Beranda Sejarah Pattae Jejak Sejarah Peninggalan Belanda di Desa Kunyi

Jejak Sejarah Peninggalan Belanda di Desa Kunyi

213
BAGEI TOLAEN !
Jejak Sejarah Peninggalan Belanda di Desa Kunyi
Jejak Sejarah Peninggalan Belanda di Desa Kunyi

Jejak sejarah peninggalan Belanda di Desa Kunyi ini merupakan tulisan yang bersumber dari blog pribadi Zulfiadi. Tulisan tersebut kami tulis kembali sesuai aslinya yang berjudul “Ekpedisi Kunyi” dengan beberapa perbaikan. Pembuat tulisan telah memberi izin agar tulisan ini dapat dimuat di Media Pattae. Selamat membaca.

Matakali, 18 Februari 2017, berawal dari postingan facebook tentang sebuah mesjid tua di dusun Kunyi, kelurahan Anreapi. Saya dan Yusri, seorang kawan yang berprofesi sebagai jurnalis ingin menjajaki seberapa tua kira-kira mesjid tersebut. Namun kesibukan sebagai penyelenggara pemilihan Gubernur Sulawesi Barat periode 2017-2022 tidak memberi kesempatan untuk segera menindaklanjuti temuan tersebut. Olehnya itu, barulah pada hari Sabtu tanggal 18 Februari 2017 menjadi waktu perjanjian kami untuk bertemu dan bersama-sama menuju ke lokasi. Mujahidin Musa yang juga rencananya ikut berekspedisi, batal karena sesuatu hal teknis, maka perjalanan itu kami lakukan berdua saja.

Perjalanan Menelusuri Jejak Sejarah

Sinar mentari cukup panas memanggang mengantar perjalanan kami menyusuri jalan poros Polewali-Mamasa yang relatif bagus. Namun hal itu tak berlangsung lama sebab hawa sejuk pedesaan segera menyambut kami begitu memasuki wilayah kelurahan Anreapi. Kelurahan ini jaraknya memang tidak begitu jauh dari kota Polewali. Jalanan yang meski agak sedikit menanjak namun cukup mulus dan tidak menyulitkan si Sushi (Suzuki Smash Hitam) tua yang kukendarai untuk melewatinya. Jalan poros yang diapit oleh bukit berhutan di sisi kanan dan sungai Lantora di sisi kirinya menyajikan kesejukan dan kedamaian.

Mesjid Tua Kunyi

Tidak berapa lama kemudian kami sampai di rumah kepala dusun Kunyi. Kami mendapatinya sedang memperbaiki pagar pekarangan. Kami menghampirinya dan jadilah kami berbincang di depan rumah beliau yang berada persis di tepian sungai dengan banyak bebatuan. Dalam fikirku, pasti asyik jika di sungai ini ada wisata olah raga arung jeramnya. Tepat di seberang sungai depan rumah pak kepala dusun itulah, mesjid yang diduga berusia paling tidak 3 atau 4 abad itu berada. Namun ternyata struktur dan bangunan mesjid tidaklah setua dugaan saya.

Meskipun arsitekturnya masih menyisakan gaya lokal dengan atap bersusun, namun bahan yang digunakan menunjukkan jika bangunan itu belumlah mencapai usia seabad. Menurutnya, mesjid tersebut pada awalnya dibangun oleh kakek dari imam terakhir mesjid yang diberi nama “Mesjid Alauddin” dan telah meninggal sekitar tahun 1988. Dari informasi itulah saya mencoba menebak dengan perhitungan generasi bahwa mesjid tersebut dibangun sekitar awal 1900. Dugaan itu kemudian dikuatkan dengan cerita pak dusun bahwa bangunan itu telah di pugar pada tahun 70-an dan tidak menyisakan struktur asli. Mengetahui kenyataan itu, kami berdua tak berlama-lama lagi berada di lokasi dan bermaksud pulang ke rumah masing-masing.

