Dua Perempuan Penulis Muda Asal Binuang

Penulis Muda
Penulis Muda asal Binuang, Polewali Mandar

Menulis memberikan ruang nutrisi otak dan imajinasi untuk bekerja, sebagian orang mengatakan menulis itu menyehatkan. Sebab ide atau gagasan, hasil riset mengenai fakta, mampu dituangkan dalam bentuk puisi, novel, essai dan lain-lain, hingga menjadi karya buku.

Dua perempuan kakak beradik Haryani dan Eliana, anak dari pasangan Latif dan Bahria, penulis muda berbakat, asal Dusun Silopo, Desa Mirring, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman Sulawesi Barat. Telah berhasil membuat dua karya, buku novel berjudul Mungkin karya Haryani, dan antologi puisi yang ditulis oleh Eliana, Haryani dan Abdul Rahman Arok.

Haryani mulai belajar menulis sejak kelas 2 SD, waktu itu masih di Negara Malaysia, kedua orang tuanya perantau, dan Haryani beserta adiknya Eliana pun lahir di sana. Usia yang masih sangat anak-anak, Haryani sering mengikuti perlombaan menulis.

“Pengalaman pertama saya belajar menulis mengikuti lomba, sejak kelas 2 SD, tentang sejarah Rasulullah SAW, berhasil juara tiga, tahun berikut ikut lagi, saat kelas 3 SD, dan mampu meraih juara pertama menulis, masih tentang sejarah Rasulullah,” ungkap Haryani.

Kesan pertama yang didapatkan, membuat Haryani semakin semangat, gemar membeli buku dongeng, dan selalu berhalusinasi sendiri, membuat cerita-cerita dongeng, seperti si kancil.

“Nah saya pun senang sekali cerita dongeng ikan duyung, sering menulis dibelakang-belakang buku pelajaran, setelah puas menuliskan, perasaan bahagia pun menghampiri, menulis dan membiarkannya terbuang begitu saja, yang penting saya salurkan lewat tulisan segala imajinasi dan ide yang terekam di otak, kalau tidak menulis kayanya perasaan ada yang aneh dan gelisah, intinya ingin melepaskan inspirasi dalam bentuk tulisan,” tambah Haryani.

Konon banyak catatan-catatan Haryani selama di Malaysia, sering ikut lomba sering dapat juara, lembaran tulisan, disusun di rak. Mengenyam pendidikan awal di Sekolah Agama Bandar Indau Malaysia sampai kelas 3, kemudian lanjut di Indonesia duduk di tingkat kelas 4 MI DDI Silopo. Yah butuh waktu untuk Haryani dan Eliana fokus belajar di MI, menyesuaikan materi baru. Bahasanya pun juga harus beradaptasi, tahu sendiri proses peralihan bahasa antar dua negara.

Saat Haryani beranjak naik ke kelas 1 MTs DDI Kanang, kemudian di tingkatan kelas 2, Haryani kembali semangat menulis lagi, hingga sampai tingkat kelas 1 di MA Izzatul Ma’aruf, menulis prolog, dan membuat novel.

Teman sekelasnya begitu senang, dan banyak yang memilih datang lebih awal, demi untuk membaca novel Haryani,meski ditulis di buku biasa, novel itu berjudul kau milik aku.

“Pada saat saya membaca di depan kelas, guru bahasa Indonesia saya, pak Amirullah menangis. Menurutnya barusan ada siswa yang bisa buat novel. Buku tulisan saya itu disimpan oleh Pak Amirullah, dengan harapan bisa diterbitkan, teman sekelas sering berebut, ingin membaca tulisan saya. Bahkan mengantri, dan sengaja lebih awal pagi datang ke sekolah, karena rasa penasaran ingin membaca lanjutan cerita,” ungkap Haryani penuh semangat.

Buku Karya Haryani dan Eliana. Penulis Muda asal Binuang Polewali Mandar

Adiknya Eliana pun menyarankan kepada Haryani, untuk menulis di Wattpad. Agar, tulisannya bisa otomatis ter save, tidak lagi menggunakan buku tulis biasa. Selang beberapa bulan kemudian, Haryani bertemu dengan seorang bapak yang berprofesi sebagai ASN di Kemenag Polman, namanya  Abdul Rahman Arok.

