Beranda Opini PACCEPOK, Legenda Teror Sang Pemburu Kepala dalam Masyarakat Suku Pattae

PACCEPOK, Legenda Teror Sang Pemburu Kepala dalam Masyarakat Suku Pattae

1459
BAGEI TOLAEN !
Gambar Ilustrasi dari prajurit longnawan dari Suku dayak pemburu kepala dan gantungan kepala manusia hasil buruan di kalimantan utara Photo circa 1927 Sumber: http://kutaihulu.blogspot.co.id/2010/09/dayak-head-hunter-from-borneo.html

PATTAE.com- | Etnis Pattae- Mendegar cerita tentang “Pemburu Kepala” di masa kini, mungkin sangatlah menakutkan dan pastinya enggan untuk keluar rumah, jangankan pemburu kepala, mendengar kata begal saja kita sudah merasa ketakutan dan enggan keluar rumah. Hal ini berbeda dalam suku Pattae, khususnya yang mendiami Desa Batetangnga, Kec. Binuang, Polewali Mandar, yang memiliki satu metode untuk menghentikan anaknya, ketika hendak bepergian kesuatu tempat, tanpa memiliki alasan yang jelas. kata yang sering di ucapkan orang tua untuk melarang anaknya bepergian seperti “Jagako na sakako Paccepok..!”

Dengan kata “Jagako na sakako Paccepok..!” atau dalam bahasa indonesia diartikan, “Awas nanti ditanggap Pemburu kepala.” Penyampaian para orang tua kepada anaknya dengan metode menakut-nakuti tersebut, merupakan sebuah metode yang ampuh, dan motode tersebut sudah ada semenjak leluhur Pattae mendiami wilayah Bate Tangnga hingga sekarang.

Dalam masyarakat suku Pattae, kata “paccepok” sering disampaikan para orang tua kepada anaknya untuk sekedar menakut-nakuti ketika salah satu anaknya hendak pergi ke sungai atau ketempat yang dianggap tidak aman bagi anak-anak mereka, dengan harapan sang anak akan segera mengurungkan niatnya, dan membatalkan rencananya.

Peraktek ini hampir dijumpai di semua keluarga suku Pattae hingga sampai sekarang. Dulunya, saya hanya menganggap sebagai legenda dan cerita rakyat saja, tetapi setelah melakukan penelusuran sejarah dalam masyarakat Pattae, ternya kisah ini adalah sebuah kisah nyata dan benar-benar terjadi.

Kata “Paccepok” hanya diperuntukkan untuk kalangan musuh yang hendak menyerang ke wilayah kerajaan Binuang, dengan melakukan penebasan leher hingga sampai terputus. Sementara, jika pihak suku Pattae yang hendak melakukan penyerangan kepada pihak musuh dengan menebas leher, dan yang mengambil potongan kepala korbanya disebut “pangngae” sehingga, dalam suku Pattae kata “paccepok” bernotasi negatif sementara “Pangngae” bernotasi positif karena dianggap sebagai pahlawan dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi suku Pattae.

Praktek “Pangngae” dalam suku Pattae dilakukan ketika ada pihak luar yang melakukan permusuhan kepada pihak kerajaan Binuang atau masyarakat Pattae sehingga, harga diri, dan kebanggaan menjadi hilang, dan tidak akan kembali sebelum mereka selesai membalas perbuatan lawannya atas apa yang mereka lakukan.[1]

Setelah itu, disusunlah rencana dan persiapan para pasukan dengan melakukan seleksi, siapa-siapa yang akan pergi sebagai pangngae. Seleksi yang dilakukan dengan melalui beberapa ritual dan latihan pisik, berupa menjilati air kekebalan yang muncul dari dalam Kursi Batu Raja Binuang (Sippajo Langi),[2] melompat di Batu Pikkampuangan,[3] dan melakukan Sisempa[4] guna mencari orang yang terkuat. Dari penyeleksian ini, maka dipililah orang-orang yang berhasil melalui ujian, sebagai perwira Pangngae suku Pattae.

Setelah semua persiapan telah selesai, maka para wanita mengantar mereka dengan tarian dan nyayian-nyanyian, berharap semonga mereka segera kembali dan membawa kemenangan dengan puluhan potongan kepala para musuh.

Setelah selang beberapa hari, tergantung daerah musuh yang ditempuh, maka dari kejauhan, mereka berteriak dengan teriakan khasnya para Pangngae. Hal ini merupakan suatu pertanda bahwa mereka telah kembali dengan membawa kemenangan.

Tatkala suarah itu telah terdengar oleh masyarakatnya, maka para wanita yang hendak ingin menikah akan berlarian dan membawa kawari[5] guna untuk diletakkan di atas batu pangngae[6] dan siapapun kawari yang berada paling dibawah (cepat) maka dialah yang berahak di pilih oleh para Pangngae sebagai istri jika Panggae juga setuju atas wanita tersebut.

Dengan potongan kepala para musuh yang telah berhasil mereka  dapatkan, maka mereka akan menceritakan kisah mereka, dan sebagai kebanggaan atas keberhasilan misi yang mereka emban. Sejak hari kedatangan para Pangngae, maka di tentukanlah waktu upacara tarian yang biasanya dilakukan tiga hari setelah kedatangan mereka.

Dengan menyiapkan beberapa keperluan berupa makanan re’pe[7] dan bunga yang nantinya disajikan pada saat tarian penyambutan di lakukan. Dan para wanita yang telah terpilih atau pertama meletakkan kawari mereka diatas batu pangngae juga akan dinikahkan dengan para Pangngae pada waktu itu juga, sebagai hadiah sekaligus motivasi bagi para pemuda yang belum sempat berangkat kemedan perang.[8]

Mendengar kisa para pemburu kepala dalam cerita ini mengingat kita kisah Seediq Bale yang artinya Seediq Merah atau Pria Sesungguhnya, adalah sebuah film epik drama sejarah Taiwan 2011 yang disutra darai oleh Wei Te-Sheng dan diproduksi oleh John Woo, dengan judul film Warriors of The Rainbow.

