Beranda Opini Pattae’; Salah-satu Etnis yang Mendiami Wilayah Barat Sulawesi

Pattae’; Salah-satu Etnis yang Mendiami Wilayah Barat Sulawesi

813
BAGEI TOLAEN !
Photo:

Sebelumnya, tema diatas sudah pernah di diskusikan oleh pemerhati budaya pattae’ yang menginginkan etnis Pattae’ eksis layaknya sebagai etnis/suku yang memiliki perbedaan dengan etnis yang ada, khusunya di pulau Sulawesi, dan Indonesia secara umum. Namun, hal ini terkendala dengan adanya beragam macam versi sejarah Pattae’ (baca juga: “Membukukan Sejarah Pattae’ dengan Beragam Versi ”) yang disajikan oleh beberapa Tomakaka (para tetua) sehingga, ketidak cocokan pendapat para Tomakaka tersebut, berdampak pada ketidak tahuan kita dalam mengambil kesimpulan, apakah etnis Pattae’ merupakan salah satu etnis tunggal, ataukah hanya merupakan sub etnis dari beberapa etnik yang ada di pulau Sulawesi.

Kesimpulan awal tersebut merupakan pandangan subjektif beberapa individu yang mungkin saja itu melenceng, dan mungkin juga itu tepat adanya. Jadi, kesimpulan tersebut belumlah merupakan kesimpulan final, karena dalam sejarah, tidak ada kesimpulan yang final, akan tetapi membutuhkan penjelasan-penjelasan, perdebatan-perdebatan panjang yang tentunya objektif, dan ilmiah, sehingga sejarah tersebut mendekati kebenarannya. Baik, tidak usah berpanjang kali lebar, mari kita memulai berpandangan tentang etnis Pattae’ jika kita masih peduli.

Bagaimana Menentukan Suatu Etnis

Relasi antara etnis yang ada disekitarnya, tidak luput dari pengkajian untuk menentukan satu etnis. Pada kasus etnis Pattae’ contohnya, yang dimana kelilingi beberapa etnis yang ada di Sulawesi selatan dan barat seperti etnis Bugis, Toraja, Duri, Pattinjo, Pannae’, dan Balanipa (Mandar), memiliki hubungan yang sangat erat, Baik dari dari segi budaya, bahasa, dan juga secara biologis terdapat kesamaan.

Bayanknya etnis yang ada di beberapa pulau di Indonesia tidak hanya memiliki perbedaan tetapi juga memiliki banyak kesamaan, baik secara budaya seperti adat istiadat, ritual-ritual keagamaan, benda pusaka, alat-alat petanian yang di pakai untuk bertahan hidup (alat produksi) dan sebagainya. Adanya juga kesamaan dalam dialek, atau bahasa di beberapa suku yang jika dilihat secara geografis memiliki jarak yang sangat jauh seperti Makassar dengan Medan, Bugis dengan Padang.

Akan tetapi, itu bukan menjadi salah satu indikator bahwa kebutulan sama, tapi, kemungkinan besarnya adalah, masyarakat dahulu merupakan salah satu penjelajah yang melewati beberapa daerah di Indonesia dan akhirnya memiliki kesamaan diantara suku yang ada, dan hal ini mungkin juga terjadi pada masyarakat Pattae’.

Sulawesi, merupakan salah satu pulau yang ada di Indonesia, memiliki etnis yang sangat banyak seperti di Sulawesi tenggara, Sulawesi selatan, sulawsi barat, Sulawesi tengah dan Maluku, sebanyak 90 lebih etnis/suku.

Diantara daerah tersebut juga memiliki hubungan yang sangat kuat diantara etnis lainnya. Pulau Sulawesi, juga terdapat banyak etnis yang memiliki keterkaitan satu sama lain. Keterkaitan itu dilihat dari pengakuan beberapa etnis di Sulawesi, khusunya Sulawesi selatan dan barat, bahwa yang mendiami pertama daerah Sulawesi selatan tersebut, bernama “to manurung ”. Meskipun, masing-masing etnis yang ada di Sulawesi selatan dan barat ini memiliki perbedaan pandangan tentang “To manurung”.

“To manurung” ini merupakan penyatuan dari beberapa etnis yang ada di sulawsi selatan yang terdapat suku bugis, Makassar, toraja, dan mandar. Pada suku mandar, juga terdapat banyak etnis seperti balanipa, pattae’, pannae, dan pattinjo kernea mandar merupakan suatu bentuk persatuan (konfederasi) dari beberapa etnis yang ada. Kata mandar berasal dari kata sipamande’ yaitu saling memperkuat satu sama lain.

Meskipun berbeda etnis, akan tetapi beberapa etnis ini memiliki kesamaan budaya, bahasa, agama, dan biologis yang tidak begitu banyak perbedaannya. Hal ini juga menandakan bahwa etnis yang ada di Sulawesi selatan dan barat merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Jadi, mengenai etnis Pattae, apakah merupakan etnis yang berdiri sendiri dari etnis yang ada, ataukah hanya menjadi subetnis dari berbagai etnis di Sulawesi? Silahkan memberikan kesimpulan sendiri. Kesimpulan saya hanya bersifat sementara dan hanya menganalisi secara subjektifitas belaka, jadi kemungkinan salah, mungkin juga benar adanya. Mari kita mengorek sedikit beberapa pendapat tentang bagaimana menentukan suatu kelompok masyarakat bisa disebut sebagai suatu Etnis.

