Beranda Opini Puasa Tallu Ramadhan, Ajaran To Salama Pada Awal Islam di Tanah Pattae’

Puasa Tallu Ramadhan, Ajaran To Salama Pada Awal Islam di Tanah Pattae’

132
BAGEI TOLAEN !
Ilustrasi

PATTAE.com | Opini- Bulan Ramadan dalam islam, merupakan bulan dimana seluruh ummat islam dibelahan dunia manapun, wajib menjalankan rukun Islam ke 4 ini yaitu, ibadah puasa selama 1 bulan penuh.

Ibadah puasa seperti diketahui, merupakan ibadah menahan makan, dan minum, serta menahan nafsuh, amarah yang dimulai dari terbitnya pajar hingga terbenamnya matahari..

Baik ummat Islam di dunia, maupun di Indonesia, melakukan puasa selama sebulan penuh, maka beda halnya dengan masyarakat Pattae, khususnya warga Batetangnga pada awal mengenal ajaran Islam.

Sejarah Singkat Masuknya Islam di Tanah Pattae

Sebelum masuknya Islam, masyarakat pattae memiliki kepercayaan animisme dan dinamisme, dengan percaya terhadap roh-roh dan benda-benda seperti pohon dan batu besar yang sangat ditentang oleh ajaran Islam sendiri. [1]

Masuknya Islam di wilayah Kerjaan Binuang, tepatnya di Kampung Penanian, Desa Batetangnga. Awalnya dibawa oleh Syekh Kamaluddin Dato’ ri Bandang, dan dikenal dengan gelar Sanre[2] atau Tosalama di Penanian pada akhir Abad VI.

Sejak Masuknya Islam tersebut, kepercayaan masyarakat Pattae di wilayah Batetangnga pun, berangsur mengalami perubahan.

Dato’ Ribandang mengajarkan Islam pada masyarakat Pattae dengan berbagai macam mukjizat yang dapat menarik perhatian dan kekaguman masyarakat. seprti mampu berjalan diatas permukaan air, beribadah diatas pelapah pisang, dan lain sebagainya sehingga, dengan mudahnya menyebarkan ajaran Islam dapat diwujudkan.

Dengan usaha dan kesabaran Tosalama, maka kepercayaan animisme dan dinamisme yang tumbuh subur dalam masyarakat Pattae di wilayah Batetangnga dapat minimalisir.

Sekalipun mustahil untuk dihilangkan secara keseluruhan, karena hal ini merupakan kebiasaan masyarakat Pattae yang diwariskan para luluhurnya, akan tetapi, praktek-praktek animisme dan dinamisme ini seperti mimala[3] bisa minimalisir dengan metode mencampurkan budaya dengan ajaran islam.

Setelah pelajaran pertama tentang ketauhidan yaitu Kemaha Esaan Allah SWT telah berjalan dengan baik, dan mulai bayaknya masyarakat meninggalkan peraktek mamimala’, maka Syeh Kamaluddin (Tosalama) kemudian melangkah ke pengajaran islam lainnya seperti; shalat, sakat, puasa dan haji bagi yang mampu serta larangan memakan daging Babi.

Puasa Tallu Ramadhan Ajaran Syeh Kamaluddin Dato’ Ribandang untuk Islam Pemula

Pengajaran awal Tosalama di Penanian, yang sangat menarik untuk disimak, yaitu ajaran Puasa Tallu Ramadhan (tiga puasa selama ramadhan) yaitu Puasa yang dilakukan hanya tiga hari selama sebulan penuh, mulai dari hari perta “satu puasa” kemudian hari ke lima belas “dua puasa” dan hari terakhir Ramadan “tiga puasa” kemudian Lebaran Idul Fitri.

Peraktek ini berlangsung selama beberapa tahun hingga kesadaran dan kemampuan masyarakat sudah dianggap layak dan sanggup untuk melaksanakan puasa selama sebulan penuh.[4]

Ajaran Puasa Tallau Ramadan sebenarnya hanya diperuntukkan bagi ummat Muslim yang baru memeluk agama Islam (muallaf) yang ada di daerah desa Batetangnga kala itu, karena pada saat Tosalama memperkenalkan ajaran puasa, bermunculan berbagai keluhan dari beberapa masyarakat akan beratnya ibadah tersebut.

Kekhawatiran Tosalama akan ditinggalkannya ajaran Islam yang dibawahnya, maka Beliau pun berinisiatif dengan cara mengurangi jumlah Puasa Ramadan, hal ini bertujuan agar puasa lebih muda untuk diamalkan, dan masyarakat tidak kembali lagi ke kepercayaan luluhurnya.

Sekalipun Puasa Tallu Ramadan sudah ditinggalkan oleh masyarakat pattae di desa Batetangnga saat ini, hal tersebut dapat diamalkan bagi kalangan anak-anak yang masih belajar dan mengenal tentang ajaran ibadah Puasa Ramadan itu sendiri.

Ditulis Oleh: Aminuddin, SH

Catatan Kaki:

[1]H. Matta, t.th.k, Tomakaka Penanian (Binuang: 06 Juni 2013).

[2]Sanre atau sade, yang merupakan dasar kata dari “Sanderatta” (Sandaran Kita) yang bermakna sandaran masyarakat Batetangnga untuk bertanya dalam sesuatu hal yang kurang dimengerti dan dipahami dalam ajaran Islam.

[3]Mimala; sebuah teradisi masyarakat suku Pattae yang mempersembahkan sebuah sesajen yang biasanya berisi telur dan daun-daunan kepada benda-benda keramat seperti Pohon dan Batu, guna mengharapkan kekuatan, perlindungan dan rejeki yang melimpah.

[4]H. Saraila, t.th.k, Imam Mesjid dan Sejarawan Pattae (Binuang: 21 Juli 2013). Dan H. Matta, t.th.k, Tomakaka Penanian (Binuang: 06 Juni 2013).