Film ini bercerita tentang kisah nyata pada Insiden Wushe 1930 di Taiwan Tengah atas penjajahan Jepang. Tetapi yang paling menarik adalah kisah suku Mehebu yang memiliki kebiasaan mirip dengan suku Pattae, dengan menyerang suku lain dan menebas kepala mereka dan mengambilnya sebagai bentuk balas dendam, kebanggaan dan tanda kedewasaan.[9]

Meski para Pangngae Pattae memiliki kemiripan dengan suku Mehebu (Suku Asli Taiwan) dalam membunuh para musuh-musuhnya. Akan tetapi, terdapat juga beberapa perbedaan diantara keduanya, dimana suku Pattae, setelah berhasil mendapat potongan kepala musuhnya maka mereka (para Pangngae) menjadi kebanggaan bagi suku Patte dan sekaligus mendapatkan seorang wanita sebagai hadiah untuk dijadikan istri nantinya, sementara suku Mehebu, yang ada dalam cerita ini, yang berhasil mendapatkan potongan kepala musuh akan menjadi simbok kedewasaan mereka dan deberi tanda tatto pada jidat dan dagu mereka.[10]

Cerita tentang Para pemburu kepala tidak hanya bisa kita jumpai dalam kisah para Pangngae Pattae dan suku Mehebu di pedalaman Taiwan Tengah, tetapi juga di jupai pada suku Alifuru yang menetap di pulau Sumatera, dan suku Dayak di Kalimantan yang berburu kepala manusia. Ketika seorang kepala suku meninggal, dua potong kepala manusia yang baru dipenggal digunakan sebagai penghias makam sebagai simbol kekuasaan.

Sehingga, untuk para pemburu kepala berhak mendapatkan tato simbol kedewasaan. Tulis, Wallace, dalam catatannya, Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992 karya George Miller.[11] Dengan kepercayaan dan tradisi dalam berburu kepala disetiap suku-suku di Nusantara, dan Taiwan memberikan pertanda adanya kesamaan nenek moyang yang mendiami tiap-tiap pulau ini.

PENULIS

Aminuddin. S.H

(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)

Catatan Kaki:

[1]Tengguru Matta, t.th.k, Tomakaka Penanian (Binuang: 06 Juni 2013).

[2]Kursi Batu Raja Binuang (Sippajo Langi): merupakan sebuah kursi yang terbuat dari batu yang terdapat di Buttu Talebo atau gunung Talebo yang mengeluarkan air jernih yang dipercaya bisa membuat kebal sipa saja yang menjilatnya. Batu ini masih ada hingga sekarang dan masih mengeluarkan air sekalipun musim kemarau yang berkepanjangan.

[3]Batu Pikkampuangan; merupakan sebuah batu yang tingginya kurang lebih satu meter dan diatasnya akan di letakkan sebutir telur, kemudian batu itu dilompatin. Apabila telur tidak jatuh, maka dinyatakan lulus ujian dan apa bila telurnya jatuah, makah dinyatakan gagal ujian. Peraktek ini sebenarnya memiliki kesamaan dengan budanya suku Nias, tetapi ritual yang mereka lakukan guna mendapakan gelar kedewasaaan.

[4]Sisemba; atau saling menendang, dengan menaman betis lawan kemudian menendang dengan sekuat tenaga. Apabila kaki lawan terlempar atau bergeser dari posisinya maka dinyatakan gagal dan apabila kaki yang dipasang masih utuh berada di posisinya maka dinyatakan berhasil.

[5]Kawari; merupakan jenis pakaian wanita yang di ikat di pinggang mereka untuk menutup kemaluan.

[6]Batu Pangngae; merupakan sebuah batu yang besarnya sekitar galon air 12 kg yang nantinya tempat pertama kali didatangi para Pangngae jika mereka telah tiba dari medan perang. Batu ini masi dapat dilihat di desa Batetangnga sekitar tahun 2000-an, dekat Mesjid Raya Nurul Huda Batetangnga, tepatnya di depan rumah mantan kepala desa H. Muhtar Lallo. Akan tetapi batu ini sudah tidak ada ketika ada perbaikan jalan poros Batetangnga, mungkin disingkirkan karena menghalangi perluasan jalan dan para pekerja juga mungkin tidak tahu sejarah batu tersebut.

[7]Re’pe; Sejenis makakan padi brondong yang dicampur gula merah sebagai makanan khas Pattae yang biasa disajikan ketika acara peringatan tiap malam juma’atan atas keberangkatan Jama’ah Haji ke tanah suci mekah.

[8]H. Saraila, t.th.k, Imam Mesjid dan Sejarawan Pattae (Binuang: 21 Juli 2013). Dan Tengguru Matta, t.th.k, Tomakaka Penanian (Binuang: 06 Juni 2013).

[9]Wikipedia, t.d., https://id.wikipedia.org/wiki/Warriors_of_the_Rainbow:_Seediq_Bale (12 Mei 2017).

[10]Warriors Of The Rainbow, 12, Apr, 2012; https://www.youtube.com/watch?v=u_ocnUbrVd0 (10 April 2017).

[11]Lihat, Hendaru Tri Hanggoro, 29 Februari 2012; http://historia.id/kuno/kisah-pemburu-kepala (9 Mei 2017).

1 KOMENTAR