Beranda Opini Opini: Apa Kabar Konvensi Politik Batetangnga?

Opini: Apa Kabar Konvensi Politik Batetangnga?

43
BAGEI TOLAEN !
Gambar Ilustrasi

PATTAE.com | Batetangnga tampaknya merupakan satu-satunya desa yang merancang suatu agenda politik yang belum pernah dilakukan desa-desa lain yang ada di Sulawesi Barat khususnya Polewali Mandar. agenda yang dirancang adalah konvensi politik untuk menentukan calon anggota legislatif (caleg) tahun 2019 kedepan dari desa Batetangnga.

Konvensi politik ini pada awalnya muncul ketika adanya forum dialog publik yang diadakan oleh organisasi mahasiswa Batetangnga pasca lebaran Idul Fitri 1438 H (26/06) di lapangan sepakbola desa Batetangnga. Salah satu pemuda memunculkan satu gagasan untuk melakukan konvensi politik pada pemilihan calon legislatif tahun 2019 nantinya dan ini menjadi rekomendasi untuk segera dilaksanakan.

Setelah dialog publik dilaksanakan, beberapa kali pemuda desa melakukan rapat baik melalui forum-forum resmi, maupun diskusi-diskusi lepas membahas keseriusan menjalankan rekomendasi dari dialog publik Batetangnga tersebut, sampai saat ini belum mendapat progres. Terakhir kali muncul perdebatan di dunia maya melalui akun sosial media facebook desa Batetangnga mempertanyakan tentang konvensi politik lagi-lagi hanya menjadi sebuah wacana yang belum melahirkan satu langkah kongkrit.

Melalui tulisan ini, saya ingin mempertanyakan kabar mengenai konvensi politik tersebut yang menurut saya merupakan suatu konsep yang mampu menjawab problem tidak adanya perwakilan desa Batetangnga di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) padahal, sangat berpotensi untuk meloloskan beberapa perwakilan. tulisan ini juga membahas mengenai pengalaman pileg sebelumnya yang mungkin bisa menjadi pelajaran betapa pentingnya konvensi politik dilakukan.

Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya dimana di desa Batetangnga terdapat banyak calon anggota legislatif muncul dari berbagai partai politik dan bertarung memperebutkan suara dalam satu daerah pemilihan (dapil) dan tentu menjadi langkah rumit karena dari seluruh caleg yang ada hanya mengandalkan suara pemilihnya dari satu desa yang terdapat banyak caleg.

Satu langkah yang sulit untuk meloloskan perwakilan di DPRD Kabupaten Polman melihat jumlah caleg membludak, misalnya pada tahun 2009 caleg berjumlah 7 orang memperebutkan 5 ribu suara dimana jumlah suara yang di kumpulkan untuk bisa mendapat satu kursi sebanyak seribu suara sah ditambah lagi mekanisme pembagian suara yang rumit sesuai nomor urut caleg di masing-masing partai pengusung.

Pada momentum pileg tahun 2014 jumlah peserta caleg dari desa Batetangnga bertambah sampai 10 orang calon anggota dimana 8 caleg diantaranya beratarung memperebutkan suara tuk lolos di DPRD Tingkat II, dan 2 Caleg lainnya memperebutkan kursi di DPRD tingkat I lagi-lagi jatuh pada lubang yang sama, tak ada satupun yang lolos.

Jika 10 caleg memperebutkan 5 ribu lebih suara, maka yang dihasilkan masing-masing caleg hanya sekitar 5-6 ratus suara, maka dipastikan tidak lolos, hal itu belum termasuk dampak lain saat pemilihan berlangsung seperti kertas suara tidak sah, atau golput karena pemilih tidak hadir.

Dari dua momentum pileg yang telah berlalu yang dijelaskan diatas tentu menjadi modal utama, sebagai bahan evaluasi untuk merancang satu agenda politik desa Batetangnga tuk mampu meloloskan 2 sampai 3 calon menjadi perwakilan warga di DPRD nantinya, dan melalui konvensi politik lah salah satu jalan terbaik, akan tetapi mampukah atau siapkah kita menjalankan itu?

Konvensi politik ini, tentunya di butuhkan partisipasi aktif sejumlah tokoh masyarakat dalam melakukan konvensi atau musyawarah mufakat menentukan calon peseta pileg nantinya serta peran dari para tokoh pemuda sebagai eksekutor tuk menjalankan apa yang telah menjadi kesepakatan bersama warga desa Batetangnga.

Pepatah mengatakan “Usaha tak pernah menghianati hasil” mungkin kata ini bisa menjadi pedoman tuk memberanikan diri mencoba hal yang baru untuk kepentingan warga Batetangnga kedepan, berpartisipasi dalam politik tanpa mementingkan kepentingan individu dan hal ini menjadi sebuah sejarah baru bagi warga desa Batetangnga.(*)