Berkah Hari Ke 23 Ramadan: Tanda Cinta dari Allah

“Salah satu tanda bahwa Allah mencintai kita adalah ketika melihat perbuatan baik, maka merasa menyesal ketika tidak menjadi bagian dari kebaikan itu”.

Dalam kitab al-Hikam, karangan Ibnu Athaillah

Tetapi, sebaliknya ketika melihat keburukan apalagi dosa, hatinya menjadi perih, gunda dan marah kerena kemungkaran itu. Apabila hal tersebut sdh ada pada diri, maka itulah tanda cinta dari Allah.

مِنْ علاَماَتِ مَوْتِ القلبِ عَدَمُ الحُزنِ على ماَ فاَتكَ منَ المُواَفَقاَتِ وَتركُ النَّدَمِ علىَ ما فَعلتهُ من الزَّلاَّتِ.

“Sebagian dari pada tanda matinya hati, yaitu jika tidak merasa sedih (susah) karena tertinggal-nya suatu amal (perbuatan) kebaikan (kewajiban), juga tidak menyesal jika terjadi berbuat pelanggaran dosa.”

Pada Hikmah sebelumnya diterangkan supaya jangan meninggalkan Dzikir walaupun hati belum bisa hadir ketika berdzikir.

Begitu juga dengan ibadah dan amal kebaikan. Janganlah meninggalkan ibadah lantaran hati tidak khusyuk ketika beribadah dan jangan meninggalkan amal kebaikan lantaran hati belum ikhlas dalam melakukannya. Khusyuk dan ikhlas adalah sifat hati yang sempurna.

Dzikir, ibadah dan amal kebaikan adalah cara-cara untuk membentuk hati agar menjadi sempurna. Hati yang belum mencapai tahap kesempurnaan dikatakan hati itu berpenyakit.

Jika penyakit itu dibiarkan, tidak diambil langkah mengobati-nya, pada satu masa, hati itu mungkin akan mati. Matinya hati berbeda dengan mati tubuh badan.

Orang yang mati tubuh badan ditanam di dalam tanah. Orang yang mati hatinya, tubuh badannya masih sehat dan dia masih berjalan ke sana kemari di muka bumi ini.

Manusia menjadi istimewa karena memiliki hati rohani. Hati mempunyai nilai yang mulia yang tidak dimiliki oleh akal pikiran. Semua anggota dan akal pikiran menuju kepada alam benda sementara hati rohani menuju kepada Pencipta alam benda. Hati mempunyai persediaan untuk beriman kepada Tuhan.

Hati yang menghubungkan manusia dengan Pencipta. Hubungan dengan Pencipta memisahkan manusia dari daerah kehewanan dan mengangkat drajat mereka menjadi makhluk yang mulia.

Hati yang cerdas, sehat dan dalam keaslian-nya yang murni, berhubung erat dengan Tuhannya. Hati itu membimbing akal pikiran agar dapat berfikir tentang Tuhan dan makhluk Tuhan.

Hati itu membimbing juga kepada anggota tubuh badan agar mereka tunduk kepada perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang bisa mengalahkan akal pikiran dan anggota tubuh badannya serta mengarahkan mereka berbuat taat kepada Allah adalah hati yang sehat.

Dalam suatu hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang merasa senang oleh amal kebaikannya, dan merasa sedih/menyesal atas perbuatan dosanya, maka ia seorang mukmin.”

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu berkata: ”Ketika kami dalam majelis Rosululloh SAW, tiba-tiba datang seseorang yang turun dari kudanya dan mendekati Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam sambil berkata:

“Ada dua masalah yang telah merisaukan hatiku hingga tidak dapat tidur”. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bertanya, “Siapakah engkau?” Jawab orang itu, ‘Zaidul-Khoir’ Berkata Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, “Wahai Zaidul-Khoir, bertanyalah kemungkinan sesuatu yang sulit, yang belum pernah ditanyainya”.

Berkata Zaidul Khoir, “Saya akan bertanya kepadamu tanda-tanda orang yang disukai dan yang dimurkai oleh Allah?” Jawab Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, “Untung, untung, bagaimanakah keadaanmu saat ini wahai Zaid?”

Jawab Zaid, “Saya saat ini, suka kepada amal kebaikan dan orang-orang melakukan amal kebaikan, bahkan suka akan tersebar-nya amal kebaikan itu, dan bila aku ketinggalan merasa menyesal dan rindu pada kebaikan itu, dan bila aku berbuat amal sedikit atau banyak, tetap saya yakin pahalanya”.

Jawab Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, “Ya itulah dia, andaikan Alloh tidak suka kepadamu, tentu engkau disiapkan untuk melakukan yang lain dari pada itu, dan tidak peduli di jurang yang mana engkau akan binasa”.

Berkata Zaid, “Cukup wahai Rasululloh, lalu ia kembali ke atas kudanya, kemudian ia berangkat pulang’.”

Dialog singkat antara Zaidhul Khair, dengan Rasulullah adalah gambaran singkat tentang keadaan orang yang dicintai Allah. Gambaran orang yang dekat dengan Allah dimana hatinya selalu menggambarkan kebaikan dan perilaku-nya selalu menebar kemuliaan akhlak.

Ciri tersebut sangat sesuai dengan kondisi orang yang melaksanakan puasa dimana hati selalu mengingat dan merindukan Allah itulah BERKAH RAMADHAN. Semoga…

Majene, 28 Mei 2019 / 23 Ramadan 1440 H

Tags
Show More

Dr. H. Adnan Nota MA

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat | Pimpinan Pondok Pesantren Darud Da'wah Wal-Irsyad (DDI) Al Ihsan Kanang, Desa Batetagnga, Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
Close
Close