Beranda Ekonomi Masyarakat Pertanian Bawang Merah, Sebuah Catatan dari Galung Dusun Eran Batu

Pertanian Bawang Merah, Sebuah Catatan dari Galung Dusun Eran Batu

130
BAGEI TOLAEN !

Pertanian bawang merah oleh masyarakat Pattae ini, terletak di daerah Galung. Galung adalah sebuah Kampung Pattae yang didiami sekitar 84 Kepala Keluarga. Kampung galung merupakan wilayah Dusun Eran Batu, Desa Batetangnga. Kampung ini terletak diatas lereng pegunungan dengan jarak sekitar 14 km dari pusat kota Kabupaten Polewali Mandar.

Kami mendengar bahwa masyarakat di Kampung Galung saat ini sedang antusias untuk menggalakkan pertanian bawang merah. Untuk itu, Tim Media Pattae.com pun tertarik untuk menyambangi tempat tersebut.

Dengan menggunakan kendaraan roda dua perjalanan ke tempat tersebut menghabiskan waktu satu jam. Pohon rindang dan tumbuhan hijau tertata dengan rapi menghiasi pinggiran jalan. Pesona itu ditambah lagi dengan indahnya bentangan jembatan yang melintasi air terjun Kambellun. Air terjun Kambellun merupakan salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi di daerah Galung. Pemandangan indah tersebut, membuat perjalanan untuk meninjau pertanian bawang merah di Galung menjadi semakin berkesan.

Hari sudah menjelang sore ketika kami tiba di tempat tujuan. Para petani masih tetap beraktivitas di kawasan ladang bawang merah yang sudah berumur sekitar 50 hari. Luas area pertanian bawang merah ini sekitar 40 are.

Mereka menyambut kedatangan kami dengan hangat. Tampak mereka cukup lelah telah bekerja seharian. Itu terlihat dari kucuran keringat yang masih mengalir di keningnya. Namun, sepertinya semangat petani bawang merah itu, masih belum surut meski hari telah mulai senja. Mereka tetap semangat bercerita tentang lika-liku pertanian bawang merah dalam bahasa pattae, sembari bersama kami mengelilingi lahan pertanian mereka.

Alasan Memilih Pertanian Bawang Merah

Petani bawang merah ini mengutarakan tentang alasan memilih bawang merah menjadi prioritas tanaman. “Cepat panen, karena hanya butuh waktu 60 hari sudah bisa dijual. Tanaman ini juga harganya dipasaran sangat lumayan bagi petani”. Tutur petani muda pattae ini.

Disamping itu juga, kebun ini tidak hanya kami tanami satu jenis tanaman. Kami juga menanam tomat, cabai, wortel, kol dan sayuran lain, tapi kami tempatkan secara terpisah dari bawang”. Demikian lanjut sang petani.

Pertanian bawang merah tersebut cukup menuai antusias dari masyarakat setempat. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang datang dilokasi tersebut untuk berdiskusi tentang pertanian bawang merah. Mereka yang datang tidak hanya para petani yang ingin membuka lahan untuk menanam bawang tapi juga yang sudah menanam bawang tapi masih ingin mendapatkan tambahan pengetahuan.

Setelah panen pertama sudah selesai alhamdulillah sudah banyak masyarakat di Galung yang membuka lahan mereka untuk ditanami bawang merah. Sebelumnya, para petani lainnya masih merasa ragu untuk menanam bawang merah dengan alasan pengalaman belum ada”. tutur petani tersebut.

Kendala Pertanian Bawang Merah

Ketika ditanya tentang kendala terkait pertanian bawang merah “Bibit bawang merah itu harganya sangat mahal. Itu pun harus diambil di daerah enrekang karena untuk saat ini di daerah polewali belum ada. Ya harapan kita semoga ke depan harga bibit bisa sedikit lebih murah, sehingga para petani tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya, karena bukan hanya bibit yang harus dibeli tapi masih banyak lagi yang lainnya, seperti pupuk, racun, dan sebagainya”. Demikian ungkapnya penuh harap.

Ketika matahari hampir terbenam di ufuk barat, kami pun merasa harus segera meninggalkan pertanian bawang merah ini agar tidak kemalaman di jalan. Kami kemudian pamit untuk pulang. Sebelum meninggalkan tempat, sejenak kami menatap lahan pertanian bawang merah itu, berharap pertanian bawang merah yang dikembangkan oleh petani setempat mampu meningkatkan taraf kehidupan mereka agar menjadi lebih baik.