Beranda Sejarah & Budaya Sejarah Penamaan Salu Paja’an dan Kampung Rappoang

Sejarah Penamaan Salu Paja’an dan Kampung Rappoang

214
BAGEI TOLAEN !
Penulis : Aminuddin, SH (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri “UIN” Alauddin Makassar)

PATTAE.com | Salu atau Sungai Paja’an, merupakan salah satu destinasi wisata unggulan Dengan disuguhi air yang segar, taman yang indah dan pemandangan yang memanjakan mata, sehingga membuat para pengunjung ingin berlama-lama di kawasan ini. Akan tetapi, mungkin belum banyak yang mengetahui sejarah akan peristiwa dan penamaan sungai Salu Paja’an yang terletak di desa Batetangnga, Kec. Binuang, Kab. Polewali Mandar ini?

Tulisan ini akan mengungkap sedikit tentang sejarah mengapa aliran sungai yang ada di dusun Rappoang dinamai dengan Salu Paja’an serta kaitannya dengan kampung Rappoang. Berikut ulasannya.

Sejarah Penamaan Kampung Rappoang

Sejarah dan penamaan Salu Paja’an, tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang kampung Rappoang. Dimana kampung Rappoang ini, sekalipun terdengar familiar pada masyarakat desa Batetangnga akan tetapi, sampai hari ini ketika bicara kampung Rappoang dan bertanya akan sejarahnya, maka kita akan menemukan suatu fakta bahwa, mayoritas masyarakat desa Batetangnga kurang mengetahui kecuali orang-orang tua yang kini juga tinggal beberapa orang saja.

Dengan demikian, kurangnya pengetahuan masyarakat akan sejarah dan penamaan kampung desa Batetangnga, maka kita telah berada di suatu titik penghujung, Dimana masyarakat desa Batetangnga akan kehilangan suatu identitas sejarah yang apabila diabaikan, maka generasi mendatang hanya tahu nama saja, tanpa mengetahui sejarah penamaannya.

Cerita tentang kampung Rappoang berawal dari Tomakaka Biru yang memutuskan untuk menikahkan anak perempuannya dengan seorang anak laki-laki Tomakaka Penanian. Dengan ini, maka Tomakaka Biru dengan Tomakaka Penanian menjadi “besan” yang membuat anak laki-laki Tomakaka Penanian harus tinggal bersama dengan Tomakaka Biru beserta istrinya di wilayah kampung Biru yang berada di sebelah Barat sungai Binuang.

Suatu ketika, Tomakaka Biru beranjak tua dan tidak mampu lagi menjalankan tugasnya sebagai Tomakaka Biru diwariskanlah jabatannya kepada generasi penerusnya. Dengan tujuan untuk melanjutkan amanah yang diembannya sebagai Tomakaka Biru namun, anak kandung Tomakaka Biru ini tidak ada yang dirasa cocok untuk mewarisi jabatannya sebagai Tomakaka. Anak yang digadang-gadang menjadi penggantinya, mengalami kecacatan pisik (tuna rungu) sehingga, Tomakaka Biru memilih menantunya dari jalur Tomakaka Penanian.

Dengan terpilihnya menantu Tomakaka Biru dari jalur anak Tomakaka Penanian menjadi Tomakaka Biru selanjutnya membuat anak Tomakaka Biru yang bernama Tonggo sangat marah “mengapa harus memilih orang lain menjadi Tomakaka kalo anak sendiri masih ada” Tomakaka Biru mengungkap alasannya mengapa ia memilih menantu dari pada anak sendiri, karena ia melihat adanya kecacatan yang dimiliki oleh putranya (Tonggo) sehingga membuat Tomakaka menjadi ragu akan kepemimpinannya kelak ketika ia menjabat sebagai Tomakaka Biru.

Tomakaka Biru masih tetap pada keputusannya dan putranya (Tonggo) tidak bisa menerima sehingga memutuskan meninggalkan kampung Biru secara diam-diam tanpa pamit kepada Tomakaka Biru menuju suatu lembah yang sekarang dikenal sebagai kampung Rappoang.