“Awalnya saya mengajak siswa di Tappina, karena tidak ada yang berminat. Maka saya ajak adik saya Eliana, maka buku kumpulan puisi “Ketika hati berkarya” lahir. Hasil dari kolaborasi dengan saya, pak Abdul Rahman Arok, dan Eliana,” ungkap Haryani.

“Selanjutnya saya semakin termotivasi membuat karya tunggal. Alhasil karya novel berjudul Mungkin, berhasil saya terbitkan, novel ini meriset tentang fakta sosial disekeliling. Semakin maraknya perkawinan usia anak, beranjak SMA banyak teman yang menikah muda. Bahkan, ada yang menikah usia kelas 3 SMP, saya pun menguak problem pendidikan,” ungkap Haryani.

“Bagaimana ketika kita tak punya ijazah, mencari kerjaan akan terasa sulit, laki-laki dan perempuan harus berpendidikan. Karena kita adalah Madrasah pertama bagi anak, mencari kerjaan akan terasa sulit. Saya juga mengangkat bagaimana perbedaan kasta, tokoh Daniel dan Nabila, memberikan tantangan. Sebab, kedua orang tua berbeda kasta,” tambah Haryani, yang juga siswa kelas 12, di MA Izzatul Ma’arif Tappina.

Wow 878 pembaca di Wattpad, novel Haryani terbaru sementara dalam garapan, berjudul “Ada Rasa Yang Tertinggal,”. Mengambil latar di Dusun Silopo dan Lemo, dengan tujuan agar desa-desa lebih terkenal. Bagaimana cara penduduk kampung Lemo dan Silopo. Bagaimana sawahnya, adat- istiadatnya, dan Haryani juga mengambil sebagian latar di Sulsel yakni di daerah Malino.

Novel terbaru tersebut menceritakan bagaimana seorang perempuan yang dihina. Karena parasnya yang kurang cantik, Yah intinya karya ketiga novel Haryani ini kita tunggu launchingnya.

“Saya mau novel Ada Rasa Yang Tertinggal diterbitkan secara mayor, saya ingin tembus pemasaran Jawa, biarlah prosesnya lambat. Saya ingin menarik pembaca, upaya yang saya lakukan selalu update dua kali seminggu,” tutup Haryani yang bercita-cita ingin menjadi dosen.

“Syukur alhamdulilah, anak saya bisa menghasilkan uang sendiri lewat karya bukunya, saya sangat mendukung anak saya untuk melanjutkan pendidikan. Meskipun, kami keluarga kurang mampu, namun dari hasil melaut saya berjuang menghidupi keluarga, ” ungkap Latif, ayahanda Haryani dan Eliana.

Tak mau kalah dengan kakaknya. Eliana pun di usia 18 tahun, bersekolah di SMK negeri Paku saat ini duduk di kelas tingkat 3. Niat membuat antologi puisi, rencana  bareng kakaknya Haryani lagi, mau bikin puisi.

“Saya suka puisi motivasi perjuangan, kritikan pemerintah. Motivasi menulis awalnya lewat kakak, dimana telah menawarkan Eliana untuk menulis. Ada puisi karya saya, yang paling saya suka saat ada demo omnibuslaw,” ungkap Eliana, yang saat ini tercatat sebagai pelajar kelas 12 di SMK Negeri 1 Paku.

“Insya Allah akan buat karya lagi, tapi dalam bentuk komik, kebetulan Eliana senang gambar. Saat ini mau fokus dulu menghadapi ujian, cita-cita ingin kuliah ambil jurusan komunikasi, dan ingin jadi wartawan,” tutup Eliana.

Kakak beradik ini pun sangat gemar membaca buku-buku elektronik. Yah, memang betul para penulis, bukan rahasia lagi, membaca menulis adalah dua hal penting yang tak bisa dipisahkan.

Sukses selalu Haryani dan Eliana, perempuan muda, beda dan berbakat, salam literasi.