Berkah Hari Ke 19 Ramadan: Hasad Tsunami Amal

Hasad adalah salah satu sifat yang sangat buruk yang sering menjangkiti manusia. Bahkan, sifat ini bisa menjadi karakter dan mencirikan perilaku seseorang ketika hal tersebut terjadi. Maka hanya iri, dengki, dan kebencian yang mewarnai hidupnya.

Apapun yang dilakukan orang lain, baginya adalah keburukan, dan bermasalah karena kebencian dan kedengkiannya.

Orang Hasad secara diam-diam biasanya menginginkan orang yang dibencinya itu celaka. Dan kalau sudah begitu, besar kemungkinan baik secara langsung maupun tidak langsung kita akan ikut terlibat dalam usaha mencelakakannya.

Maka, timbullah ghībah dan fitnah, yaitu menyebar berita buruk mengenai orang yang dibencinya itu, baik berita itu benar adanya, atau tidak Orang yang hasad, hatinya selalu gelisah.

Kegelisahannya bukan disebabkan oleh kekurangan yang ada pada dirinya semata, tetapi lebih dari itu karena kelebihan yang ada pada orang lain. Ia lebih fokus memperhatikan kelebihan orang lain daripada introspeksi atas kekurangan pada dirinya.

Nabi pernah mengingatkan dálam sebuah sabdanya:

عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم قالَ: « إِيَاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كما تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Dari Abu Hurairah r.a, Nabi S.a.w bersabda: Jauhilah olehmu sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat menghilankan segala kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu yang kering”. (HR. Abu Dawud).

Orang yang dengki atau hasad, di dalam hatinya tersembunyi keinginan agar orang lain celaka. Maka kedengkian itu merupakan bukti yang nyata sekali bahwa sesungguhnya di dalam hatinya tidak punya i’tikad baik kepada orang lain secara tulus. Maka, andaikata terdapat kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh seorang pendengki dapat dipastikan bahwa sesungguhnya kebaikan-kebaikan yang diperbuatnya itu palsu.

Tsunami alam tidak berarti apa-apa ketimbang sifat hasad karena sifat tersebut akan mendarah daging memenuhi hati sehingga semua perilaku dan amal kebaikan tidak tersisa apa-apa.

Tsunami yang pernah menimpa Aceh dan palu yang begitu dahsyat, tetapi masih dapat ditata sesudahnya. Namun sifat hasad menimbulkan kerusakan yang jauh lebih parah dari tsunami alam karena tidak menyisakan apa-apa, amal kebaikan menjadi sia-sia sementara kedengkian bercokol permanen dalam dirinya.

Suatu perbuatan baik tanpa disertai dengan niat atau i’tikad baik, maka mustahil akan melahirkan perbuatan yang tulus. Dengan kata lain, perbuatan baiknya kepada orang lain hanyalah untuk menutupi kebusukan niatnya yang tersembunyi di dalam hatinya karena sifatnya tersembunyi dan sulit diketahui secara lahiriah, karena itu kita berlindung kepada Allah terhadap sifat tersebut sebagaimana dalam Qs. al-Falaq: 1-5 yang berbunyi:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِن شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ .وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ .وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan peniup-peniup pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki. (Qs. al-Falaq:1-5)

Islam sangat mencela perbuatan hasad, karena hasad merupakan pangkal permusuhan. Dalam ajaran Islam, hasad hanya dibolehkan dalam dua hal: terhadap yang orang dianugerahi harta oleh Allah kemudian ia menafkahkannya dengan benar, dan terhadap orang yang dianugerahi ilmu kemudian ia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain. Rasulullah S.A.W bersabda:

عن ابنِ مسعودٍ رضيَ اللهُ عنه قال: سمعتُ النبيِّ صلى الله عليه وسلم يقول «لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٍ آتاهُ اللهُ مالاً فَسَلَّطَهُ عَلىَ هَلَكتهِ في الحَقِّ، ورَجُلٍ آتاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقضِي بِهَا ويُعلِّمها»

Dari Ibnu Mas’ud r.a, Rasulullah S.a.w bersabda: “Tidak dibenarkan hasad kecuali dalam dua hal; terhadap seseorang yang diberi anugerah oleh Allah berupa harta lalu dia menafkahkannya di jalan yang benar, dan terhadap seseorang yang diberi anugerah ilmu oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya kepada orang lain”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hasad atau iri hanya diboleh kepada orang kaya yang dermawan terhadap kedermawanannya bukan pada hartanya demikian juga kepada orang yang berilmu iri kepada manfàatnya pada orang lain bukan pada ilmunya.

Bulan Ramadhan menjadi momentum untuk menjauhkan sifat hasad yang banyak menimbulkan masalah dan menjadikan hubungan sosial terpecah belah, umat bercerai berai karena itu  puasa dijadikan alat mengasah hati selalu dekat dan rindu kepada Allah, hati teduh dan selalu menebar kebaikan itulah BERKAH RAMADHAN. Semoga…

Pesanter DDI AL-Ihsan Kanang Polman, 24 mei 2019 M / 19 Ramadan 1440 H

Tags
Show More

Dr. H. Adnan Nota MA

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat | Pimpinan Pondok Pesantren Darud Da'wah Wal-Irsyad (DDI) Al Ihsan Kanang, Desa Batetagnga, Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close