Apa Itu Perahu Sandeq, Warisan Budaya Masyarakat Sulbar

Perahu Sandeq
Perahu Sandeq Gambar: Dispopar Sulbar).

Festival perahu Sandeq kembali berlangsung di Sulawesi Barat. Kegiatan tersebut telah menjadi agenda tahunan yang di laksanakan pemerintah setempat, guna memperkenalkan warisan budaya Sulawesi Barat ke mata dunia.

Kali ini, panitia pelaksana Festival Sadeq telah mempersiapkan 35 perahu yang siap berlayar ke wilayah Ibu Kota Negara di Kalimantan Timur pada 31 Agustus 2022.

Apa sih Perahu Sandeg itu? Berikut rangkuman penjelasannya

Sandeq adalah jenis perahu layar bercadik yang telah lama di gunakan nelayan di tanah Mandar sebagai alat transportasi antar pulau di masa lalu.

Secara bentuk, Prof Gene Ammarell pernah menjelaskan dalam bukunya “Bugis Navigation” (Navigasi Bugis). Dalam buku tersebut, guru besar antropologi dari Ohio University itu meuliskan, sandeq sebagai jenis perahu kayu bercadik yang memiliki panjang bisa sampai 12 meter. Untuk lebarnya, tidak lebih dari 1 meter dengan kedalaman perahu berkisar 1,2 meter.

Dari sumber lain yang di kutip dari situs Wikipedia Indonesia, menjelaskan, perahu layar khas Mandar ini sangat cepat dan lincah saat berlayar. Hal itu di sebabkan karena bentuknya ramping, sehingga lebih gesit di bandingkan dengan perahu layar lainnya.

Selain gesit, perahu Sandeq juga mampu berlayar melawan arah angin dengan menggunakan cara berlayar zigzag atau masyarakat Mandar menyebutnya “Makkarakkayi”.

Jenis-jenis Perahu Sandeq

Secara garis besar, jenis perahu Sandeq terdiri dari tiga tipe yaitu; Sandeq Pangoli, Paroppo, dan Potangnga

1. Sandeq Pangoli

Sandeq jenis ini di gunakan saat menangkap ikan di pinggir karang atau di area pertemuan arus. Di sebut Pangoli sebab nelayan sering menarik umpan dari bulu ayam yang terletak di belakang perahu (mangoli).

2. Sandeq Paroppo

Sandeq jenis ini di gunakan untuk menangkap ikan di rumpon (rompong). Secara ukuran perahu ini cukup besar di bandingkan dengan Sandeq Pangoli. Hal itu di karenakan area penangkapannya cukup luas. Kemudian, dapat membawa penyediaan bekal saat nelayan berlayar selama dua sampai lima hari. Selain itu Paroppo juga di desain untuk mampu menahan ombak besar dan agin kencang di area penangkapan ikan.

3. Sandeq Potangnga

Jenis terakhir ini dugunakan dalam mengarungi lautan lepas saat menangkap ikan. Secara ukuran tipe ini lebih besar dari kedua jenis perahu Sandeq lainnya guna selain dapat memuat bekal dan peralatan saat melakukan pelayaran, juga agar ombak tinggi tak dapat menggoyahkan hingga membasahi para nelayan.

Makanya, jenis perahu layar ini, biasanya terdapat tambahan “panggung” yang terpasang di sisi kiri dan kanan dan belakang tiang perahu.

Perahu Sandeq sampai saat ini, telah tercatat sebagai warisan kebudayaan bahari Masyarakat Mandar. Seperti tercantum di laman resmi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tahun 2011 lalu sebagai aset budaya nasional.

Kini perahu layar tersebut banyak di fungsikan pada ajang lomba atau “Sandeq race” yang biasanya berlangsung menjelang momentum Hari Kemerdekaan RI. Seperti yang telah berlangsung pada Agustus lalu dengan mengambil rute Mamuju Sulawesi Barat ke Makassar Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh 300 mil.

Saat ini kembali di laksanakan yang rencananya akan berlangsung pada 31 Agustus 2022 dengan rute Pelabuhan Silopo Kabupaten Polewali Mandar ke Mamuju. Terus menuju ke pulau Kalimantan tempat Ibu Kota Baru Indonesia di tempatkan.[*]