Beranda Budaya Pattae Sanggar Seni Sipatuo Mammesa Ikut Memeriahkan Pagelaran PIFAF 2018

Sanggar Seni Sipatuo Mammesa Ikut Memeriahkan Pagelaran PIFAF 2018

184
Tarian Mappaturun Salu meriahkan PIFAF 2018. Foto : Fikri

PaTTaE.com | Sanggar seni Sipatuo Mammesa Mirring ikut andil pada pagelaran seni budaya yang berlangsung di Sport Center Polewali Mandar, Rabu 1/8/2018.

Merupakan penampil kedua setelah komunitas seni FORMASI Polman, sanggar seni Sipatuo Mammesa menampilkan tarian khas etnis Pattae khususnya daerah Mirring Kecamatan Binuang pada kegiatan Polewali Mandar International Folk and Art Festival (PIFAF) pada Rabu malam (1/8).

Sebagai bentuk kepedulian untuk menjaga, dan melestarikan budaya para leluhur etnis pattae, tradisi “mappaturung Salu” kemudian dikemas dalam bentuk tarian, dan diperagakan sedikitnya 6 orang penari dari kaum perempuan.

Dengan keindahan, serta alunan musik mengiringi tarian tradisional khas Pattae “Mappaturung Salu”. Penampilan komunitas seni yang berdiri sejak tahun 2017 ini mampu memukau para penikmat yang datang menyaksikan pertunjukan Festival seni budaya Polewali Mandar.

penampilannya sangat bagus, keren dan sangat menarik” Ujar Husnawati, warga asal daerah Labasang yang sempat hadir menyaksikan pagelaran seni budaya pada Rabu malam kemarin (1/8), di Sport Center Polewali Mandar.

Tampilnya sanggar seni Sipatuo Mammesa pada Festival Seni Budaya tahun 2018 ini merupakan kali pertama dilakukan. Pembina sanggar seni tersebut berharap para anggotanya dapat menciptakan karya-karya terbaik mereka kedepan.

semoga kedepannya selalu ada dan tetap jadi wadah sipakario-rio (gembira bersama) bagi pemuda Mirring, Khususnya Masayarakat Pattae untuk berkarya, menuangkan imajinasi dalam dimensi seni” Ujar Adnan, selaku pembina sanggar seni Sipatuo Mammesa Mirring.

Tentang Tarian “Mappaturung Salu” Etnis Pattae

Tarian Mappaturun Salu meriahkan PIFAF 2018. Foto : Fikri

Pada dasarnya, tarian tersebut merupakan penggambaran budaya atau tradisi masyarakat suku pattae yang kerap dilakukan hingga kini di tempat-tempat keramat. Dengan melakukan tradisi “Mappaturung Salu”, masyarakat etnis Pattae menyediakan persembahan sesajen dalam wadah berbahan dasar Bambu yang disebut “Balasuji”.

Bukan hanya itu, tarian ini juga mengandung nilai-nilai filosofi tinggi, dimana tradisi “Mappaturung Salu” merupakan bentuk rasa syukur masyarakat etnis Pattae kepada sang dewata atas dikabulkannya do’a mereka.

Pada kegiatan PIFAF 2018 ini, melalui sanggar seni Sipatuo Mammesa, memperkenalkan tradisi dan budaya suku Pattae agar dikenal oleh masyarakat luas, baik Nasional, maupun Internasional.(Echi*/)