Menentukan suatu etnik di beberapa daerah, harus memenuhi berbagai prasyarat seperti memiliki perbedaan mencolok antara etnis satu dengan etnis lainnya, dalam teori antropologi mengemukakan bahwa untuk menentukan suatu etnis, cukup dengan satu perbedaan yang bencolok dengan etnis lainnya.

Beberapa pendapat dalam mengidentifikasi atau menentukan suatu kelompok tersebut, sebagai salah satu etnis/suku dengan cara mencirikan khas kelompok, atau etnis tertentu, seperti perbedaan budaya, bahasa, agama dan prilaku dan juga ciri-ciri biologisnya. rumusan ini, banyak digunakan para antropolog untuk menjastifikasi suatu etnis/suku dalam kelompok masyarakat sebagai satu etnis tertentu yang berbeda dengan etnis yang lain.

Rumus ini juga, tentunya merupakan rumus umum dan tentunya berlaku juga dalam meneliti masyarakat Pattae’, Apakah etnis Pattae’ merupakan salah satu etnis yang benar-benar ada, ataukah merupakan bagaian dari etnis lain yang ada dilihat dari spesifikasi antropologinya.

Kelima kesamaan dalam suatu kelompok masyarakat seperti yang telah dirumuskan diatas menjadi tolok ukur, apakah kemudian terdapat kesamaan sepeti budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis pada masyarakat Pattae’ atau malah sebaliknya. Tentunya, hal ini tidak bisa kita temukan tanpa melalui penelitian ilmiah, dan keberanian untuk membuka data yang telah tersimpan rapi dalam otak, dan terintegrasi dengan data-data adanya barang-barang pusaka, dan situs-situs peninggalan sejarah yang masih ada sampai sekarang.

Pattae’, Merupakan Salah-satu Etnis yang Ada Dibagian Barat Sulawesi

Suku cabang ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan bahan rujukan untuk menentukan etnis tertentu adalah Antropologi dan Arkeologi. Dari dua disiplin ilmu tersebut menjadi alat untuk menganalisis suatu etnis, apakah suatu kelompok masyarakat berdiri sebangai suatu etnis atau bukan.

Secara arkeologi, yang membuktikan bahwa etnis Pattae’ ini benar-benar ada, dengan mengukur situs sejarah yang ada, belum sepenuhnya di lakukan, bahkan tidak pernah dilakukan, dan hanya dengan keterangan-keterangan yang belum sepenuhnya benar. Namun, dari segi Antropologi, etnis pattae’ dilihat dari bahasa, hidup dalam satu wilayah tertentu, dan memiliki budaya tersendiri dilihat dari peninggalan sejarahnyam serta situs sejarahnya. Sudah bisa di klaim, dan merupakan salah satu etnis yang eksis di pulau Sulawesi selatan dan barat.

Merujuk pada beberapa buku yang membahas soal sejarah mandar, dan beberapa suku yang ada di mandar, terlihat jelas bahwa Pattae’ merupakan salah satu etnis yang hidup dan ada di tanah mandar. Beberapa situs resmi juga telah mengakui adanya etnis Pattae’, misalnya saja situs Wikipedia.com, meskipun dalam situs tersebut belum menyediakan tulisan mengenai etnis Pattae’ secara lengkap dan jelas. Mungkin karena belum ada penelitian secara ilmiah mengenai Etnis Pattae’. Karena itulah, perlu dan sangat penting untuk menggali dan membukukan sejarah pattae’ secara lengkap.

Jika Pattae’ adalah salah satu etnis diantara etnis yang ada di Sulawesi selatan dan barat, benar-benar ada, maka mari kita menunjukkan eksistensi Pattae’, budaya masayarakat Pattae’ agar dikenal oleh generasi-generasi penerus. Dan jika Pattae’ bukan merupakan etnis, hanya sebagai bagian dari etnis yang ada di Sulawesi selatan dan barat ini, maka hentikan saja, dan cukup sampai disini.

Dalam tulisan ini, saya tidak ada keraguan didalamnya, bahwa etnis Pattae’ memang benar-benar ada dan berlipat ganda dari generasi ke generasi. Sejarah akan hilang, jika generasi-generasi pattae’ ini tidak mengenal sejarah leluhur mereka. Seperti Al-Qur’an, jika pada zaman Khalifah Ustman Bin Affan tidak terjadi pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an, ummat islam akan terpecah belah karena tidak ada sumber utama pedoman mereka, dan masing-masing mengakui mashab merekalah yang paling benar.

Sama hal nya dengan sejarah Pattae’ ini, masing-masing mengklaim sebagai sumber sejarah yang valid, sehingga bermunculan intrik diantara para Tomakaka Pattae’. Hal ini yang kita tidak inginkan terjadi. Selagi masih ada yang tahu sejarah Pattae’ tersebut, mari segera menyatukan dan membukukan sejarah Pattae’ tersebut, sebagai pedoman pemersatu masyarakat Pattae’, Mari kita menulis sejarah kita sendiri.