Beranda Budaya Pattae Tradisi Ma’bongi Masyarakar Suku Pattae’

Tradisi Ma’bongi Masyarakar Suku Pattae’

136
BAGEI TOLAEN !
salah satu tradisi yang ada di kampung (Pa'Bongian)

PATTAE.com | Sama seperti etnis lainnya yang ada di Indonesia, dan etnis yang ada di pulau Sulawesi selatan dan barat khusunya, terdapat beragam tradisi yang berbeda dalam memperingati hari kematian.

Pada etnis pattae’ yang ada di pulau Sulawesi bagian barat, memiliki tradisi yang disebut dengan Pa’bongian atau Ma’bongi untuk memperingati, atau mengenang sanak keluarga yang telah meninggal dunia.

Bongi artinya Malam, kata Ma’ menunjukkan Penambahan suku kata menjadi kata kerja. Jadi, Ma’bongi dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai memperingati hari kematian yang di lakukan pada malam hari.

Ritual Ma’bongi ini merupakan tradisi yang di lakukan mulai hari ke-3 dari kematian salah satu sanak keluarga, kerabat, dalam masyarakat pattae’ yang telah meninggal dunia. dan ritual ini di laksanakan sampai ke-100 dari harinya.

Sejarah, atau asal-muasal dari pada tradisi Ma’bongi dalam masyarakat pattae’ ini, tidak memiliki referensi yang kuat soal sejarah tradisi tersebut, hal ini dikarenakan para orang terdahulu dalam masyarakat pattae’, sejarah hanya di sampaikan melalui lisan, tanpa tulisan, sehingga tidak cukup banyak masyarakat pattae’ yang mengetahui sejarah Ma’bongi ini, dan mungkin para pembaca juga tidak tahu, mengapa harus ada tradisi Ma’bongi tersebut.

Jadi, untuk sejarahnya, dalam tulisan ini, tidak menjelaskan asal-muasalnya, hanya menjelaskan tradisi Ma’bongi. Itupun, mungkin saja tidak sepenuhnya benar, namun, paling tidak kita bisa menulis apa yang kita tahu, dan mencoba mengangkat kebiasaan masyarakat pattae’ yang belum begitu banyak orang yang mengetahuinya.

Baik, tidak usah berlama-lama, langsung saja kita bahas tentang tradisi Ma’bongi masyarakat pattae’.

Tradisi memperingati hari kematian ini dilaksanakan sebanyak 4 kali sampai pada malam ke-100 hari yaitu; mulai pada malam ke-3 dari hari kematian yang dalam suku Pattae’ disebut “Ma’bongi tallu”, malam ke-14 “Ma’bongi duapitu”, malam ke-40 “Ma’bongi Appatappulo”, dan terakhir, sebagai malam puncak yaitu malam ke-100 hari “Ma’bongi Saratu”.

Setelah malam ke-100 harinya selesai, maka seluruh rangkaian peringatan hari kematian dianggap sudah selesai. Mungkin, beberapa etnis yang ada di Sulawesi, dan suku yang ada Indonesia pada umumnya, memiliki kesamaan dalam peringatan hari kematian tersebut, seperti Etnis Jawa, dan Etnis Bugis.

Tradisi ini memiliki kesamaan seperti yang di lakukan oleh etnis jawa (khususnya jawa timur), yang memperingati malam kematian dari salah satu sanak keluarganya setiap malamnya.

Pada masyarakat etnis jawa, juga dimulai pada malam ke-3 dari hari kematian, kemudian di lanjut pada malam ke-7, malam ke-40, malam ke-100, dengan melakukan kegiatan tahlilan dan walimahan, begitupun juga dibeberapa etnis Bugis (baca: Upacara Kematian pada Suku Bugis) yang juga menjalankan peringatan kematian sampai malam ke-100 hari .

Dalam memperingati malam kematian salah satu sanak keluarganya yang telah meninggal, pada Etnis Jawa, di lakukan tidak hanya sampai pada malam ke-100 harinya tapi, juga dilakukan sampai pada malam ke-1000 harinya dari hari kematian.

Hal ini lah yang membedakan dengan peringatan hari kematian etnis Jawa dengan etnis Pattae’, meskipun memiliki kesamaan dari beberapa aspek seperti “Tahlilan”, dan sama-sama di mulai pada malam ke-3 dari hari kematiannya,

Pada etnis Bugis juga memiliki perbedaan, pada etnis bugis di Sulawesi selatan yang juga mirip dengan prosesi ma’bongi dalam masyarakat pattae’ dan perbedaannya hanya terletak pada tradisi Ma’baje saja.

Pembeda dari tradisi antara etnis jawa, etnis bugis dan etnis pattae’ terletak pada prosesinya. Pada etnis pattae’, ada yang disebut Ma’Baje’, yaitu pembuatan Baje’ (makanan khas pattae’ yang terbuat dari beras ketan, di campur dengan kelapa dan gulah merah),

Ma’baje inilah yang juga menjadi pembeda dengan prosesi yang di lakukan baik itu etnis Jawa, maupun etnis bugis pada malam peringatan hari kematian dengan etnis pattae’. Untuk prosesi lainnya sama, seperti membaca setiap Juz dalam Al-Qur’an, dan kemeriahan malam ke-14 dan malam ke-100 hari.

