Beranda Budaya Pattae Mengenal Beladiri Manca’ Etnis Pattae

Mengenal Beladiri Manca’ Etnis Pattae

278
BAGEI TOLAEN !
Gambar ilustrasi diambil dari situs koranbogor.com (2015)

PATTAE.com | Manca’ merupakan bentuk beladiri yang dimililiki masyarakat pattae. beladiri ini merupakan bekal bagi para perantau agar dapat pempertahankan dirinya, berjaga-jaga, bila suatu saat di kampung rantau nantinya mendapat serangan seperti perampokan dan sesuatu yang dapat mengancam dirinya dari bentuk kejahatan lain.

Sekarang ini, Bukan hanya yang hendak beranjak merantau (Massompa) nantinya dibekali beladiri Manca’ tersebut namun, mulai remaja sampai orang dewasa kini telah mempelajari beladiri khas pattae ini dari sang Halipah (guru Manca’) dengan beberapa syarat tentunya.

Halipah ini merupakan nama julukan bagi sang pewaris sah Manca’ sekaligus orang yang secara legal sesuai tradisi turun-temurun, dapat menurunkan atau mentransformasikan ilmu beladiri manca’ yang dimilikinya kepada orang lain.

Dulunya, tidak semua orang/kalangan diajarkan beladiri Manca’ tersebut, hanya beberapa orang tertentu saja seperti orang yang berniat untuk merantau yang dapat diajarkan beladiri tersebut.

Kehati-hatian para halipah ini disebabkan karena adanya kekhawatiran bila suatu saat nanti menucul sifat sombong, angkuh, para murid karena sudah merasa jago silat dan pada akhirnya menantang siapa saja yang ingin dia lawan. hal ini sangat dilarang keras dalam beladiri Manca’ dan merupakan syarat mutlak untuk tidak dilakukan jika ingin mempelajari beladiri Manca’ tersebut.

Selain beladiri Manca’, ada juga beladiri yang disebut Medang. beladiri ini tidak jauh berbeda dengan manca’. Mammedang, biasa kita liat secara gratis di saat pertunjukan silat tradisional dengan gerakan-gerakan indah seni beladiri (Bunga-bunga), sedangkan Manca’, lebih kepada trik-trik rahasia yang tidak boleh di pertontonkan secara umum.

Perbedaannya adalah jika Medang, diawali dengan bunga-bunga atau gerakan sini beladiri dan biasa dipentaskan, sedangkan Manca’ tanpa ada gerakan-gerakan awal, namun langsung menyerang dengan gerakan mematikan yang disebut taman mesa, taman dua.

Syarat Mendapat Ilmu Beladiri Manca’

Beladiri Manca’, untuk dapat diterima sebagai murid harus menerima dan memenuhi beberapa syarat dari sang halipah. Syaratnya adalah pertama, calon murid harus dengan niat suci belajar beladiri tersebut tanpa dasar dendam kepada orang lain, dan kedua, sesama murid tidak dibolehkan bermusuhan apalagi sampai meneteskan darah sesama murid.

Syarat tersebut diatas memiliki nilai filosofis bagaimana kehidupan masyarakat pattae yang cinta damai, namun tetap memiliki prinsip siri’ bahwa masyarakat pattae jika secara harkat dan martabat di injak-injak pastinya juga akan melawan. mendahulukan nilai-nilai kemanusian untuk saling menjaga, meminimalisir konflik antar sesama tanpa mencari permusuhan menjadi hal penting untuk dipegang teguh.

Selain syarat diterima sebagai murid, ada juga syarat-syarat lain setelah diterima sebagai murid yaitu mengikuti prosesi Mappatamma. prosesi ini merupakan penutupan dari latihan beladiri manca’ selama beberapa bulan, hal ini sama halnya layaknya mahasiswa setelah lulus kuliah tentu ada prosesi wisudah, begitupun dengan Manca’, ada prosesi kelulusannya.

Pada prosesi Mappatamma ini, masing-masing murid yang sudah dianggap mahir dalam beladiri Manca’ tentunya harus menyediakan satu ekor ayam jantan yang siap untuk di sembeli, dan satu jeruk nipis dan satu jarum jahit.

Untuk Ayam jantan ini merupakan simpol kejantanan, aerta keberanian setiap murid, dan jeruk nipis ini untuk diambil airnya lalu kemudian diteteskan kedalam kedua mata melalui jarum benang, hal ini merupakan azimat dan berfungsi menajamkan penglihatan para murid jika berhadapan dengan lawan nantinya.

Selain syarat dan tradisi diatas, ada juga dalam prosesi mappatamma Manca’ yaitu setiap murid diharuskan menelan langsung tanpa mengunyah ketan yang telah di remas berbentuk bulat yang besarnya sebesar kelereng. hal ini, menurut para halipah, ketan yang ditelan tadi berfungsi untuk ketahanan tubuh.

Setelah prosesi dilalui, masuklah pada prosesi latihan terakhir dengan menggunakan parang asli, dan badik, maka dicobala ketangkasan, dan kelincaan para murid, sejauh mana mereka menerima betul apa yang telah diajarkan.

Sejarah Lahirnya Manca’ Etnis Pattae

Melacak sejarah datangnya bela diri Manca’ di tanah pattae, belum bisa dipastikan siapa sebenarnya pembawa pertama silat tersebut, namun, dalam cerita para Halipah mengatakan orang pertama yang membawa silat manca’ adalah orang perantau dari tanah bugis

Perantau ini kebetulan lewat di suatu kerumunan warga yang sedang menonton orang latihan beladiri Mammedang. di lokasi itu, si perantau ini mengomentari latihan bela diri tersebut dengan nada menggampangkan lalu, ada salah satu warga yang mendengarnya dan mengikuti kemana perginya si perantau tersebut.

Setelah ditemuinya warga pattae yang mengikutinya tadi meminta sang pengembara tani untuk diajarai beladiri, karena warga yang mengikutinya memiliki firasat bahwa orang perantau ini memiliki ilmu beladiri yang lebih handal maka iapun langsung memintanya diajari beladiri yang disebut Manca’.

Dari situlah awal mula beladiri Manca’ ada di tanah pattae dan berkembang hingga saat ini.

Beladiri Manca’ tidak pernah bertujuan untuk mencari musuh, akan tetapi persaudaraan melalui syarat-syarat untuk mempelajari manca tersebut. jika kita melanggar syarat itu, diyakini akan berakibat fatal bagi orang yang melakukannya, bahkan sampai berakibat pada hilangnya jawa.

Karena itu, sangat dilarang keras orang yang sudah berlatih beladiri manca’ bermusuhan para sesamanya (orang yang telah belajar manca’) meskipun beda halipah (guru).(*/)**