Beranda Opini Terdapat Dua Versi Sejarah Terbentuknya Kampung Kanang

Terdapat Dua Versi Sejarah Terbentuknya Kampung Kanang

708

Pendapat Kedua:

Dahulu kala Kanang hanya merupakan sebuah hutan dan hanya dihuni oleh beberapa rumah penduduk. Dengan adanya penduduk ini maka mereka menginginkan seorang pemimpin yang disebut Tomakaka, yang nantinya sebagai penasehat sekaligus pemecah masalah yang timbul diwilayah mereka.

Seperti pendapat pertama, kampung Kanang merupakan pecahan dari kampung Penanian, dengan diangkatnya mantan Tomakaka Penanian sebagai Tomakaka pertama kampung ini berdasarkan kesepakatan Raja Binuang.

Tidak jauh dari kampung ini, terdapat sebuah sumur dimana sumur itu ditumbuhi oleh rumput yang berasal dari laut, yang disebut sarri kanang (rumput kanang). Karena rumput ini berada di sumur tempat para penduduk untuk mengambil air, maka merekapun memutuskan menyebut nama kampung mereka sebagai kampung Kanang hingga sampai sakarang.[9]

Sekalipun cerita sejarah kedua tentang kampung Kanang tidak terlalu panjang dan sudah tidak ada yang bisa diceritakan, karena sebatas itulah penyampaian sejarawan pihak kedua.

Setidaknya itu lah yang menurut pihak kedua dalam sejarah kampung Kanang. Kami pun masih bingung mengapa harus rumput kanang, padahal daerah ini dulunya dipenuhi oleh pohon panggala, atau adakah cerita yang lebih berarti yang melatar belakangi sehingga rumput kanang yang harus menjadi pilihan. tapi semua itu tidak jadi masalah, yang penting hidup rukun

Itulah sejarah singkat tentang desa Batetangnga dan Kanang, sekalipun sebenarnya tulisan ini masih sangat jauh dari kata sempurnah sebagai bahan representatif untuk menjelaskan tentang sejarah penamaan desa Batetangnga.

Saya menyadari sejarah penamaan Batetangnga cukuplah panjang dan mungkin bisa menghabiskan beberapa halaman. Selain itu data-data pendukung yang empiris juga sangat dibutuhkan, sehingga kehati-hatian dalam memilih data sangat diperlukan.

Ditambah lagi kesempatan ini yang tidak memungkinkan untuk menjelaskan secarah keseluruhan, sehingga penulis berusahan keras untuk melakukanpressing,guna untuk menghadirkan tulisan yang tidak memerlukan waktu yang terlalu panjang. Dan Insyaallah, dilain kesempatan, bersama-sama Pegiat Sejarah Pattae, kita bisa melahirkan tulisan yang lebih sempurna.

Akhirnya dengan tulisan ini, kita semua bisa berharap dapat memilih apa yang seharusnya kita putuskan, apakah harus tetap desa Batetangnga atau desa Kanang, dan siap untuk menerima resiko yang timbul kedepannya bila harus meruba nama desa.Wassalam..!!

Ditulis Oleh: Aminuddin, S.H

***


[1]Penanian; merupakansebuahkampung dalm wilayah Bate Tangnga yang dulunya digunakan sebagai tempat untuk menani (menyanyi sambil dibarengi dengan tarian). Dengan dingunakannya sebagai tempat menani maka kampung ini disebut Penanian yang diambil dari dasar kata menani kemudian ditambahkan kata “Pe” di awal dan “an” di akhir kata yang berarti tempat menyanyi.

[2]Paccepok; Gelar yang diberikan kepada pihak musuh/orang yang ketika menyerang korbannya akan memotong lehernya sampai terputus. Kebayakan dari mereka mengambil kepala korban untuk diperlihatkan kepada pimpinannya sebagai bukti akan keberhasilan suatu misi.Lihat juga; Pattae.com, 14 Mei 2017,http://pattae.com/paccepok-legenda-teror-sang-pemburu-kepala-dalam-masyarakat-suku-pattae/(14 Mei 2017).

[3]Makkasarawi; Merupakan sebuah tindakan bagi orang yang berbuat salah terhadap orang lain dengan menyerahkan satu ekor kerbau hitam sebagai bukti penyesalan dan permohonan maaf.

[4]Manggonggo;Merupakan kebiasaan masyarakat Pattae dalam menjamu seorang tamu besar (Raja, Bupati, Gubernur), dengan menyisihkan sebagian hasil panen buah dalam bentuk durian, langsat dan rambutan.Onggo sebenarnya terbagi dua macam yaitu;Onggo Baca dan Onggo Kasiwan,Onggo Baca merupakan Onggo pertama sebagai ucapan sukur kepada Sang Khalik sebagai pemberirejeki, sementara Onggo Kasiwan diberikan kepada Raja sebagai penghormatan dan sedekah dari hasil panen buah yang ada. Kegiatan Onggomasih bisa dijumpai pada masyarakat Batetangnga hingga sampai sekarang, hanya saja tinggal Onggo Kasiwan.

[5]Tengguru Matta, t.th.k, Tomakaka Penanian(Binuang: 06 Juni 2013). dan H. Saraila, t.th.k, Sejarawan Pattae Sekaligus Orang yang Dituakan (Binuang: 21 Juli 2013).

[6]H. Nota, t.th.k,Tokoh Sekaligus Ulama Masyarakat Desa Batetangnga (Binuang: 2007).

[7]Tengguru Matta, t.th.k, Tomakaka Penanian(Binuang: 06 Juni 2013).

[8]Lihat; Kuningan Terkini, 11 November 2015; http://www.kuninganterkini.com/index.php/pemerintahan/4511-bupati-linmas-tangan-kanan-pemerintah.html (11Mei 2017). Liahat juga; Pemerintahan Kab. Mahakam Hulu, t.d, http://mahakamulukab.go.id/staf-ahli-berfungsi-sebagai-tangan-kanan-bupati/ (11 Mei 2017). Dan, Tulisan Untuk Indonesia, 5 April 2015, http://bahatrasia.blogspot.co.id/2015/04/ungkapan-bahasa-indonesia-dan-artinya.html, (11 Mei 2017).

[9]Hasan Dalle; Tomakaka Biru (Binuang: 16 Juli 2013).