Beranda Opini Membukukan Sejarah Pattae’ dengan Beragam Versi

Membukukan Sejarah Pattae’ dengan Beragam Versi

397
BAGEI TOLAEN !
Membukukan Sejarah Pattae dengan Beragam Versi
Membukukan Sejarah Pattae dengan Beragam Versi

Sejarah pattae, serupa dengan sejarah masyarakat lainnya memanglah sangat penting untuk diperkenalkan, ditulis, dan dibukukan. Tentu saja agar menjadi sumber pembelajaran untuk generasi-generasi selanjutnya. Hingga saat ini,tidak ada satupun yang bisa atau berani menulis sejarah Pattae’[1]. Padahal generasi muda kita saat ini, membutuhkan sumber sejarah tentang pattae yang dikumpulkan dari beragam macam versi agar dapat memahami kejadian-kejadian di masa lalu.

Untuk mengungkap kebenaran sejarah Pattae’, kita harus menghilangkan rasa ketakutan akan adanya kekhawatiran yang muncul. Menurut saya ketakutan itu adalah hal berlebihan. Misalnya ketakutan akan terpecah belahnya suatu kelompok masyarakat karena mengetahui sejarah nenek moyang mereka, dimana ternyata sejarah tersebut memojokkan atau menjatuhkan suatu kelompok dalam masyarakat tersebut.

Mempublikasikan Sejarah Pattae

Mengapa sejarah pattae’ perlu untuk dipublikasikan?. Atau mungkin dicatatkan dalam satu bentuk literatur, buku, dan sebagainya? Meskipun dengan demikian, kita akan menemukan beragam macam versi sejarah pattae. Itu merupakan suatu hal yang wajar saja terjadi dan kita harus sudah mulai merani menulis beragam versi tersebut. Tidak ada alternatif lain, kecuali mengumpulkan dan membukukan sejaran tersebut agar tetap terjaga dan bisa menjadi bahan atau rujukan sejarah yang bisa di terima secara umum.

Saya pernah membuka salah satu situs yang mengumpulkan data-data yang ada di dunia seperti situs wikipedia [2]. Saya mencoba mencari suku-suku apa saja yang terdapat dipulau Sulawesi ini. Ternyata, dari situs tersebut terdapat sekian banyak suku atau etnis di Sulawesi. Dalam daftar tersebut, pattae’ juga tercatat sebagai salah satu suku yang mendiami tanah Sulawesi ini. Namun, hanya tertulis Pattae’ dan tidak memiliki dokumen atau penjelasan apapun didalamnya. Hal ini yang kemudian membuat saya merasa perluuntuk menulis suatu seruan yang bersifat provokatif ini, agar masyarakat kita yang memahami, bisa membuka sejarah Pattae’ yang sebenar-benarnya. Sejarah pattae tidak perlu disembunyikan karena kekhawatiran akan adanya perpecahan, sehingga hanya segelintir orang saja yang tahu soal kebenaran sejarah pattae tersebut.

Kekhawatiran ini mestinya sudah mulai diminimalisir mulai dari sekarang. Pahit manisnya, kelam atau tidaknya sejarah itu, tetap harus di ungkap. Sejarah pattae seharusnya diketahui oleh generasi muda pattae, agar mereka bisa belajar dari sejarah mereka.

Banyak penulis sejarah sekarang ini, atau bahkan penulis sejarah sebelumnya, yang menuliskan sejarahnya berdasarkan pada kepentingan penulis. Mereka menulis sejarah hanya dalam satu versi atau dari satu sumber. Menurut saya, hal ini adalah merupakan tindakan yang wajar-wajar saja. Soal kevalidan sejarahnya, kita akan buktikan dengan melalui data atau situs peninggalan-peninggalan sejarah melalui penelitian.

Penelitian Situs Sejarah Pattae

Tulisan ini, hanyalah merupakan suatu ajakan agar mereka yang memahami sejarah pattae, berani untuk mengungkapnya dan menulis sejarah yang sebenar-benarnya sesuai dengan kejadian pada masa lampau tanpa ada yang disembunyikan. Mungkin, dari sekian banyaknya masyarakat pattae’, yang tersebar di beberapa wilayah atau desa di Sulawesi barat atau bahkan di luar Sulawesi barat, ada yang mampu untuk menuliskan sejarah pattae’.

Sebenarnya cukup banyak kalangan masyarakat pattae yang cukup memahami atau memiliki pengetahuan tentang sejarah masyarakat pattae. Namun, hanya sepotong-sepotong. Pengetahuan yang tidak lengkap ini, seharusnya disatukan dengan sumber-sumber sejarah lainnya agar lebih komplit dan utuh. Keterlibatan setiap kepala desa yang di diami mayoritas masyarakat pattae’ tentunya juga diharapkan dalam mengungkap dan membukukan sejarah ini. Misalnya dengan memberikan informasi atau menjaga atau memfasilitasi penelitian pada setiap peninggalan-peninggalan masyarakat pattae terdahulu.

