Berkah Hari Ke 27 Ramadan: Fenomena Malam 27

Laitul Qadar
Fenomena malam Laitul Qadar ke 27 Ramadan

“Demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh”

Hadits dari Sahabat Ubay bin Ka’ab

Bukku sebuah nama dusun kecil di Majene apabila dilihat didalam peta kabupaten Majene, maka tidak lebih setitik goresan tinta. Namun, ada fenomena menarik bagi pengikut Tharekat Qadriyah karena ini sangat terkenal bahkan sampai 01 Sulawesi Barat berkali-kali ketempat tersebut.

Termasuk penulis sendiri dalam rangka mengikuti sebuah event rutin pada setiap 27 Ramadan yaitu shalat Qiyamul Lail.

Fenomena tersebut tidak terlepas dari napak tilas seorang ulama besar ditanah mandar sekaligus Mursyid Tharekat Qadriyah. Beliau menetapkan dusun Bukku sebagai salah satu tempat pelaksanaan Qiyamul Lail yang dipinpin lansung oleh beliau kala masih hidup hingga wafatnya.

Ribuan jamaah Tharekat Qadriyah tumpah ruah dalam pelaksanaan semua ibadah yang dilakukan dan tidak satupun meninggalkan tempat sebelum selesai kegiatan walau hujan lebat. Jalanan, lorong-lorong, kolom rumah, pekarangan rumah semua terisi baik anak muda terlebih orang tua

Fenomena tersebut terjadi karena sebuah keyakinan berdasarkan pendapat para Ulama bahwa 27 Ramadhan adalah kemungkinan paling besar diturunkannya malam Lailatul Qadar dimana kebaikannya melebihi kebaikan ibadah seribu bulan hal tersebut sangat beralasan dengan memperhatikan nash-nash berikut:

1. Hadits yang menyebut malam lailatul qadar adalah malam ke-27. Semisal hadits dari Sahabat Ubay bin Ka’ab.  Beliau pernah bersumpah dan berkata:

وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

“Demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintahkan oleh Rasulullah untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh”

2.  Hadits dari Mu’awiyah beliau menukil perkataan dari Nabi Saw bersabda:

ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺍﻟﻘَﺪْﺭِ ﻟَﻴْﻠَﺔُ ﺳَﺒْﻊٍ ﻭﻋِﺸْﺮﻳﻦَ

“Lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh.”

Walau demikian juga terjadi perbedaan pendapat para ulama tentang malam turunnya Lailatul Qadar berdasarkan beberapa hadits:

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التمسوها في العشر الأواخر فإن ضعف أحدكم فلا يغلبن على السبع البواقى

“Carilah di sepuluh malam terakhir, apabila tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh malam tersisa.”

Dalam hadits yang lain juga Rasulullah Saw bersabda:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

“Carilah malam Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pada malam kedua puluh sembilan, kedua puluh tujuh, kedua puluh lima”.

Kompromi dari dalil-dalil tersebut adalah malam ke-27 merupakan malam yang paling diharapkan jatuhnya malam Lailatul Qadar dan bisa jadi mayoritas nya ada pada malam ke-27. Wallahu a’lam

Syaikh Muhammah bin Shalih Al-‘Ustaimin menjelaskan,

ﻭﻫﻮ ﺃﻥ ﻟﻴﻠﺔ ﺳﺒﻊ ﻭﻋﺸﺮﻳﻦ ﺃﺭﺟﻰ ﻣﺎ ﺗﻜﻮﻥ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﻓﻴﻬﺎ، ﻛﻤﺎ ﺟﺎﺀ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃُﺑﻲّ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ -ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ

“Malam ke-27 adalah malam yang paling diharapkan sebagai malam lailatul qadar, sebagaimana pada hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu”.

Inilah pendapat pertengahan yang mengkompromikan berbagai dalil, karena malam lailatul qadar itu berpindah-pindah setiap tahunnya.

Al Imam An-Nawawi berkata,

. ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘِّﻘُﻮﻥَ : ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﺗَﻨْﺘَﻘِﻞ ﻓَﺘَﻜُﻮﻥ ﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺳَﺒْﻊ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ ، ﻭَﻓِﻲ ﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺛَﻠَﺎﺙ ، ﻭَﺳَﻨَﺔ : ﻟَﻴْﻠَﺔ ﺇِﺣْﺪَﻯ ، ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔ ﺃُﺧْﺮَﻯ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﺃَﻇْﻬَﺮ . ﻭَﻓِﻴﻪِ ﺟَﻤْﻊ ﺑَﻴْﻦ ﺍﻟْﺄَﺣَﺎﺩِﻳﺚ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﻠِﻔَﺔ ﻓِﻴﻬَﺎ

“Menurut para ulama peneliti: lailatul qadar itu berpindah-pindah setiap tahunnya. Terkadang pada satu tahun terjadi pada malam ke-27, terkadang pada malam ke-23, atau pada malam ke-21, atau di malam lainnya. Inilah pendapat yang lebih kuat karena mengkompromikan berbagai hadits-hadits yang ada.”

Apapun pendapat yang kita yakini tetapi yang pasti malam Lailatul Qadar pasti diturunkan karena itu dalam beribadah dibutuhkan konsistensi sehingga malam Lailatul Qadar pasti ketemu dengan orang-orang yang istiqomah dalam ibadahnya. Itulah BERKAH RAMADHAN. Semoga…

Pesantren DDI Al-Ihsan Kanang 27 Ramadan 1440 H

Foto Berlangsungnya lomba cerdas cermat Pentas PAI tingkat SD dan SMP di Hotel Diana
Pentas PAI ke 6, Kanwil Kemenag Sulbar Menghadirkan 150 Peserta