Di tengah perjalanan, Yusri memberitahu bahwa di belakang PUSTU (Puskesmas Pembantu) Anreapi ada bekas bangunan yang menurutnya sudah tua. Sisa bangunan itu sempat ia lihat ketika meliput kebakaran hutan pada bulan Oktober tahun 2015 lalu. Ia meminta pendapat saya, apakah saya mau melihatnya atau tidak. Tanpa pikir panjang saya lalu meng-iya-kannya. Jadilah kami melewati jalan setapak di samping rumah penduduk menuju kaki bukit. Berjarak sekitar 50 meter dari rumah penduduk kami memarkir kendaraan, sementara di depan kami nampak bangunan-bangunan mirip pilar tersembunyi oleh semak-semak dan rerumputan liar.

Jejak Sejarah Peninggalan Belanda

Pada mulanya saya menyangka bahwa bangunan yang berada di titik koordinat -3.387986, 119.355877 itu adalah bekas pintu gerbang, sebab awalnya hanya dua yang nampak oleh saya. Nantilah beberapa saat baru Yusri menunjukkan bahwa “pilar-pilar” tersebut rupanya berjejer, termasuk dua yang sudah tumbang. Segera saya turun ke bagian tengah yang memang agak rendah, meneliti pilar-pilar itu satu persatu. Mengamati barisan pilar yang makin ke tepi makin pendek sementara bagian atasnya masih sama tinggi. Salah satu sisi lokasi tidak terdapat barisan pilar. Saya berasumsi bahwa bagian dinding timur serta sebagian bangunan lainnya itu telah tertutup oleh longsoran tanah perbukitan yang ada di sampingnya.

Pilar yang berbentuk segi empat itu pada bagian ujung atasnya berukuran 60 cm x 50 cm. dan makin ke bawah makin besar. Jumlah keseluruhan pilar adalah 25 dengan jarak antar pilar adalah 250 cm. 5 pilar di antaranya berada di sisi selatan, 5 di utara dan 15 di sisi barat yang merupakan bagian memanjang dari struktur bangunan. Pilar-pilar itu dihubungkan dengan sebuah dinding batu dengan ketebalan 30 cm. Sebagiannya sudah hancur. Pilar yang saya ukur dari sisi luar yang berada di sebelah utara dan berdiri tepat di tepi sungai kecil (selokan air) mempunyai ketinggian 280 cm. sementara yang paling pendek di sebelah selatan setinggi 150 cm dari permukaan tanah.

Mengukur tinggi dinding dari permukaan tanah yang masih nampak
(Photo: Yusri)

Saya berasumsi jika dinding bangunan itu dulunya berketinggian 3 meter, cukup tinggi untuk disebut benteng. Bisa juga arsenal atau gudang senjata bahkan bisa pula keduanya. Konon di samping struktur itu pernah pula ditemukan beberapa pucuk senjata api ketika masyarakat melakukan penggalian untuk sumur umum.

Di bagian dalam, nampak sebuah barisan batu yang direkatkan. Jika benar tersambung hingga ke bawah tanah, bisa jadi merupakan sebuah dinding yang membentuk sebuah ruangan dalam, mungkinkah itu kamar?.

Jejak Sejarah Membuat Penasaran

Salah satu pilar, dibuat dari konstruksi batu karang. (Photo: Yusri)

Hal yang membuat saya tidak habis pikir kemudian adalah kenapa struktur bangunan itu dibuat dari batu karang?. Sementara di daerah tersebut ketersediaan batu kali yang sangat bagus untuk bangunan cukup melimpah dan mudah didapati. Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala saya.

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada sedikitpun kemungkinan jawaban yang saya dapatkan. Rasa penasaran itu pula yang mengantarkan saya hingga pulang dan menyelesaikan perjalanan menelusuri jejak sejarah dalam ekspedisi Kunyi bagian pertama ini. Tentunya bersama sebuah harapan bahwa semoga gubernur Sulawesi Barat yang baru bisa memperhatikan keberadaan atau jejak sejarah yang ada di kabupaten Polewali Mandar sehingga Polewali Mandar tak kehilangan sejarahnya kelak.

Demikian artikel mengenai Jejak Sejarah Peninggalan Belanda di Desa Kunyi, anda juga dapat membaca artikel tentang jejak sejarah yang berjudul Mencari Jejak Sejarah Betteng di Desa Kunyi. Akhir kata, semoga artikel tentang jejak sejarah peninggalan belanda ini dapat bermanfaat bagi kita semua.