Beranda Budaya Pattae Mengenal Tomakaka Masyarakat Etnis Pattae’

Mengenal Tomakaka Masyarakat Etnis Pattae’

489
Mengenal Tomakaka dalam masyarakat etnis pattae
Photo bersama pemangku adat dan kepala desa Batetangnga dari samping kanan, H. Hasan Dalle (ketua Lembaga Adat Batetangnga), H. Majid (anggota Lembaga Adat), Muh. Said (kepala Desa Batetangnga), H. Abd. Muttalib (Anggota Lembaga Adat). Foto: Achi Proletariat

PaTTaE.com | Mengenal Tomakaka  tentu menjadi sebuah keharusan bagi masyarakat etnis Pattae yang masih menjunjung tinggi dan menjalankan norma-norma adat istiadat etnis Pattae.

Jauh sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia Serikat (RIS) 1945. sudah ditemukan bentuk, dan struktur masyarakat adat di berbagai wilayah Nusantara yang masih berlaku hingga sekarang.

Dalam masyarakat etnis Pattae, struktur masyarakat adat ini, dikenal dengan“Tallu Lipu” (Tiga Pilar) salah satunya disebut Tomakaka. Mungkin masih banyak orang yang tak mengetahui siapa yang dimaksud dengan Tomakaka, baigamana ia dilantik, dan siapa yang berhak melantik.

Pada artikel ini, penulis fokus pada satu pembahasan, yaitu Tomakaka. Struktur masyarakat adat ini, berfungsi menangani perkara sosial, batas-batas wilayah, serta ekonomi dan adat istiadat masyarakat Pattae. Berikuti ini, penulis mencoba menjelaskan dari berbagai sumber agar lebih mengenal Tomakaka.

Mengenal Tomakaka

Tomakaka, berasal dari dua suku kata yaitu, “To” dan “Kaka”. “To” dalam bahasa etnis Pattae berarti suatu kata tunjuk seseorang. Adapun arti kata “Kaka” yaitu, sebagai panutan. Jadi Tomamaka  dapat diartikan sebagai orang yang menjadi panutan / penentu dalam satu masyarakat adat.

Menjadi Tomakaka tidaklah sembarang orang, ia harus memenuhi syarat adat yang ditentukan jika ingin menjadi Tomakaka. Apa saja syaratnya? Berikut kami ulas secara ringkas.

Menurut Ketua Adat Desa Batetangnga, Hajji Hasan Dalle mengatakan, syarat untuk menjadi Tomakaka harus memenuhi tujuh pensyaratan yaitu; Mallampu, Tae Mappakka Lilana, Kakai Atinna, Kakai Kedona, Kakai Pa’gaukanna, Kakai Pikkitanna, dan yang terkahir Bija Ada’ (merupakan keturunan Tomakaka).

Setelah memenuhi syarat tersebut diatas, barulah kemudian dilantik sebagai Tomakaka secara adat. Pelantikan ini dilakukan oleh panitia adat yang dalam masyarakat Pattae disebut Ana’ Pattola Wali.

Dihadiri Imang (Tokoh Agama), Kapala (Pemimpin Kampung) dan masyarakat adat. Barulah kemudian dilakukan pelantikan Tomakaka dengan mengucapkan ikrar. Berikut sumpah yang di ucapkan Ana’ Pattola Wali kepada Tomakaka saat pelantikan berlangsung.

“Tumeteko Ditetean Mallampu’, Mattulako dio Tula’ Makkeada, Ma’gaukko dio Gauk Disenga, Annassabai; Lolong Wai. Miccollikki Kaju. Kirambu-rambui Apinna Pabanua”.

“Melangkahlah dijalan yang benar, Berucaplah dengan sebenar-benar ucapan,  Berprilakulah dengan meninggalkan kesan yang baik, Sehingga menyebabkan; Rejeki terus mengalir, Kehidupan masyarakat terjaga. Masyarakat tak ada yang kelaparan”.

Setelah ikrar pelantikan telah di ucapkan. Ana’ Pattola Wali, Kemudian memperkenalkan sang Tomakaka yang baru dilantik kepada masyarakat dengan mengucapkan:  

“Pakkitami Mai, Pinnassai Tongan-tongan, Iyamo Te’e Tommala Jujung Bunga Uttandere Katonganan”

“Lihatlah, dengan sejelas-jelasnya, inilah (Tomakaka) yang mampu menjalankan tugas dan fungsi dengan sebenar-benarnya”

Setelah Ana’ Pattola Wali mengucapkan kalimat diatas, lalu kemudian giliran sang tomakaka yang baru dilantik memperkenalkan diri dengan mengucapkan:

“Pakkitami Mai, Pinnassai Tongan-tongan Mattuka Iyannamo Te’e Tommala Jujung Bunga Uttandere Katonganan”

“Lihatlah, dengan sejelas-jelasnya, inilah saya (Tomakaka) yang akan menjalankan tugas dan fungsi Tomakaka dengan sebenar-benarnya”

Setelah pelantikan dan pekenalan dilakukan, Ana’ Pattola Wali  kemudian memberikan satu simbol berupa Kalosi (Buah Pinang), Daun Boulu (daun siri). Kedua simbol tersebut kemudian diletakkan dalam satu wadah Panne Bassi (piring yang terbuat dari besi), kemudian di bungkus dengan kain berwarna biru.

Simbol inilah kemudian diserahkan oleh Ana’ Pattola Wali kepada Tomakaka untuk dijaga selama menjabat. Jika melanggar ikrar pelantikan, simbol Tomakaka-an dikembalikan ke Ana’ Pattola Wali dan posisi sebagai Tomakaka pun dicabut.

Begitulah penjelasan singkat tentang Tomakaka, dan bagaimana ia dilantik. Semoga dengan adanya tulisan diatas ini, masyarakat pattae, khususnya generasi pemuda pattae dapat mengenal Tomakaka lebih dekat.(Tato)*