Peninggalan tersebut seperti Eran Batu, Batu Pikkambuangan, singgasana sang Raja Tobarani yang terdapat di daerah penanian, dan lain sebagainya. Inilah sumber sejarah masyarakat pattae yang harus diteliti kebenarannya. Apakah benar situs-situs tersebut merupakan peninggalan sejarah ataukah hanya cerita kosong belaka. Sampai sekarang ini, saya hanya bisa menyimpulkan bahwa semua bukti sejarah itu belum sepenuhnya memiliki kebenaran sesuai dengan hasil penelitian.

Mengapa masayarakat Bugis, Makassar, Toraja, Mandar dan kurang lebih 1.300[3] etnis/suku bangsa di Indonesia ini di akui keberadaannya?. Itu karena mereka menulis sejarahnya, serta membuktikannya dengan hasil penelitian dari berbagai peninggalan-peninggalan masyarakatnya yang terdahulu. Apakah kita masyarakat Pattae’, berani untuk mengadakan suatu penelitian akan kebenaran sejarah pattae’?

Pertanyaan tersebut diatas bukan berarti saya meragukan keberadaan masyarakat Pattae’ sebagai salah satu etnis yang mendiami wilayah Sulawesi. Namun untuk membuktikan dan mempublikasikannya, tentunya membutuhkan pembuktian melalui penelitian seperti mengukur usia dari berbagai artefak, dan alat-alat yang dianggap merupakan peninggalan dari masyarakat Pattae’ terdahulu. Sangat perlu untuk mengumpulkan sejarah yang terpotong-potong itu, dari berbagai versi untuk di tulis, dan dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang utuh.

Harapan Kita

Menjaga suatu sejarah bukan hanya mengandalkan pesan-pesan secara lisan ke beberapa generasi penerus, atau ahli waris yang telah ditunjuk untuk menyampaikan sejarah Pattae’. Sejarah pattae harus ditulis agar tidak melenceng dari sejarah yang sebenarnya dan dapat diyakini kebenarannya. Sudah saatnya budaya, dan sejarah masyarakat Pattae’ diketahui oleh masyarakat secara luas. Sejarah pattae itu dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi penerus tentang kehidupan bersosial, tentang budaya, serta adat-istiadat yang berlaku di masyarakat Pattae’.

Privatisasi pengetahuan di segelintir masyarakat Pattae’ yang mengetahui sejarah, dan meyakini versi sejarah masing-masing, merupakan hal yang sudah seharusnya dikesampingkan. Intrik dan semacamnya telah menjadi viral di kalangan Tomakaka[4] kita yang tahu tentang asal-usul masyarakat Pattae’. Hal tersebut harus di selesaikan sesegera mungkin, dan itu merupakan tugas generasi muda sekarang mengumpulkan dan menyatukan beragam versi tersebut.

Semoga tulisan ini dapat memberikan dorongan bagi kita semua untuk bergegas mengumpulkan sejarah pattae yang terpenggal-penggal dalam berbagai versi. Kita berharap agar sejarah pattae tidak hilang dan hanya akan menjadi cerita dogeng semata, yang bisa membuat kita tertidur dan melupakan cerita kehebatan nenek moyang masyarakat Pattae’.

Dengan mengungkap sejarah Pattae’ ini merupakan salah satu bentuk penyatuan ragam suku/etnis di Indonesia yang memiliki saling keterkaitan antar satu suku bangsa yang tidak terpisahkan. Semoga harapan dan keinginan dalam tulisan ini bisa tercapai. Penulisan sejarah pattae juga akan berguna untuk melengkapi sejarah Bangsa Indonesia yang beraneka ragam etnis atau suku. Oleh karena bagaimanapun juga, etnis Pattae’ merupakan satu dari sekian banyaknya etnis yang ada di negara ini.

Mengakhiri tulisan ini, saya akan mengutip kata dari kata salah seorang seniman Inggris bahwa “mereka yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, maka mereka akan ditakdirkan untuk mengulanginya”, George Santayana (1863-1952). Bagaimanapun itu, sejarah harus di tulis.

– Catatan Kaki –

[1] Pattae’ adalah salah satu suku/etnis yang mendiami wilayah Sulawesi Barat, berbatasan dengan wilayah Pinrang (Sulawesi selatan)

[2]Wikipedia.org adalah salah satu situs yang menyediakan berbagai keterangan atau uraian tentang berbagai hal di berbagai bidang pengetahuan, seperti seni, politik, ekonomi, sejarah, dan lain sebagainya.

[3] Suku bangsa di Indonesia, 2014, https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_bangsa_di_Indonesia, diakses 2017

[4] Tomakaka adalah penamaan untuk satu tokoh masyarakat, atau yang dituakan di masyarakat Pattae’