Gandeng Unasman, LSF Indonesia Sosialisasi Gerakan Budaya Sensor di Sulbar

LSF Indonesia Sosialisasi Gerakan Budaya Sensor di Sulbar
LSF Indonesia Sosialisasi Gerakan Budaya Sensor di Sulbar

Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia gelar sosialisasi gerakan nasional budaya sensor mandiri di Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Dalam kegiatan tersebut, LSF Indonesia menggandeng Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) sebagai mitra kerja di Sulbar khususnya di Kabupaten Polman.

Dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulbar Mithar, Rektor Unasman Chuduriah Sahabuddin beserta jajaran civitas akademika.

Selain itu, LSF juga mengundang beberapa guru SMA/SMK, unsur pemuda dan sineas lokal di Polewali Mandar, di Hotel Ratih Polman, kamis(13/6/2024).

Ketua LSF Indonesia, Rommy Fibri Hardiyanto mengatakan sosialisasi hari ini meniti beratkan pada sensor mandiri dengan tema memajukan budaya, menonton sesuai usia.

Masyarakat diminta untuk bersama-sama memberikan edukasi kepada orang-orang terdekat terkait pengelompokan film sesuai dengan usia.

“Hal yang utama kita sampaikan disini terkait pengelompokan film sesuai dengan usia, seperti SU, 13+, 17+ dan 21+,” Terang Rommy.

Dijelaskannya, ada pengaruh positif dan negatif pada setiap film, sehingga pengelompokan sesuai dengan usia sangat penting dilakukan.

Ia mencontohkan banyaknya adegan kekerasan, seksualitas serta tampilan rokok dan minuman keras pada film dewasa.

Menurutnya, jika hal itu tidak diantisipasi masyarakat sejak dini, akan berdampak buruk pada anak dibawah umur yang ikut menonton film tersebut.

“Di sini lah diperlukan edukasi dan sensor mandiri bagi masyarakat terhadap orang terdekat,” tegasnya.

Meski ada dampak positif pada setiap film, Rommy melanjutkan, bila tidak dibarengi dengan agenda edukasi dari orang terdekat terhadap anak dibawah umur,maka dampak negatif akan lebih dominan diterima oleh anak.

“Saat ini, lebih dari 41 ribu judul film dan iklan yang masuk sensor. Dan itu didominasi oleh adegan kekerasan, seksual penistaan agama dan isu sara. Kalau detailnya, kita harus lihat data dulu,” ungkapnya

Terhadap pembuatan konten mandiri, LSF juga meminta kepada masyarakat agar lebih bersifat edukasi ketimbang hanya mencari sensasi semata.

“Inilah pentingnya yang namanya sensor mandiri. Buatlah konten yang edukatif sehingga masyarakat yang menerima informasi dari konten itu bisa memberi manfaat,” harapannya.

Terkait banyaknya link film yang masuk ke wilayah internet yang tersebar di Media Sosial secara ilegal dan tanpa membayar pajak, Rommy menyebutkan hal tersebut wewenang Kementrian Kominfo.[*]