Merasa kesal, Tonggo ingin membuktikan kepada ayahnya (Tomakaka Biru) bahwa kecacatan buakanlah suatu penghalang pantas atau tidaknya menjadi seorang Tomakaka. Maka Tonggo besikukuh tidak mau pulang dan komitmen terhadap pendiriannya, bahwa ia tidak akan pernah kembali selama yang diangkat menjadi Tomakaka Biru bukan dia. Sedangkan ayahnya juga merasa bahwa keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang benar dan yang terbaik untuk masa depan anaknya dan kampung Biru kedepannya.

Setelah beberapa pekan berlalu, kekhawatiran dan kecemasan Tomakaka Biru kepada putranya sudah mulai dirasakan. Maka ia pun mengutus seseorang untuk mengikuti dan mencari keberadaan tempat tinggal Tonggo dan rombongannya. Ketika orang yang telah diutus telah kembali, maka Tomakaka Biru pun bertanya dengan bahasanya; “Imbomo tu nasingi nana lako rappo’o?” (dimanakah letak keberadaan anak itu singga?) utusan menjawab, “ia berada disanah” sambil menunjuk kearah selatan kampung Biru, tepatnya di lembah antara gunung Lumalan dan gunung Pusuk yang sekarang kawasan ini desebut dengan Lan’ja.

Diketahuinya keberadaan Tonggo, maka Tomakaka Biru mengutus kembali salah seorang pembawa pesan agar kiranya Tonggo berkenan untuk kembali ke kampung Biru dengan para rombongannya. Akan tetapi pendirian Tonggo tetap masih kukuh, bahwa ia tidak akan kembali selama peralihan Tomakaka Biru tidak diserahkan kepadanya.

Kukuhnya Tonggo dalam pendiriannya, Tomakaka Biru memutuskan untuk mengangkat Tonggo menjadi Tomakaka, namun bukan di kampung Biru. Tonggo diangkat menjadi Tomakaka di wilayah dimana Ia sekarang menetap (rappo). pengangkatan ini sebagai bentuk hadiah dan obat, agar ketengangan antara orang tua dengan anak dapat diselesaikan. Selain pengangkatan Tomakaka, mereka juga memberi nama kampung ini sebagai Rappoang berdasarkan persinggahan mereka untuk lari dari kampung Biru.

Sejarah Penamaan Salu Paja’an

Wilayah Rappoang dulu kala merupakan wilayah Biru sebelumnya tetapi, wilayah Biru dibagi dua, yaitu wilayah Biru itu sendiri dengan Rappoang dimana batas yang ditentukan oleh Tomakaka Biru yaitu aliran sungai Salu Liang. Akan tetapi, wilayah Rappoang dengan batas Salu Liang dirasah oleh Tomakaka Rappoang (Tonggo) sangatlah sempit, sementara wilayah Biru masih sangat luas. Berdasarkan kondisi ini, maka batas Rappoang di Salu Liang di pindahkan ke Salu Paja’an dengan komitmen Tomakaka Biru bahwa batas ini tidak akan berpindah lagi sampai kapanpun atau bahasa lokalnya “Paja’mi Lette”.

Dengan komitmen dari Tomakaka Biru bahwa “Paja’mi Lette” atau tidak akan pindah lagi batas kampung ini, maka sungai inipun diberi nama Salu Paja’an yang bermakna komitmen dari seorang Tomakaka kepada anaknya yang menginginkan pelebaran suatu wilayah kekuasaan karena wilayah yang ia miliki pada saat itu sangatlah sempit sementara wilayah yang dimiliki oleh ayahnya sangatlah luas.

Salu Paja’an sejak terbentuknya desa Batetangnga, merupakan batas dusun Rappoang yang kemudian melakukan pemekaran dengan membentuk dusun Lumalan, sehingga Salu Paja’an yang tadinya merupakan batas dari dusun Rappoang menjadi batas dari dusun Lumalan. Tetapi sekalipun demikian, sejarah akan Salu Paja’an dengan kampung Rappoang tidak bisa dipisahkan, karena ini merupakan bagian dari sejarah desa Batetangnga yang sangat penting dan menjadi warisan generasi muda yang akan datang.