Beranda Budaya Pattae Mappadendang, Warisan Leluhur Masyarakat Pattae’

Mappadendang, Warisan Leluhur Masyarakat Pattae’

290
BAGEI TOLAEN !
Kegiatan Mappadendang Masyarakat Pattae' Di Desa Mirring. Minggu 10/4/2017 (Foto: Noer)

PATTAE.com | Mirring- Kegiatan Mappadendang merupakan Kegitan secara turun-temurun dilakukan setiap musim panen Gabah tiba, hal tersebut juga merupakan salah satu warisan budaya leluhur masyarakat Pattae’ yang hingga sekarang, masih di jaga dan di lestarikan oleh Masyarakat Desa Mirring, Kec. Binuang, Polman. Kegiatan ini, diselenggarakan di desa Mirring, Senin (10/4/2017) malam hari.

Bagi masyarakat Mirring, Kegiatan Mappadendang tidak mesti dijalankan setiap tahunnya, ada saat-saat tertentu dimana kegiatan tersebut di laksanakan, seperti ketika terjadi gerhana matahari, gerhana bulan, dan juga pada saat musim panen tiba.

“Kegiatan mappadendang di Mirring bukanlah kegiatan yang serta merta dilaksanakan, mappadendang akan diadakan pertama, pada saat munculnya gerhana matahari maupun gerhana bulan, dan kedua pada saat musim panen padi tiba, itupun kalau ada warga yang telah bernazar kala padi yang dihasilkan sesuai dengan harapan petani. ucap Herman

Kegiatan Mappadendang tersebut juga akan dilaksanakan jika ada salah satu warga yang bernazar ketika hasil panen yang didapatnya, itu sesuai dengan harapan si petani

“jadi, warga yang mengadakan Mappadendang yaitu orang yang melepas nazar, baru mappadendang akan dikumandangkan di Desa Mirring”. tambahnya

Masyarakat Pattae’ yang ada di daerah Mirring, memiliki kepercayaan, apabila Nazar tersebut tidak dijalankan atau tidak dipenuhi, orang yang telah ber-Nazar sebelumnya, mendapatkan musibah seperti sakit, kecelakaan, tidak mendapatkan rezeki, dan hasil panennya selalu mengalami gagal panen.

Asal-muasal adanya Kegitan Mappadendang tersebut bersumber dari kegiatan masyarakat Pattae’ terdahulu dalam mengolah Gabah hingga menjadi beras, yang sampai sekarang masih dilakukan, dan di lestarikan, baik dalam bentuk yang sama dilakukan masyarakat Pattae’ terdahulu, maupun dalam bentuk lain.

Pada masyakarakat Pattae’ dahulu, menggunkan alat yang masih terbilang tradisional dengan menggunakan lesung (masyarakat Pattae’ menyebutnya Issong) yang terbuat dari kayu berukuran sekitar 2,5 sampai 3 Meter panjangnya, dan berbentuk seperti perahu. Lesung/Issong tersebut digunakan sebagai wadah yang didalamnya terdapat tumpukan gabah yang siap untuk di tumbuk hingga berbentuk beras

Alat tradisional lainnya yang digunakan, disebut “Alu”, alat tersebut juga terbuat dari kayu berbentuk seperti tongkat lurus, dengan panjang sekitar 1,5 sampai 2 meter, berfungsi sebagai penumbuk Lesung yang sebelumnya telah di isi gabah.

Mappadendang dalam pelaksanaannya, di kerjakan sebanyak 14 orang, terdiri dari 8 Perempuan dan 6 laki-laki dimana posisi Perempuan berada di tengah, dan Laki-laki berada di samping kiri dan kanan, lalu kemudian menumbuk-numbuk Lesung secara bergantian sehingga menghasilkan nada irama yang berbeda-beda namun terdengar sangat menarik, ditambah lagi si laki-laki menumbuk padi sembari menari-nari sehingga kita tidak bosan untuk melihatnya.

Bukan hanya itu,  tradisi Mappadendang, juga menyediakan sesajian seperti kue tradisional khas masyarakat Pattae’ seperti kue yang terbuat dari Gula merah cair bercampur telur, Sokko’ (Makanan Khas yang terbuat dari beras ketan dicampur santan kelapa parut), Lemang, dan penyembelian ayam untuk di masak, dan disantap secara bersama-sama setelah Mappadendang selesai di gelar. Sesajian tersebut merupakan keharusan dalam tradisi Mappadendang sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Pattae’ di Mirring Kepada Sang Pencipta, Allah SWT.(*)