Beranda Ekonomi Masyarakat Petani Muda Pattae : Memacu Potensi Tanah Surga

Petani Muda Pattae : Memacu Potensi Tanah Surga

217
BAGEI TOLAEN !

Petani muda pattae ini membangun usaha pertanian budidaya tanaman tomat di Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kegiatan usaha tani palawija ini dilakoni sejak tahun 2014 lalu. Kala itu masyarakat disekitar Lempa, Kelurahan Amassangan, Binuang, menjadi peserta binaan dalam kegiatan Program LM3 (Lembaga Mandiri Mengakar di Masyarakat).

Pasca program tersebut warga masyarakat tetap melanjutkan kegiatan pertanian mereka secara mandiri. Pengalaman usaha tani semasa ikut dalam program LM3 ini terus diaplikasikan. Bahkan mereka mulai menyusun perencanaan dan pengelolaan yang lebih matang, dikarenakan berbagai tantangan dalam usaha tani sudah pernah dialami sebelumnya. Beragam penyakit, hama, bakteri, bahkan kondisi perubahan cuaca mulai dapat mereka identifikasi, sehingga dapat mengantisipasi dampaknya seminimal mungkin.

Para petani di daerah ini, juga berusaha mengembangkan pengetahuannya dengan berbagi informasi dan pengalaman dengan petani lainnya. Misalnya berbagi informasi dengan beberapa kerabat yang juga penggiat usaha tani di daerah Bombana Sulawesi Tenggara. Dari kegiatan berbagi informasi itu, para petani ini tidak lagi hanya berfokus pada satu jenis tanaman saja. Saat ini telah ada beberapa jenis tanaman palawija yang dikembangkan. Salah satu yang kami ulas saat ini adalah tanaman tomat milik seorang petani muda yang berlokasi di Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar.

Uppa, Petani Muda Pattae

Saat masih menjadi peserta binaan dalam kegiatan Program LM3 petani muda pattae ini bertani dengan bantuan modal untuk pengadaan bibit, pupuk, mulsa plastik, pestisida dan lain-lain. Namun setelah program tersebut berakhir, petani muda pattae ini harus berupaya secara mandiri. Itu artinya, modal usaha seperti biaya pengadaan bibit, pupuk, plastik mulsa, pengolahan tanah serta pengendalian hama/gulma dan sebagainya harus diusahakan sendiri. Bagi petani muda pattae ini, biaya yang diperlukan untuk memulai usaha bertani ketika itu dirasakan lumayan besar. Modal yang diperlukan kurang lebih 2,5 jutaan per 1.500 pohon atau luasan sekitar 6-8 are (tergantung jarak tanam dan jarak bedengan).

Modal awalnya kurang lebih dua setengah juta. yang paling berat itu beli mulsa dan tonggak. Dua item ini sudah hampir mencapai 1 setengah juta“. Ungkap Uppa petani muda pattae yang saat ini tengah berkonsentrasi pada usaha tani tanaman tomat di area Lempa.

Di atas lahan yang seluas 7 are petani muda pattae ini membudidayakan tanaman tomat sekitar 1.500 pohon. Menurut dia total hasil panen tomatnya bisa mencapai 4 ton. Secara umum, produksi tanaman tomat mencapai 4 kg per pohon. Namun pada kenyataannya, tanaman tomat petani-petani Pattae rata-rata hanya mampu menghasilkan buah dengan berat hingga 3 kg.

Harapan Petani Muda Pattae

Hal yang paling diharapkan dalam usaha pertanian adalah harga yang stabil. Dalam arti, harga jual tidak jatuh pada saat panen tiba. Oleh karena itu, perencanaan untuk usaha tanaman ini juga harus memperhitungkan waktu tanam kaitannya dengan usia tanaman dan waktu panen. Hal ini dimaksudkan agar hasil panen nantinya dapat dipasarkan dengan harga yang tinggi. Ketika suatu produk yang beredar dipasaran terlalu banyak, maka harganya akan mengalami penurunan. Begitu juga sebaliknya.

Sebisa mungkin direncanakan untuk menghindari waktu panen yang bersamaan dengan panen di daerah-daerah lain. Hal ini dilakukan agar produk yang sama tidak menumpuk di pasaran. Untuk saat ini, harga eceran tomat di pasar-pasar tradisional, khususnya Kabupaten Polewali Mandar mencapai 9-10 ribuan per kg.

Pada dasarnya bertani palawija adalah kegiatan yang sangat menguntungkan. Hampir tidak ada bagian dalam proses bertani palawija yang membutuhkan tenaga terlalu besar, mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, pemeliharaan, panen dan seterusnya. Lahan yang digunakan pun tidak harus luas, yang penting adalah ketelatenan dan disiplin waktu, baik dalam hal pengolahan tanah, maupun ketika mengaplikasikan pupuk dan mengendalikan hama serta penyakit. Dengan demikian, dampak dari hama dan penyakit tersebut tidak mengakibatkan kerugian yang besar.

Tanah ini adalah tanah surga, subur dan mensejahterakan. Hanya diperlukan kesediaan dan keinginan dari para petani untuk berusaha. Semoga di masa yang akan datang, tanah ini bisa melahirkan banyak petani muda pattae yang disiplin dan telaten sehingga bisa mencapai kesuksesan.

Demikian, semoga artikel tentang petani muda pattae ini dapat bermanfaat bagi kita semua.