Kado Aura untuk Lutra di Tengah Degradasi Lingkungan

Degradasi Linkungan
Box donasi untuk warga Masamba

“Bersama kita bergerak demi satu tujuan kemanusiaan. Tetap merawat semangat gotong-royong”

Blantara

Bunyi ketuk-ketuk pintu terdengar, sepagi ini lubang telingaku mendengar, “Assalamualaikum, tok-tok, kakak, assalamualaikum, tok-tok, kakak,”  suara itu berulang-ulang terdengar.

Raga pun bergegas menuju ruang tamu dan mendekati daun pintu. Rasa kantuk masih menggoda, sehabis shalat subuh, baring-baring kembali eh, ternyata terlelap, kornea mata pun mengatup.

Yah, mungkin efek lelah semalam lumayan rute jalan kaki menguras energi, menyisir warkop-warkop di jantung kota, nimbrung galang donasi bersama kawan-kawan literasi. Lumayan capek, yah raga pun seperti menuntut hak untuk dimanjakan.

Kubuka pintu sembari mengucapkan walaikumsalam, eh ada Aura, kawan cilikku yang juga tetangga rumah.

“Kakak ini ada sarung, mama sumbangkan buat banjir bandang di Luwu Utara,” kata Aura yang juga salah satu kawan cilik di Rumah Baca Blantara.

“Alhamdulillah Aura, terima kasih banyak ya, sumbangan sarungnya, sampaikan sama mama ya,” sembari melemparkan senyum termanis ku, meski aroma bantal masih melekat di pipi.

“Kakak, Aura minta ijin tidak bisa ikut kelas bahasa inggris pagi ini. Karena harus ikut mama ke Sidrap, rumah keluarga, Kak. Sampaikan ijin ku kepada Mrs. Ona ya kak, “ ungkap penuh harap, Aura Si pipi tembem imut itu.

“Baik Aura nanti kakak sampaikan ya, sekali lagi terima kasih ya, sumbangannya,” ungkap ku

Sarung tenun cap gajah duduk, berwarna hijau lumut, masih terbungkus dan tersegel, sarung ini masih berbau toko.

Ah, hidung ku paling jago kalau urusan bau ha ha ha (tertawa), apa lagi bau penindasan, setiap hari ku hirup. Berupa penindasan alam dari tangan-tangan jahil penebang hutan itu. Penindasan terhadap pedagang usia anak. Penindasan perempuan di lingkup KDRT. Penindasan pola pikir, sampai-sampai sering ku jumpai, ada-ada saja legowo menindas diri sendiri. Nah..! ini kacau menurutku.

Ah, aku tak akan membiarkan bau-bau penindasan menumpuk di otakku. Zaman ku juga sudah beranjak. Bukan lagi harus ku angkat megaphone  di depan gedung penguasa, sembari dorong-dorong manja di tengah demonstrasi.

Zaman bakar ban sudah berlalu. Di sana, di depan kantor itu pernah berada dibarisan perempuan-perempuan, berjejer di depan, bukan sebagai pagar ayu yaa. Tapi menumpahkan rasa ketidakadilan. Namun, zaman ku tidak berputar di lingkaran itu lagi.

Kala bau-bau penindasan tercium, dan tersumbat di otak, maka sesekali menuangkannya dalam bait puisi, membuat lorong-lorong cerpen atau apalah, meski masih belepotan diksinya.

Eh, ngomong-ngomong tentang bau penindasan, ini menarik aku sinkronkan dengan artikel bahwa faktor penyebab banjir bandang di Luwu Utara karena degradasi lingkungan.

Mengutip dari situs online  tirto. id “Direktur eksekutif Junal Celebes Mustam Arif, yang juga aktivis lingkungan mengatakan dari perspektif lingkungan, banjir bandang di Masamba Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan adalah bencana ekologis akibat degradasi lingkungan”

“Saat wilayah ketinggian tidak mampu lagi menyimpan dan menahan air karena rusaknya daya dukung lingkungan, otomatis wilayah rendah akan menerima risiko. Itulah yang memicu banjir bandang di Lutra pada Senin (13/7) lalu,” (Sumber : https://tirto.id/).

Nah,  ini contoh bau penindasan alam, dimana kita tetap meyakini bahwa bencana tidak bisa terlepas dari ketetapan Tuhan, namun nalar kritis tidak bisa dilemahkan, melihat tangan-tangan jahil yang menjadi penyebab utama kenapa musibah terjadi.

Kembali lagi tentang sarung tenun cap gajah duduk dari Aura, kawan cilikku,

Yah, sih memberikan bantuan sedianya kita harus memberikan yang terbaik, akhirnya segera ku foto dan melaporkan ke tim group Whatshap rumah baca Blantara, alhamdulillah tambahan 1 sarung lagi pagi ini.

Rame komentar pun di group, alhamdulillah ucap penghuni group. Kembali menekankan semua personil, hari ini siap-siap lagi aksi galang dana door to door di kampung.

Aku belum ritual pagi ini. Tidak lengkap rasanya tanpa si hitam segelas, belum juga kuracik kopi, chat via WhatsApp dari kawan. Melaporkan update info terkait data korban bencana banjir bandang  di Luwu Utara.

Kamis, 16 Juli 2020,  Tim Sar Gabungan, Bencana Alam Banjir Bandang yang terjadi di Masamba Kab. Luwu Utara Prov Sulawesi Selatan melaporkan.

Status data korban pada pukul 14.30 Wita,  jumlah : 1590 orang, selamat :1542 orang, meninggal dunia : 32 orang, dalam pencarian : 16 Orang. (Sumber : Unsur SAR Gabungan, Ttd Ka KPP MKS).

Jiwa pun tak henti memohon, semoga korban yang hilang bisa ditemukan dalam keadaan selamat, korban yang telah berpulang kembali ke pangkuan Maha Tunggal, di tempatkan di syurga Amin.

Kawan-kawan rumah baca Blantara pun sudah siap-siap. Hari ini hari kedua kembali door to door menyisir rumah warga. Suatu semangat memantik, bahwasanya, jiwa kemanusiaan tidak akan pernah hilang, selama mata batin mampu membaca.

Luwu Utara kuat, Luwu Utara bangkit, bersama kita bergerak demi satu tujuan kemanusiaan. Yuk, tetap merawat semangat gotong-royong.

Berawal dari gerakan satu pintu, kita bersama salurkan rasa empati untuk saudara-saudara kita, korban banjir bandang, di Masamba, Luwu Utara. Salam literasi sosial.[*]

Penulis: Blantara*