Beranda Opini Sejarah Buah Kamande dan Terbentuknya Nama Desa Batetangnga

Sejarah Buah Kamande dan Terbentuknya Nama Desa Batetangnga

250
BAGEI TOLAEN !
Ilustrasi

PATTAE.com | Desa Batetangnga tentu memiliki sejarah sendiri, seperti desa-desa lainnya baik itu sejarah masyarakatnya, maupun sejarah tentang darimana asal muasal mengapa nama desa disebut dinamakan sebagai Batetangnga.

Konon katanya, pada masa kekerajaan Binuang, terdapat tiga wilayah kekuasaan yang disebut dengan “Tallu Bate” yaitu Ulu Bate, Bate Tangnga, dan Cappak Bate. Para sesepuh yang tahu tentang sejarah batetangnga mengatakan bahwa, ketiga bate tersebut di pimpin oleh para tomakaka yang berkoordinasi langsung dengan pihak kerajaan.

Asal-usul Nama Desa Batetangnga dan Buah Kamande

Awal mula kata Desa Batetangnga, diambil dari kata suatu wilayah kekuasaan yang disebut “Bate Tangnga” dimana wilayah ini merupakan pusat pertemuan para “Tomakaka” dari berbagai wilayah Bate

Bate Tangga dimata kerajaan Binuang, merupakan suatu wilayah yang sangat di perjaya oleh raja Binuang, sehingga kedua bela pihak memiliki hubungan erat, dan saling menopang diantara keduanya.

Kedekatan Tomakaka-Tomakaka yang ada di wilayah Bate Tangnga dan kerajaan Binuang ini membentuk satu kesepakatan kesetiaan, dalam bentuk perjanjian, dan buah kamande sebagai bentuk kesepakatan antara kedua bela pihak.

Diantara isi perjanjian dalam lontara Bate Tangnga dengan pihak Kerjajaan Binuang yaitu:[1]

“PASAN” (PERJANJIAN)

Andiri Tattepponni Binuang, Bubungan Tarrobokki Bate Tangnga

Rinding Ngalloi Binuang, Sapu Tam Madinnginni Bate Tangnga

BinuangTappa Gau Bawang, Bate Tangnga Tappa Welai

Malilu Sipaka Inga

Mali Siparappe

Raba Sipatokkon

Kedengan Tekkai Pasan

La Kububakkawanni,

La Mate Tombangngi

La Marekko Balasana

Mabulu Tinja Tam Mabulu Parimundinna

 Terjemahan:

Tiang Tak bisa Tumbang Binuang, Atap Pelindung Bate Tangnga

Dinding di Waktu Siang Binuang, Selimut di Waktu Kedinginan (malam) Bate Tangnga

Binuang Berbuat Semenah-Menah, Bate Tangnga Langsung Meninggalkan

Lupa Saling Mengingatkan

Hanyut saling menolong

Tumbang Saling Menegakkan

Jika ada yang melanggar Peraturan

Akan Saya Remukkan

Akan Mati Tersungkur

Akan Kering Kelaminnya

Berbulu (bayak cabang) Janji Tidak Berbulu Dibelakangnya

Setelah dibacakannya perjanjian tersebut, buah Kamande[2] kemudian direndam kesungai dengan diaduk, sebagai simbol kesepakatan perjanjian antara pihak Kerajaan dengan pihak Bate Tangnga.

Jika ada pihak yang melanggar perjanjian, baik itu dari pihak Kerajaan maupun pihak Bate Tangnga, maka buah kamande akan meracuni salah satu diantara kedua pihak yang telah melakukan pelanggaran tersebut.

Ketika pihak kerajaan yang melanggar, maka buah kamande akan mengalir kewilayah kerajaan dan meracuninya, dan jika pihak Bate Tangnga yang melanggar, maka buah kamande akan mengalir kepihak Bate Tangga dan meracuninya pula.

Dengan perjanjian ini, maka antara pihak Kerajaan Binuang dan pihak Bate Tangnga akan terjalin kerukunan dan kedamaian antara mereka.

Ketika pihak Kerajaan Binuang melanggar perjanjian ini, pihak Tomakaka Penanian, dan Tomakaka Biru yang ada di wilayah Bate Tangnga memilih meninggalkan Kerajaan Binuang.

Dimana, Tomakaka Penanian hijrah ke wilayah kampong Rajan di wilayah Kab. Pinrang dan untuk Tomakaka Biru hijrah kewilayah kampong Matangnga di wilayah Kec. Matangnga Kab. Polewali Mandar. Namun, karena Pihak Kerajaan Binuang memohon maaf, dan siap untuk Makkasarawi,[3] Maka mereka pun kembali, dan menjadi alasan terbentuknya Tomakaka Kanang nantinya.

