Beranda Uncategorized Opini: Desaku, Batetangnga dan Masyarakatnya

Opini: Desaku, Batetangnga dan Masyarakatnya

28
BAGEI TOLAEN !
Foto Wilayah Desa Batetangnga 2017

PATTAE.com | Semua orang pasti memiliki yang namanya kampong halaman (tempat kelahiran) begitupun dengan saya. Kali ini, dalam tulisan ini, saya pun akan menceritakan sedikit tentang sebuah desa dimana saya dan saudara-saudara saya dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang serta suasana kekeluargaan, dan kebersamaan tentunya.

Rasa Kekeluargaan yang Tinggi

Desa Batetangnga, itulah namanya, sebuah desa yang mayoritas penduduknya dari suku/etnis pattae’, terletak tidak jauh dari kota polewali sebagai ibu kota daerah kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Suasan yang nyaman, ketika berada di desa ini, kita tidak pernah takut kelaparan, karena semua masyarakat yang mendiami desa ini, masih memiliki hubungan keluarga yang dekat, dan saling menjaga satu sama lain, tidak ada masyarakat yang kelaparan, jika ada masyarakat yang kekurangan, pasti akan dibantu.

Desa ini juga memiliki masyarakat yang religius (taat beragama), hal ini tergambar dari dua pondok pesantren yang besar dan terkenal, memiliki banyak guru ngaji yang tidak butuh untuk digaji, dan lain sebagainya.

Bukan hanya itu saja yang menjadi gambaran desa ini. kampung kelahiran saya ini, juga memiliki tradisi budaya yang unik, seperti ritual kematian atau dalam bahasa ibunya “ma’bongi”, tradisi menyambut musim buah-buahan (langsat, durian, dan rambutan), tradisi mappadendang, dan masih banyak lagi.

Tradisi Ma’bongi

Tradisi memperingati hari kematian atau ma’bongi ini, dilaksanakan ketika ada salah satu keluarga atau masyarakat di desa yang meninggal dunia, dan adat ini dilaksanakan 4 kali sampai malam ke 100 harinya dari waktu berpulangnya salah satu keluarga ke pangkuan sang khaliq.

Acara ini bukan hanya menyampaikan satu isyarat duka yang mendalam setelah ditinggalkan seoarang kerabat, saudara, dan keluarga yang sangat dicintainya namun, kekeluargaan, dan panggilan moral sebagai seorang manusia yang hidup dalam satu desa yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, tenggang rasa tinggi, satu meninggal maka yang lainnya berkumpul (melayat).

Turut berduka dan saling membantu, baik dalam bentuk do’a, maupun dalam bentuk material seperti menyumbang beras, uang, kain, tenanga, dan air mata sebagai bentuk solidaritas yang sangat tinggi sebagai seorang manusia yang bersosial dan sebagai masyarakat pattae yang sipakatau.

Masyarakat atau sosial, dengan penyampaian secara teoritik mungkin akan berbeda dengan situasi yang terjadi desa batetangnga ini.

Mempertahankan Tradisi Budaya Leluhur

Masyarakat batetangnga yang secara pengetahuan tentang hidup satu asa sebagai manusia, tidak lahir dari tebalnya buku tentang sosial masyarakat, bukan terlahir dari suatu paksaan penguasa yang otoriter, tetapi, itu semua terlahir dari adat dan tradisi tempo doloe “nenek moyang” masyarakat pattae di desa batetangnga yang telah menurunkan rasa persaudaraan yang tinggi sampai sekarang.

Adat istiadat masyarakat pada awal sejarahnya, dipertahankan, dan dipelihara oleh generasi sampai saat sekarang ini.

Mungkin agak aneh, dan sangat tidak masuk akal untuk mempertahankan budaya lama, dan itu muncul dalam benak fikiran saya. Dengan proses berfikir dialektika, dimana suatu keadaan akan mengalami perubahan negasi ke negasi masih tak terbantahkan.

Masuknya Teknologi Informasi

Dalam masyarakat batetangnga yang dulunya menjungjung tinggi persaudaraan, kini mulai tergeser oleh perkembangan dunia yang tak terbentuk arus hegemoniknya.

Perkenalan akan teknologi informasi (internet dan media elektronik lainnya seperti HP, dan dunia gadgetnya) telah menggeser dengan cepat budaya lama menuju pada budaya konsumerisme, seremonial dan segala bentuk aromah pasar bebas.

Desa yang dulunya religius, ber-masyarakat (menjungjung tinggi persaudaraan) kini telah jauh dari aromah persaudaraan, individualisme telah di nomor satukan, dan kesibukan yang kompotitif diperlihatkan, itulah warnah desaku sekarang desa wisata nan elok.

Kita jangan terbawa arus hegemoni dunia teknologi informasi, dan seharusnya kita memamfaatkan teknologi tersebut untuk kepentingan kita sendiri, memperkenalkan budaya dan tradisi masyarakat pattae ke dunia melalui teknologi informasi.

Sekian dari saya, semoga ada yang berani membaca, dan mengkritiknya, dan berharap mengintrofeksi diri, untuk menujunjung tinggi nilai kemanusiaan, tanpa memandang golongan, ras, agama, apa lagi perbedaan strata sosial.

Sekian dari saya!