Kapolres Polman Ngopi Bahas Radikalisme dan Terorisme

Radikalisme dan Terorisme
Kapolres Polman AKBP Ardi Sutriono hadiri kegiatan Ngopi (Ngobrol Pintar) yang digelar Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Sarampu, Rabu (7/4/21).

Kepala Kepolisian Resor Kabupaten Polewali Mandar AKBP Ardi Sutriono menghadiri kegiatan Ngopi (Ngobrol Pintar) membahas isu Radikalisme dan Terorisme yang digelar Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Sarampu tepatnya di Desa Kuajang Kecamatan Binuang Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat, Rabu (7/4/21).

Pada kegiatan dengan tema “upaya pencegahan redikalisme dan terorisme” Kapolres Polman AKBP Ardi Sutriono menjelaskan, aksi terorisme telah menjadi ancaman nyata bagi keutuhan NKRI.

Ia juga menyampaikan, banyak kalangan masyarakat, belum paham soal radikalisme dan terorisme. Radikalisme menurut Kapolres, muncul karena adanya intoleransi. Hal ini mesti menjadi musuh bersama seluruh lapisan masyarakat.

“Situasi ini patut kita wasapadai, karena keberagaman di Indonesia akan memantik munculnya radikalisme. Bahaya terorisme tanpa memandang pangkat, status, jenis kelamin, dan lain-lain. Tugas pencegahan bukan hanya tugas dari aparat keamanan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama termasuk pelibatan masyarakat,” jelasnya.

Aksi-aksi terorisme dikaitkan dengan agama tertentu. Hal ini menurutnya adalah salah paham terkait terorisme. Padahal Agama tidak mengajarkan paham radikalisme dan terorisme.

 “Makanya, jangan sekali-sekali kita menjustifikasi seseorang baik melalui uniform maupun fisik bahwa seseorang itu disebut teroris. Ini harus kita lihat dari sikap maupun pandangan seseorang” tuturnya.

Potensi radikalisme di Indonesia ada, menurut Ardi, karena masyarakat tidak menggunakan daya tangkal dengan baik untuk mengcounter paham radikalisme dan rerorisme.

Kapolres juga menyampaikan, dalam mengcounter isu terorisme, dibutuhkan kerjasama dengan pers yang lebih profesional, terutama dalam menulis terkait aksi-aksi terorisme.

“Yang perlu kita waspadai juga saat situasi saat ini, di tengah pandemi covid-19. Mereka tidak diam, justru mereka mengambil peluang, memanfaatkan situasi covid-19 ini  untuk menyebarkan paham tadi,” pungkasnya.