Tradisi Ma’bongi ini, sama seperti pada etnis jawa dan etnis Bugis, di anggap sebagai warisan warisan dari agama hindu dan budha yang membudayakan acara setelah kematian seperti malam ke-3, Ke-7, ke-40, ke-100, dan malam ke-1000 hari

Oleh beberapa paham atau mashab dalam ajaran Islam seperti wahabi, dan muhammadiyah. Namun, hal ini mendapat pelurusan dari beberapa masyarakat Nahdiyyin di Indonesia dengan mengutif beberapa hadits, dan dalil tentang permasalahan melaksanakan tradisi memperingati hari kematian.

Oke, terlepas dari perdebatan tentang Bid’ah atau bukan, saya tidak bisa menjelaskan dan saya serahkan kepada khlayak pembaca untuk menilai sendiri dengan rasional, dan dengan hati nurani yang penuh kedamaian, jangan memunculkan kebencian atau bahkan permusuhan. Damai itu indah dan mantap jiwa, satu lagi, jangan lupa bahagia.

Baik, kita lanjut membahas tentang Ma’bongi dalam masyarakat pattae’.

Ma’bongi dalam Masyarakat Pattae’

Tradisi Ma’bongi masyarakat pattae’, merupakan hal yang sering di lakukan oleh sebagian besar masyarakat Pattae’. Ma’bongi merupakan suatu tradisi untuk memperingati hari kematian sanak saudara yang telah meninggal dunia.

Kegiatan tersebut, seperti yang telah dijelaskan pada bagian-bagian atas tulisan ini, dimana, kegiatan peringatan kematian di lakukan pada malam hari dan dilakukan sampai malam ke-100 hari dari hari kematian salah satu keluarga.

Masyarakat pattae’ dalam tradisi Ma’bongi memiliki perbedaan setiap malam peringatannya. Pada malam ke-3 (Ma’bongi Tallu), malam ke-7 (Bongi Pitu), dan malam ke-40 (Bongi Appatappulo) biasanya di lakukan dengan sederhana saja, dan hanya dihadiri oleh keluarga dekat, dan tetangga.

Pada malam ke-14 (Bongi Duapitu) dan malam ke-100 hari (Bongi Saratu), baru dilakukan dengan meriah, yang dihadiri bukan hanya orang-orang terdekat saja, namun seluruh masyarakat Pattae’ ikut memperingatinya.

Pada malam ke-14 dan malam ke-100 hari, pihak keluarga yang mengadakan Pa’bongian biasanya menyembeli hewan seperti kamping atau sapi sebagai makanan pada malam harinya bersama dengan sanak saudara, kerabat, dan tetangnga yang datang Ma’bongi.

Tradisi tersebut juga memiliki nilai kemanusian yang sangat tinggi, saling berbagi duka dan lain sebagainya, sebagai contoh, masyarakat pattae’, dalam menjalankan tradisi ma’bongi, adalah menenteng panci yang berisi 1 sampai 2 liter beras, kemudian diserahkan ke keluarga duka dengan ikhlas membantu dalam hal ekonomi untuk menjalankan malam Pa’bongian tersebut.

Lalu, beras yang di tenteng tadi dalam panci, kemudian diserahkan dan di tukar dengan Baje’, dan juga biasa berpasangan dengan 1 buah pisang yang kemudian dibawah pulang kerumah masing-masing.

Sama seperti etnis jawa, dan etnis bugis, dalam peringatan tersebut pihak keluarga yang meninggal, memanggil keluarga mereka, kerabat, dan tetangganya, untuk hadir dalam acara peringatan tersebut yang biasa di isi dengan acara zikir, yasinan, dan setalah itu menyantap makanan yang telah disediakan tuan rumah,

Untuk yang ikut dalam zikir atau yasinan, mendapat beberapa Baje’ ditambah 1 buah pisang yang terbungkus dalam satu plastik kecil, dan yang tidak ikut biasanya hanya mendapat 1 Baje saja.

Malam pa’bongian atau Ma’bongi dalam masyarakat Pattae’, merupakan suatu tradisi yang sudah mendarah daging, dan masih dijaga serta dijalankan oleh keturunan etnis Pattae’ sampai sekarang.

Meskipun, tradisi ini sedikit telah mulai berubah bentuk seperti pengurangan malam peringatan, yang tadinya terdapat 4 kali dilaksanakan selama 100 hari, menjadi 2 hari, dan bahkan pernah 1 hari yaitu, hanya malam ke-3 dari hari kematian.

Ada juga yang menambahkan tradisi tersebut, dengan mengikutkan tradisi umum, seperti menjalankan malam Ta’syiah, namun, esensi dari tradisi ini masihlah melekat seperti kebersamaan, merasakan duka yang sama, dan tidak memandang perbedaan strata sosial.

Terkikisnya tradisi ini juga di pengaruhi oleh sebagian paham dalam agama islam yang melarang kegiatan tersebut, dan juga di pengaruhi oleh faktor ekonomi, sehingga sulit untuk menjalankan tradisi tersebut yang sudah mendarah daging pada masyarakat Pattae’.

Meski adanya pengikisan budaya Ma’bongi ini, jangan sampai juga mengikis rasa persaudaraan, rasa duka bersama, dan rasa kerja sama yang sudah tertanam dalam tradisi Ma’bongi etnis Pattae’.

Sekian, Wassalam..!