Beranda Up Date News Ratusan Warga Makan Beralaskan Daun Tarra dalam Tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok

Ratusan Warga Makan Beralaskan Daun Tarra dalam Tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok

172
Tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok
Warga siap santap dalam Tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok. Photo: Amri

PaTTaE.com | Tradisi Mimala Tondok Desa kaleok merupakan tradisi unik yang hanya diadakan pada waktu-waktu tertentu. Tradisi ini dilaksanakan turun temurun oleh warga masyarakat pattae yang ada di Desa Kaleok Kecamatan Binuang, Polewali Mandar.

Setiap wilayah atau daerah mempunyai keragaman budaya atau adat yang berbeda. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan masing-masing daerah yang memiliki cara berbeda-beda dalam berkomunikasi dengan sang pencipta. Demikian halnya yang dijumpai kontributor Pattae.com saat menghadiri tradisi Mimala Tondok di Desa Kaleok, Sabtu 24 November 2018.

Salah satu daerah yang memiliki tradisi atau kepercayaan yang  masih sering dilaksanakan hingga kini seperti di Dusun Tandipura, Desa Kaleok, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar. Tradisi tersebut dikenal dengan istilah Mimala.

Ratusan warga makan beralaskan daun Tarra dalam tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok. Menggunakan daun Tarra, selain memuat banyak makanan karena ukuran daun yang luas, juga terdapat nilai filosofi bagi masyarakat Pattae. Daun Tarra berasal dari bahasa pattae yaitu Tarra atau berhamburan, dipercaya mendatangkan rezeki dari segala sisi yang disediakan alam semesta.

Apa itu Tradisi Mimala Tondok?

Mimala Tondok Desa Kaleok
Proses Mimala Tondok Desa Kaleok. Photo: Amri

Mimala merupakan salah satu ritual yang dipercayai oleh masyarakat Kaleok sebagai sarana dalam berhubungan dengan sang Pencipta (Puang Mikombong). Masyarakat Pattae mengenal beberapa jenis Mimala, diantaranya adalah Mimala Tondok, Mimala Pakka, Mimala Tambabulung, dan lain sebagainya.

Dalam Tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok diadakan ritual mappakande Tomitongko (penunggu langit) dan Tomirande (Penunggu Tanah). Hal ini diyakini masyarakat setempat dapat menjaga kehidupan manusia. Salah satu tokoh adat Desa Kaleok Taming, mengungkapkan “Mimala adalah salah satu pasan (perintah) Nabi Adam kepada anak cucunya. bahwa Tuhan bukan hanya menciptakan langit dan bumi serta segala isinya, tetapi juga menciptakan penunggunya”.

Lebih lanjut Taming menjelaskan, tradisi  Mimala ini bertujuan meminta kepada penunggu setiap ciptaan Tuhan agar menyampaikan kepada Puang Mikombong untuk menjaga kehidupan manusia.

Ritual Mappakande Tomitongko dan Tomirande menggunakan media  Balayuk. Balayuk terdiri dari: Tallang (Bambu) sebagai perantara, Baulu (daun Sirih) sebagai buku, Kalosi (buah Pinang) sebagai Pulpen dan Kapu’(Kapur) sebagai tintanya. Selain itu, disekitar Balayuk ditancapkan potongan Kayu Bere-bere (Tagala) sesuai dengan jumlah ayam yang dikorbankan.

tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok
Foto Balayuk dalam tradisi Mimala Tondok Desa Kaleok. Photo: Amri

Mimala ini juga menyembeli beberapa ekor ayam yang dipercaya sebagai perantara untuk menyampaikan kepada penunggu yaitu ayam merah/malea untuk Tomitongko, Ayam Rame putih kakinya untuk Tomirande/penunggu tanah (litak), Rame Hitam kakinya untuk toma’litak, ayam Hitam (Bolong) untuk penungguh yang megetahui segala isi bumi/Pinjappui appupadang. Ayam kaliabo untuk puang pangngala dibuttu paling tinggi. (Amri)*