Jembatan Pelangi dalam Area Hutan Mangrove, Menjadi Favorit Masyarakat

Jembatan Pelangi Menjadi Favorit Masyarakat, juga Merupakan Area Hutan Mangrove
Salah satu tempat untuk mendeklarasikan Hubungan di Jembatan Pelangi

Binuang- Jembatan Pelangi merupakan salah satu destinasi alam yang terletak di wilayah pesisir Binuang, sekitar 10 Km dari Kota Polewali, dan sekitar 11 Km dari perbatasan Pinrang-Binuang.

Jembatan ini, mulai ramai di gandrungi dan menjadi objek wisata alam yang di favoritkan kaum muda-mudi khususnya yang ada di Polewali Mandar (Polman) untuk di kunjungi dan menjadi tempat ber-selfie ria.

Wisata alam ini mudah ditemukan karena letaknya tepat di seberang jalan poros Trans Sulawesi, tepatnya di Pos Polisi Kehutanan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Sul-Bar. Tempat ini juga merupakan wisata hutan mangrove yang dikelola oleh RPH Kehutanan yang ada di Binuang.

Jembatan pelangi ini selain unik karena nampak berwarna warni, juga memanjakan mata para pengunjung untuk menikmati pemandangan laut dan tanaman mangrove yang ada di area jembatan tersebut.

Salah satu pengunjung yang sempat di wawancarai, sebut saja Yuni mengatakan bahwa pemandangan disini sangat cantik di pandang, juga banyaknya tanaman mangrove. “pemandangan disini cantik untuk di tempati selfie-selfie, juga banyaknya pohon-pohon mangrove nya, senang adanya pelestarian” kata Yuni

“Harapan kedepannya tidak ditempati anak muda nongkrong jangan sampai merusak, dan juga pohon mangrovenya di tambah lagi” lanjut Yuni.

Pada awalanya, Area jembatan pelangi ini menurut Pak Istiqlal, selaku pengelola hutan mangrove dan juga sebagai staf RPH Binuang menyatakan bahwa area jembatan pelangi ini merupakan objek penanaman hutan mangrove yang sudah puluhan tahun dilaksanakan oleh dinas kehutanan yang bekerja sama dengan beberapa komunitas, sekolah dan mahasiswa, dalam kegiatan penanaman mangrove. Kemudian, pembangunan jembatan dibiayai langsung oleh Dinas Kehutanan Polewali Mandar.

“Kalau mangrove itu sudah sejak lama ada, sejak puluhan tahun lalu kegiatan penenaman mangrove sudah mulai digalakkan, makanya mangrove di belakang bermacam-macam, yang terbaru dari SM3T, sebelumnya juga dari Jepang, jadi kami selalu membangun kerja sama dengan komunitas-komunitas, sekolah, kampus, yang ingin ikut berperan serta dalam penanaman mangrove selanjutnya” ungkap Istiqlal

Selanjutnya Istiqlal menyampaikan harapan-harapan kedepannya agar jembatan tersebut tidak mengnganggu mangrove, jadi jembatan tersebut dibangun di sela-sela tanaman mangrove, dan kedepannya kami berharap baik dari pemerintah, dan masyarakat di sekitar bersama-sama menjaga tanaman mangrove yang ada di sekitar jembatan.

Wisata alam ini menyediakan fasilitas/sarana berupa tempat parkir motor bagi pengunjung. Untuk berkunjung ke wisata tersebut kita tidak perlu mengeluarkan ongkos mahal, kita hanya di bebankan biaya parkir, itupun dengan seadanya saja. kita juga bisa mengabadikan atau mendeklarasikan hubungan dengan pasangan kita dengan menempelkan plastik yang bertuliskan nama dan pasangan kita di tempat yang telah sediakan oleh pengelola. (bdr)*

Menggali Potensi dan Tantangan Kedepan, KKPMB Adakan Dialog Publik