Beranda Kepemudaan Mencari Jejak Sejarah “Betteng” Desa Kunyi

Mencari Jejak Sejarah “Betteng” Desa Kunyi

264
BAGEI TOLAEN !
Mencari Jejak Sejarah Betteng Desa Kunyi
Betteng atau Benteng disebut sebagai benteng pertahanan masyarakat dahulu

Betteng, merupakan bagian dari sebuah sejarah di Desa Kunyi. Sejarah merupakan peristiwa masa lampau dari suatu peradaban manusia dan mempunyai cerita atau kisah tersendiriyang memberi warna bagi dinamika kehidupan pada suatu masa. Begitupun dengan Desa Kunyi, yang memiliki ragam sejarah yang mana salah satunya terdapat “Betteng” Kunyi dan masih banyak lagi jejak sejarah-sejarah peradaban masyarakat pendahulu. Dengan diselimuti rasa penasaran, salah satu organisasi pemuda yang berada di Desa Kunyi (Forum Pemuda Desa Kunyi) berinisiatif melaksanakan agenda tentang observasi jejak sejarah desa dan potensi pengembangan.

Beranjak dari agenda tersebut, dan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu, maka “Betteng” kunyi menjadi salah satu dari beberapa situs sejarah yang menjadi target observasi utama para pemuda. Mungkin para pembaca akan penasaran apa yang di maksud dengan “Betteng”.

Istilah Betteng

Betteng kunyi, dalam bahasa Indonesia “Betteng” berarti Benteng. Istilah tersebut dapat di artikan sebagai tempat pertahanan masyarakat pada masa lampau. Sedangkan kunyi sendiri, disini diartikan sebagai nama wilayah atau desa atau kampung yang berada di Kec. Anreapi, Kab. Polman, Provinsi Sulawesi Barat.

“Betteng” Kunyi merupakan sebuah situs peninggalan sejarah yang terletak di Tombang Kariango, Desa Kunyi. Posisinya terletak di sebelah utara perkampungan. Tepatnya di sisi utara persawahan kunyi dan berdekatan dengan salu (sungai) boka.

“Betteng” Kunyi adalah tempat pertahanan yang tersusun dari bebatuan yang tertata rapi. Masa kejayaannya, yaitu pada masa feodalisme (masa kekerajaan). Pada masa itu, “Betteng” kunyi tersebut dipimpin oleh golongan bangsawan atau dalam sebutan etnis pattae sebagai “Tomakaka”. Seperti feodal-feodal dalam sejarah di daerah lain, feodal kunyi pada dasarnya juga memiliki banyak lahan pertanian di masa itu. Dimana penggarapan lahan pertanian dikerjakan oleh pekerja, yang oleh masyarakat kunyi disebut sebagai “Sabuan” (pekerja). Menjadi seorang “Sabuan” adalah salah satu prioritas utama masyarakat kunyi untuk bertahan hidup. Sistem kepemimpinan yang diterapkan semasa berdirinya “Betteng” Kunyi adalah sistem monarki. Itu artinya, kepemimpinan diwariskan secara turun temurun dari golongan bangsawan atau keturunan Tomakaka.

Dimasa itu juga masyarakat sekitar masih minim tentang agama, bahkan banyak diantanya belum memiliki agama. Seiring dengan gerak dialektika zaman, agama mulai masuk dibawah oleh pemuka-pemuka agama. Hingga tiba saat masuknya sistem pemerintahan ke pelosok-pelosok desa, sembari memudarnya ketenaran “Betteng” Kunyi.

Hingga masa kini, “Betteng” dan sejarahnya hanya tinggal sebuah nama. Bahkan generasi sekarang banyak yang tidak mengetahui tentang “Betteng” kunyi yang pernah berjaya pada masanya tersebut. Forum Pemuda Desa Kunyi dengan semangat kepemudaan yang serba ingin tahu, berinisiatif untuk mengunjungi tempat “Betteng” tersebut dan menggali sejarahnya sedikit demi sedikit.

Menelusuri Jejak Sejarah Betteng

Dalam petualangan Forum Pemuda Desa Kunyi (FPDK) ke “Betteng” Kunyi dengan menggunakan sepeda motor dan akses jalan lumayan menguji adrenalin, namun semua itu tidak menyurutkan semangat para pemuda yang berkobar, dan di selimuti rasa penasaran. Di perjalanan kami juga mendapat banyak inspirasi dari pemandangan pepohonan dan persawahan masyarakat sepanjang jalan.

Sesampainya di tempat tujuan “Betteng” kunyi, di jumpai beberapa peninggalan sejarah namun sebagian dari situs sejarah tersebut sudah mulai terkikis, seperti susunan bebatuan yang diambil oknum-oknum dan dialih fungsikan.

Sekiranya peninggalan sejarah tersebut bisa di lestarikan melalui gerakan pemuda, masyarakat, atau pemerintahan. Karna bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarahnya dan abadinya suatu sejarah adalah ketika sejarah tersebut dirangkai dalam bentuk tulisan.