Abd Muis: 5 Poin Penanganan Covid, Salah Satunya PILKADA Harus Ditunda

Jumlah Pasien positif virus corona (Covid-19) di Indonesia masih terus meningkat. Hingga Minggu (20/9/2020) terdapat penambahan kasus positif sebanyak 3.989 orang. Sehingga secara akumulasi, pasien positif covid-19 di Indonesia mencapai 244.676 orang. Sebanyak 177.327 orang sembuh dan 9.553 orang meninggal dunia. Beberapa daerah mengalami kenaikan status daruratnya bahkan ada daerah yang kembali berstatus PSBB (Pembatasan sosial berskala besar). Hal ini dinilai sangat mengkhawatirkan jika terus mengalami peningkatan.

Ketua Bidang Pengurus Bsesar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Abd. Muis Amiruddin mengungkapkan bahwa perlu kerja keras semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini. “Terutama Pemerintah dimana ujung tombak ada pada Bapak Presiden Joko Widodo,” ucapnya.

Dia berpendapat bahwa sejak awal pandemi terjadi di Indonesia pemerintah lamban mengantisipasi sehingga Covid-19 terlanjur menginvasi seluruh wilayah. “Ada banyak jejak digital, kita bisa jumpai terkait tanggapan pemerintah saat terjadi kasus pertama Covid-19 di Kota Wuhan,” ujarnya.

Abd. Muis mengatakan jika tidak perlu lagi mencari kambing hitam untuk saling menyalahkan, akan tetapi mencari upaya untuk merapikan sistem manajemen sosial ekonomi dan politik berbangsa untuk melewati masa-masa krisis seperti saat ini. Menurutnya, semua pihak perlu berjuang lebih keras dengan sedikit pengorbanan untuk melewati masa-masa pandemi seperti ini.

Dia juga menerangkan bahwa ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah terkait dengan penanganan Covid-19 ini.

Menurutnya, hal pertama yang menjadi persoalan adalah masalaha ekonomi. Dia menuturkan bahwa masa-masa ini amat sangat krisis, kelompok masyarakat menengah yang akan naik kelas stagnan pada posisinya bahkan turun ke kelas ekonomi lebih rendah, sedangkan yang status ekonomi lemah semakin terpuruk.

“Situasi seperti ini program sosial untuk menyelamatkan ekononi rakyat menjadi sangat penting. Dalam Logika memancing ikan dengan pendekatan program sosial, mereka tidak lagi pada posisi diberi pancing lalu mereka mencari sendiri, namun mereka sudah harus diberikan ikan yang hampir siap saji agar mereka memiliki kepastian melanjutkan hidup. Skenario ini harus dipikirkan dan terus dilaksanakan dengan serapih mungkin, misalnya bantuan pangan non tunai yang semaksimal mungkin harus menyasar semua orang yang benar-benar terpapar karena Covid 19,” imbuhnya.

Hal kedua yang harus menjadi perhatian yaitu terkait pelaksanaan Pilkada 2020. “ini penting untuk digarisbawahi sebenarnya. Saat ini merupakan masa-masa memperkenalkan bakal calon ditiap-tiap daerah yang akan berpilkada, tidak sedikit yang masih berpawai ria, adu jumlah massa seolah mereka adalah simpatisan dalam kerelawanan tapi kita semua sepakat bahwa proses politik adalah agenda setting, pembatasan harus dilaksanakan,” ungkapnya.

Abd. Muis menyarankan agar pemerintah menunda gelaran pilkada serentak 2020, sehingga pemerintah dapat fokus menyelsaikan masalah pandemi ini.

“Pemerintah harus mempertimbangkan kembali, jika boleh usul saya akan bersepakat jika pilkada di tunda untuk sementara, biarlah negeri ini fokus dulu urusan penanganan covid-19 yang kita semua bahkan tidak tahu kapan ini akan berakhir, bahkan Vaksinnya belum ditemukan secara pasti,”

Ketiga, Hal yang penting diperhatikan menurut Abd. Muis adalah terkait ketegasan pemerintah dalam mengawal aturan yang mereka keluarkan, terutama aparat yang bertugas untuk menertibkan warga.

“Mesti didorong secara serius mengenai pemberian sanksi kepada mereka yang tidak mematuhi Protokol Covid, baik pada wilayah yang menerapkan New Normal apalagi wilayah yang menerapkan PSBB. Harus ada tindakan yang keras, karena ini juga demi kebaikan seluruh orang,”.

Dia juga menambahkan jika Indonesia mesti berada di garda terdepan dalam penemua vaksin Covid-19. Dia melihat riset yang dilakukan di Indonesia belum dilakukan dengan serius dan tanpa mengedepankan kerjasama antar instansi.

“Keempat, yaitu riset mesti dilakukan lebih serius, terutama para ilmuan mesti bersatu padu bekerja keras menemukan Vaksin Covid. Sudah semester kedua tahun 2020 sejak Corona ada di Indonesia, seluruh dunia belum benar-benar menemukan Vaksin. Indonesia mesti berada digarda terdepan, walaupun kita akui bahwa banyak yang bekerja keras mencari vaksin covid.

Dia menambahkan bahwa kekurangan APD bagi tenaga yang bertugas di garda terdepat dapat diatasi dengan memaksimalkan perusahaan local yang memiliki standar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Kelima Produksi APD harus terus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan lokal yang tentu sesuai standar, minimal akan mampu memenuhi kebutuhan tenaga medis kita, saya rasa tidak perlu lagi menampilkan data berapa tenaga medis kita yang meninggal. Kita harus bekerja bersama. Masing-masing kita mesti jadi pahlawan dengan membatasi diri dan melaksanakan protokol Covid-19,” tambahnya.