Berkah Hari Ke 25 Ramadan: Masjid Vs Mall

Masjid Vs Mall
Berkah Ramadan: Masjid Vs Mall

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Al Baqarah: 183).

Ramadan tidak terasa sudah masuk pada hari ke 25 ini berarti kalau cukup, maka tinggal 5 hari lagi, tetapi jika hanya 29 (tidak cukup), maka tinggal 4 hari lagi, Ramadan akan meninggalkan kita.

Bulan penuh rahmat dan ampunan akan pergi menghadap kepada Allah untuk melaporkan seluruh ibadah umat Muhammad selanjutnya menjadi bahan renungan: Apa kita dapat bertemu Ramadhan pada tahun yang akan datang?

Di akhir Ramadhan ada hal yang keliru dilakukan oleh umat Islam, mall penuh sesak sementara mesjid sepi. Kenapa? Karena mereka mulai sibuk dengan persiapan perayaan Id’ fitri dengan memadati mall, pasar, pusat perbelanjaan lainnya untuk membeli seluruh kebutuhan hari raya. Ada baju baru, berbagai jenis dan macam kue, menata dan mengecat rumah, mengganti gorden dan seterusnya.

Sesungguhnya hal tersebut tidak salah dan itu sah-sah saja bahkan boleh kita jadikan kalender tetap sebagai momen untuk mencari suasana baru, bahkan Rasulullah sendiri men syariahkan untuk merayakan Id Fitri dengan riang gembira. Itulah sebabnya zakat fitra dianjurkan disegerakan diberi kepada fakir miskin agar mereka dapat merayakan hari lebaran dengan kegembiraan.

Namun demikian kekeliruan terjadi karena di akhir Ramadhan ibadah, dzikir dan doa justru mulai kendur, mesjid sepi, tadarrus hilang karena sibuk di pasar dan mall. Hal tersebut tidak sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dimana pada akhir-akhir ramadan beliau justru mengencangkan ibadahnya, beliau mengurangi kegiatannya dan lebih fokus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Memikirkan pakaian baru sah-sah saja, itu adalah bagian dari yang dihalalkan. Namun jika karena memikirkan baru sehingga membuat kesibukan di akhir-akhir Ramadan malah di mall dan tempat perbelanjaan, itu yang masalah.

Pakaian baru jadinya hanya membuat seseorang luput dari nikmatnya shalat terawih, indahnya bermunajat dengan Allah lewat i’tikaf, juga tilawah al-Qur’an. Padahal yang lebih dipentingkan adalah pakaian takwa, bukan pakaian baru.

Tujuan ibadah puasa adalah untuk menggapai takwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

Pakaian takwa itulah yang terbaik, bukanlah pakaian lahiriyah. Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al A’raf: 26).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menjelaskan bahwa pakaian itu ada dua macam, yaitu pakaian lahiriah dan pakaian batin. Pakaian lahiriah yaitu yang menutupi aurat dan ini sifatnya primer.

Termasuk pakaian lahir juga adalah pakaian perhiasan yang disebut dalam ayat di atas dengan riisya’ yang berarti perhiasan atau penyempurna.

Pakaian batin sendiri adalah pakaian takwa. Pakaian ini lebih baik daripada pakaian lahir yang nampak dan pakaian tersebut didapatkan dalam bulan ramadhan itulah BERKAH RAMADHAN.  Semoga…

Majene, 25 Ramadan 1440 H

Pemuda Lemo Akan Mengadakan Talkshow Inspiring Day untuk Pendidikan