Beranda Budaya Pattae Musim Buah dan Tradisi Mangngonggo Masyarakat Pattae

Musim Buah dan Tradisi Mangngonggo Masyarakat Pattae

488
Photo Ilustrasi

PATTAE.com | Masyarakat suku Pattae’ yang hidup di bagian barat pulau Sulawesi, dikenal bukan hanya memiliki musim hujan, kemarau, dan musim kawin. Ada juga musim yang disebut musim buah-buahan. Musim buah-buahan diwilayah tersebut biasanya, tiba saat terjadinya proses transisi, antara berahkirnya musim kemarau dan datangnya musim hujan. Kira-kira seperti itu.

Datangnya musim buah, tentu menjadi kesyukuran tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Pattae. Salah satu bentuk kesyukuran datangnya musim buah, bagi masyarakat Pattae, yaitu dikenal dengan tradisi “Mattammu Buah” atau ucapan rasa syukur, sekaligus menyambut datangnya musim buah-buahan.

Selain tradisi “Mattammu buah”, ada juga tradisi yang sering dilakukan oleh masyarakat Pattae setiap kali musim buah tibah, dan biasanya dilakukan pada pertengahan atau penghujung musim buah. Tradisi tersebut, oleh masyarakat Pattae disebut sebagai “Onggo” atau “Mangngonggo”.

Kata “Onggo” ini adalah sebuah istilah masyarakat Pattae pada zaman kekerajaan, yang artinya adalah suatu pemberian upeti kepada penguasa atau Raja. Kemudian istilah ini berganti makna menjadi suatu sedekah dari hasil panen buah, pasca sistem upeti dihentikan oleh pihak kerajaan Binuang (baca: Terdapat Dua Versi Sejarah Terbentuknya Kampung Kanang) pada masa itu.

Menurut para Tomakaka, pada masa kekerajaan Binuang, “Mangngonggo” atau “Onggo” terdapat dua macam bentuk. Pertama merupakan bentuk rasa syukur kepada sang Khaliq (Dewata) yang memberikan rezeki buah, “Onggo” ini disebut sebagai “Onggo Baca”. Bentuk tradisi ini sudah tidak dilaksanakan pasca masuknya pengaruh-pengaruh Islam.

Bentuk Kedua, disebut sebagai “Onggo Kasiwan”, yaitu pemberian kepada sang Raja sebagai bentuk sedekah atau bahasa orang pattae “Massidakkah” dari hasil panen buah.

Meskipun sudah sedikit berubah, kebiasaan turun temurun ini masih berlaku hingga sekarang. Ketika musim buah-buahan seperti rambutan, langsat, dan durian tibah musim. Tradisi akan dilakukan ketika ada momentum, seperti kegiatan besar desa, atau masyarakat kedatangan tamu kehormatan dari luar seperti bupati, gubernur, dan tamu kehormatan lainnya.

Bagi masyarakat yang memiliki reziki buah-buahan yang melimpah di kebun-kebun warga, maka sudah sepatutnya, atau berhak memberikan sedikit rezekinya (massidakkah) dalam kegiatan “mangngonggo”.

Tradisi “Mangngonggo” ini tidak berlaku bagi semua masyarakat Pattae. Hal ini hanya di berlaku untuk masyarakat yang mendapat rezeki berupa buah-buahan disetiap musim buah tibah, itu pun tidak ada paksaan.

Karena kegiatan ini telah mendarah daging atau sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat suku Pattae. Kegiatan “Mangngonggo” pun terus dilakukan untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat suku Pattae.

Begitulah penjelasan singkat tentang adanya tradisi “Onggo” atau “Mangngonggo” yang berkaitan dengan musim buah-buahan. Jadi, mari kita menikmati dan mensyukuri karunia tuhan yang telah diberikan diatas tanah Pattae yang Mala’biq.(*/)**

Sekian, wassalam.!