Berkah Hari Ke 5 Ramadan: Tentang Nafsu

Dr H Adnan Nota (Sumber photo Tribun Timur)
Dr H Adnan Nota (Sumber photo Tribun Timur)

Ditulis Oleh: Dr. H. Adnan Nota

Kontestasi Pilpres dan Pilcaleg tidak dapat dipungkiri telah menggiring masyarakat kita dalam sekat dan kelompok yang begitu kuat dan menguras tenaga, pikiran dan sykologi masyarakat. Bahkan, gesekan para tokoh dan berimbas sampai pada akar rumput menjadi tontonan pemberitaan setiap hari.

Semua kelompok merasa dirinya yang paling benar, paling hebat, paling kuat. Paling ini, paling itu tanpa memperdulikan rambu-rambu, norma dan kaedah yang telah disepakati.

Ujungnya adalah kehidupan sosial masyarakat memanas, caci maki, klaim kebenaran mutlak, curiga, fitnah, dan sebagainya menjadi sesuatu yang lumrah dan dianggap biasa. Bahkan, menajdi sebuah keharusan dalam mengapai tujuan.

Semua hal tersebut diatas adalah dorongan Nafsu yang sedang meliputi manusia untuk memuaskan diri, kelompok, dan koleganya tampa memperdulikan kerusakan sosial yang ditimbulkan.

Syahwat/nafsu berkuasa telah banyak membawa bencana banyak orang yang sedarah menjadi renggang. Saudara terpecah, kelompok bercerai berai, umat kebingungan karena NAFSU yang tidak terkendali. Inilah yang disebutkan Allah SWT dalam Firman-Nya Quran Surah. Yusuf ayat 53 yang berbunyi:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53).

Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa nafsu yang selalu mendorong kita untuk menggunakan segala cara dalam rangka mencapai tujuan tanpa memperdulikan aturan dan norma yang telah ditetapkan oleh Allah. Maka itu adalah nafsu yang tercela dan itu pasti jahat.

Tetapi sebaliknya apabila nafsu ini dikendali, nafsu ini diarahkan, nafsu dikekang. Maka output nya akan melahirkan kebersamaan, kedamaian dan keteduhan baik kepada diri maupun masyarakat. Dan untuk itu semua momentnya adalah dalam pelaksanaan puasa. Yaitu bagaimana puasa ini bisa menjadi tameng, benteng dan perisai dalam semua bentuk kerusakan yang ingin dilakukan oleh diri kita masing-masing.

Imam al-Ajurri seorang ahli hadits dan sejarah dari Baghdad, wafat tahun 360 H dalam kitabnya ‘Adabun Nufus’ beliau mengatakan, “Pahamilah bahwa nafsu itu seperti anak kuda jantan (colt) yang sangat bagus. Setiap kali ada orang yang melihatnya, pasti terkagum dengan keindahan dan bagusnya”.

“Hingga seorang ahli kuda berkomentar, Jika pemilik anak kuda ini memberikan perawatan dengan semangat baik dan paham keadaan, lalu dia serahkan ke orang yang ahli dalam merawat, dan dia tidak memilih perawat kecuali orang yang memiliki kemampuan dalam merawat dan kesabaran, lalu kuda itu dirawat dengan baik, maka akan bermanfaat bagi pemiliknya. Namun, jika perawat tidak memiliki pengetahuan dalam merawat, tidak paham tentang mengajari kuda, maka dia akan merusak anak kuda itu dan justru membuat lelah dirinya”.

“Sehingga tidak ada komentar baik orang yang menunggangnya. Kuda bagus ini tidak berarti sama sekali sampai dia dilatih dan diajari dengan baik. Barulah setelah itu, dia bisa dimanfaatkan dengan baik, sehingga bisa dipakai untuk menyerang atau berlari kencang. Dan yang menunggang akan merasa puas dari hasil latihannya. Jika tidak dilatih dengan baik, maka keindahannya sama sekali tidak akan memberikan manfaat, dan penunggangnya tidak akan merasa puas ketika menggunakannya”.

Demikianlah adanya nafsu ketika diarahkan, dilatih, dikelolah dengan baik. Maka, akan menjadi nafsu yang selalu mendorong kebaikan dan masalah dan Ramadhan menjadi momentumnya. Itulah Berkah Ramadan. Semoga…!

Majene, 10 mei 2019 / 5 Ramadan 1440 H