Budidaya Jamur Tiram Ciptakan Peluang Usaha Masa Depan

Budidaya Jamur Tiram
Budidaya Jamur Tiram Ibu Fitriani, Desa Kelapa Dua

Fitriani warga Desa Kelapa Dua Kecamatan Anreapi Kabupaten Polewali Mandar sedang menggeluti budidaya jamur tiram sebagai peluang usaha masa depan yang menjanjikan.

Mengembangkan budidaya Jamur bernama latin Basidiomycota, sebab suhu di Desa Kelapa Dua tempat Fitriani bersama keluarganya menetap, cocok untuk pertumbuhan jamur tiram.

Jamur tiram bernama latin Basidiomycota dengan ciri-ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan tudungnya berbentuk setengah lingkaran. Mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung. Tumbuhan ini umumnya dapat ditemukan di daerah lembab.

hal ini dimanfaatkan oleh keluarga ibu Fitriani untuk melakukan budidaya jamur Tiram di Desa Kelapa Dua Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar yang memiliki suhu yang cocok untuk tumbuh kembang jenis jamur ini.

Ibu Fitriani dan keluarga memulai usaha budidaya jamur tiram sejak bulan Desember 2021 hingga sekarang dan sudah memasarkan produknya kesejumlah tempat dibeberapa daerah. Diantaranya kota Polewali Mandar, Mamuju tengah, hingga Sidrap.

Proses Budidaya Jamur Tiram

Foto jamur Tiram

Proses penanaman jamur tiram disimpan didalam ruangan tertutup. Media yang digunakan  terdiri dari bahan dedak halus dan serbuk kayu yang dihancurkan lalu dipadatkan kemudian dimasak untuk membunuh bakteri. Setelah media di masak kemudian di isi dengan bibit.

Setiap media  diisi 7 bibit jamur tiram. Selanjutnya ibu Fitriani hanya perlu menungguh sekitar satu bulan sampai akhirnya Jamur Tiram siap dipanen.

Ruangan tempat pembibitan jamur harus selalu steril agar jamur dapat tumbuh dengan baik. “Sebelum masuk ruangan pakaian harus bersih. Selalu menggunakan sarung tangan sebelum memegang bibit jamur agar tidak ada bakteri,” kata ibu Fitriani selaku pemilik usaha jamur tiram, Minggu (27/4/2022).

Ketika memasuki masa panen, tepatnya bulan kedua media dipindahkan keruangan pembudidayaan. Untuk perawatannya sendiri hanya rutin di semprotkan air yang telah di campur dengan bawang putih dan tembakau guna membunuh hama pada jamur.

 “Untuk perawatannya saya menggunakan campuran bawang putih dan tembakau kemudian disemprot-semprotkan ke jamur agar hama yang ada di jamur mati. Karena biasanya ada lalat yang hinggap kemudian bertelur di jamur hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas jamur”. ujar Fitriani pemilik usaha jamur.

Hasil Panen Jamur Tiram Ibu Fitriani

Media jamur hanya bisa menghasilkan jamur sampai 5 bulan terhitung sejak panen pertama. Sehingga, media Polibag jamur tiram harus diganti dengan yang baru setiap enam bulan sekali agar hasil panen bisa berkelanjutan.

Setiap harinya ibu Fitriani memanen 4-5 kg jamur tiram. Hasil panen akan dipasarkan secara langsung dan melalui media sosial dengan harga Rp.30.000/kg. Jamur yang tidak terjual dalam kurun waktu empat hari akan diolah menjadi nugget dan jamur krispi agar tidak membusuk.

Modal awal ibu fitriani saat memulai usaha jamur tiram sebesar lima juta rupiah dan sekarang penghasilan bersih setiap bulannya mencapai angka empat juta rupiah. Ia juga tengah membuka usaha pengelolaan Jamur Tiram menjadi Nugget.

Ibu Fitriani berharap agar kedepannya usaha jamur tiram yang digeluti bisa berkembang lebih besar. Agar nantinya dapat memberdayakan keluarga dan masyarakat yang ada didesanya.[*]

Penulis: Tenri Wulan*