan tambahan yaitu buah durian, sehingga aroma yang terdapat dalam baje memiliki aromah durian. setiap tahunnya masyarakat Pattae memiliki musim buah-buahan, seperti lasse (langsat), lilamun (rambutan), dan durian.

Baje’ Canggoreng (Baje Kacang) – Baje jenis ini memiliki bahan dasar yang sederhana yang berbeda dengan baje lainnya. Baje Canggoreng ini hanya mencampurkan gula merah yang telah di cairkan, dan ditambahkan kacang tanah didalamnya.

Baje’ Kambu – Baje jenis ini memilki ciri khas tersendiri dalam pembuatannya. Baje’ Kambu menggunakan bahan dasar Air Nipa yang telah ditadah selama beberapa hari. Menggunakan tepung terigu dan kacang yang telah di tumbuk kasar. Setelah air nipa tersebut diambil dari pohonnya, air nipa itu harus langsung dimasak agar menghasilkan padatan gula yang disebut gula merah. Sebelum air nipa tersebut padat, terlebih dahulu dimasukkan tepung terigu dan kacang tanah yang telah ditumbuk kasar. Ini dilakukan agar bahan-bahan tersebut merata dengan padatan air nipa, sehingga dapat menghasilkan Baje Kambu.

Penutup

Baje merupakan penganan khas yang tahan lama. Oleh karena itu, dalam masyarakat Pattae baje kadang diberikan sebagai bekal kepada sanak keluarga yang akan bepergian jauh dari kampung halaman. Misalnya saja, ada yang akan pergi merantau atau mungkin mereka yang akan pergi menuntut ilmu (mahasiswa). Baje’ biasanya bisa bertahan antara 2 sampai 3 bulan lamanya. Oleh karena itu pula, sehingga banyak orang yang suka menjadikan makanan khas ini sebagai oleh-oleh.