Begitulah kisah antara Bate Tangnga dan Buah Kamande, serta sejarah terbentuknya Desa Batetangnga, itu setelah kemerdekaan Indonesia

Sejarah Terbentuknya Desa Batetangnga

Pada tahun 1959 dengan dikeluarkannya UU No. 29 Tahun 1959, maka sistem kerajaan di hapuskan dan Orderafedeling Polewali dan Orderafedeling Mamasa di gabung menjadi Kab. Polewali Mamasa.[4]

Dua tahun setelahnya, tepat pada Tahun 1961 Para Tomakaka dan masyarakat Bate Tangnga bersepakat untuk mengadakan pemilihan Kepala Desa yang pada akhirnya memilih DAMANG sebagi kepala desa pertama.

Setelah, Damang, meninggal dunia, maka yang menjadi Kepala Desa kedua adalah Abd. Wahab pada & waktu itu ia menjabat sebagai Sekretaris Desa periode 1964 sampai 1966.[5]

Selain melakukan pemilihan Kepala Desa pada saat itu juga, dilakukan pemilihan nama desa, sekaligus identitas wilayah dalam berbangsa bernegara.

Berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat dan Tomakaka, maka dipilihlah nama Batengang sebagai nama desa karena pada masa Kerajaan daerah ini memang disebut Bate Tangnga sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Binuang.[6]

Itulah sejarah singkat tentang desa Batetangnga, sekali pun sebenarnya tulisan ini masih sangat jauh dari kata sempurnah sebagai bahan representatif untuk menjelaskan tentang sejarah penamaan desa Batetangnga.

Saya menyadari bahwa sejarah penamaan Batetangnga cukuplah panjang, dan mungkin bisa menghabiskan beberapa halaman jika kita menulisnya.

Selain itu data-data pendukung empiris juga sangat dibutuhkan, sehingga kehati-hatian dalam memilih data sangat diperlukan. Di tambah lagi dengan kesempatan yang tidak memungkinkan untuk menjelaskan secarah keseluruhan, sehingga, penulis berusahan keras melakukan pressing, guna menghadirkan tulisan yang tidak memerlukan waktu terlalu panjang.

InsyaAllah, dilain kesempatan, bersama-sama Pegiat Sejarah Pattae, kita bisa melahirkan tulisan yang lebih sempurna dariapa yang saya tulis pada kesempatan ini.

Penulis: Aminuddin, S.H (Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar)

Catatab Kaki:

[1]H. Saraila, t.th.k, Imam Mesjid dan Sejarawan Pattae (Binuang: 21 Juli 2013). Catatan; Untuk terjemahan jika ada kesalahan harap diperbaiki karena pihak penulis juga kurang mengerti ejaan lama Pattae dan pihak narasumber tidak menyampaikan terjemahannya secara keseluruhan (mungkin terburu-buru/lupa).

[2]Kamande; atau dalam bahasa Indonesia racun Ikan yang bayak digunakan suku Pattae dalam menangkap ikan. Kamande sendiri bayak terbuat dari akar-akaran tumbuhan semak atau buah-buahan tertentu, kemudian lasimnya dicampur degan cabai rawit, kemudian dihaluskan lalu dimasukkan kedalam wadah untuk direndam kedalam sungai guna menangkap ikan. Dengan Kamande, ikan keluar dari selah-selah bebatuan (sarang) karena tidak tahan terhadap pengaruh Kamande, kemudian ikan juga dengan mudah dapat ditangkap karena mabuk.

[3]Makkasarawi; Merupakan tradisi masyarakat Pattae sebagai permohonan maaf bagi orang yang berbuat salah, terhadap orang lain dengan menyerahkan satu ekor kerbau hitam sebagai bukti penyesalan dan tidak akan mengulangnya kembali.

[4]Undang-UndangRepublik Indonesia Nomor 29 Tahun 1959 TentangPembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, t.d, file:///C:/Users/unm%20sospol/Downloads/UU_NO_29_1959.PDF, (02 Mei 2017).

[5]Scribd: ProfilDesa, t.d, https://www.scribd.com/document/338391720/BAB-II-Profil-Desa (02 Mei 2017).

[6]H. Saraila, t.th.k, Imam MesjiddanSejarawanPattae (Binuang: 21 Juli 2013).