Beranda Sejarah & Budaya Pakkambi’ Tedong, dan Asal Muasal Nama Desa Mammi

Pakkambi’ Tedong, dan Asal Muasal Nama Desa Mammi

392
BAGEI TOLAEN !
Gambar Ilustrasi Pengembala Kerbau yang diambil dari situs https://id.wikipedia.org pada 13/7/2017

PATTAE.com | Terbentuknya suatu desa memiliki keunikan tersendiri, baik dilihat dari segi nama desa ataupun sistem adat. Di Binuang, Polewali Mandar ada sebuah desa yang memiliki cerita unik dalam sejarah penamaannya, sebut saja kampung Mammi. Kampung ini memiliki sejarah tentang cerita Pakkambi’ Tedong (Pengembala kerbau) yang menobatkan pertama kali nama kampung Mammi.

Setelah pattae.com melakukan wawancara kepada salah satu informan, yang juga merupakan kapala desa Mammi, bulan Juli (2017) kemarin, menemukan adanya keunikan dari cerita sejarah penamaan desa Mammi. Hal ini patut untuk dipublikasikan agar masyarakat lebih memahami dan menghargai cerita-cerita rakyat yang terdapat di daerah mereka masing-masing.

Banyak masyarakat di indonesia yang tidak memahami atau mengetahui tentang sejarah lokal di daerah masing-masing. hal ini di sebabkan minimnya pengetahuan tentang sejarah lokal di wilayahnya, misalnya sumber untuk mengetahui sejarah lokal di wilyahnya sedikit, banyak saksi sejarahnya sudah pikun atau meninggal, dan adanya pendatang dari luar.

Sejarah asal muasal nama dan terbentuknya desa Mammi ini dikutif langsung dari hasil wawancara tim pattae.com dengan salah satu tokoh dan juga sebagai kepala desa Mammi, Sulaeman, S.Pd., saat di temui di sela-sela kegiatan MUBES pemuda Mammi di Balai Desa Mammi pada malam hari Selasa 5 Juli 2017 kemarin.

Asal Mula Nama Desa Mammi

Mammi merupakan salah satu nama kampung/desa yang penduduknya mayoritas dari suku Pattae. Kata Mammi sendiri berasal dari bahasa Pattae yang berarti enak, lezat, dan nikmat. Sejarah penamaan kampung ini sangat unik karena nama Mammi berawal dari seorang pengembala hewan ternak, dalam bahasa suku pattae, hewan itu disebut Tedong (kerbau).

Dulunya, masyarakat Mammi senang memelihara kerbau (tedong), yang sudah turun temurun dilakukan mulai dari nenek moyang suku pattae. Sebagai pengembala (Pakkambi Tedong), tentunya mencari tempat/wilayah yang menyediakan hamparan rumput sebagai santapan tedong/kerbau, dan kampung Mammilah yang menyediakan hamparan rerumputan itu.

Konon katanya, Orang dahulu suku pattae Mammi hidupnya di pegunungan To’long (nama gunung yang ada di wilayah desa Batetangnga dan Kuajang) dan memiliki banyak hewan kerbau. Hewan ternaknya ini dikandangkan di daerah bala tedong (wilayah desa Mammi), dan pada pagi hari kerbau ini dilepas untuk mencari makanan sendiri.

Setelah masuk waktu sore, saatnya hewan ternak kerbau kembali kekandangnya, namun kerbau tersebut tak kunjung datang, dan dalam hati si pengembala tedong bertanya, “kenapa Tedong saya belum tiba dikandang?, pasti ada yang enak-enak (mammi-mammi) disana (wialyah desa mammi) yang kerbau santap”, dan saat itulah, masyarakat dahulu menyebutnya sebagai kampung mammi.

Sebelum masyarakat mendiami wilayah tersebut, Mammi dulunya merupakan bentangan rawa yang di tumbuhi rerumputan. Orang pertama yang mendiami dan mulai menetap, diyakini dari wilayah kampung Biru (salah satu kampung yang ada di desa Batetangnga), dan Tomakaka Penanian yang mengembangkan kampung Mammi tersebut sekitar tahun 1950-an hingga padat sampai sekarang.

Begitulah sepenggal cerita asal muasal nama desa Mammi, dan lain halnya sejarah terbentuknya desa mammi, yang mungkin juga belum banyak orang mengetahuinya. berikut kisah singkatnya.

Terbentuknya Desa Mammi

Pada awal-awal kampung Mammi dihuni masyarakat pattae. kampung tersebut belum berbentuk desa, masih disebut sebagai lingkungan Mammi yang mencakup wilayah Tandro dan sekitarnya. Umur desa Mammi masih terbilang sangat muda, meskipun Kampung ini sudah dihuni masyarakat sejak dahulu.

Pada Tahun 2002, Desa Mammi baru di Nobatkan sebagai Desa persiapan, dan Kapala desa pertama adalah Tomakaka Mammi, H. Abdul Rahim Ali, S.Ag., sampai pada tahun 2004.

Pada tahun yang sama, dengan semangat perjuangan warga Mammi menjadikan Mammi sebagai desa resmi akhirnya terkabulkan pada tahun 2004 secara definitif oleh pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan Sulaeman, S.Pd., menjadi kepala desa melalui pemilihan umum.

Sekarang ini tahun 2017, menurut kapala desa Mammi, Sulaeman, mengatakan jumlah warga desa Mammi mencapai angka 2 ribu jiwa penduduk, 20 persen diantara adalah beragama Nasrani, dan seluruhnya 80 persen beragama Islam. desa mammi memiliki luas 0,92 km2 atau 0,74 persen dari luas Kecamatan Binuang

Desa Mammi memiliki 4 wilayah/dusun yaitu dusun Mammi I, Mammi II, Macera, dan dusun Kayu Ranni. Meskipun terdapat perpedaan Agama, warga masyarakatnya tetap hidup rukun, saling membantu sebagai seorang manusia yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.(*)

Tim Wawancara: Casper/Achi Proletar