Kasus Ibu Kehilangan Bayi di RSUD Polewali, Ini Klarifikasi Pihak Rumah Sakit

Rumah sakit Polewali
Rumah sakit Polewali

PaTTaE.com — Polewali Mandar | Komisi IV DPRD dan Ketua DPRD Kabupaten Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polewali, Kamis 25/6/2020

Kedatangan Tim sidak DPRD Polman ke rumah sakit Polewali guna menindaklanjuti salah satu warga Balanipa ibu Anni. Yang menjadi korban atas keterlambatan penanganan pihak Rumah Sakit sehingga bayi yang dikandung Ibu Anni meninggal dalam kandungan.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dokter Emy saat ditemui pihak DPRD Polman menceritakan kronologi kasus yang menimpa Ibu Anni. Kata dia, saat pasien telah tiba. Dokter spesialis observasi tidak melihat ada kemajuan pada Ibu Anni. Padahal, tekanan darah tinggi dan ketubannya sudah pecah. Jadi, diputuskan untuk dilakukan operasi.

Setelah dilakukan operasi, pasien akan di masukkan ke ruangan ICU. Syarat untuk masuk ke ruang ICU, kata Dr Emy, harus melalui Rapid Test. Setelah di Rapid Test ternyata positif. Setelah itu, lalu dilanjut pemeriksaan swab, hasilnya positif virus Corona.

“Setelah disini,  di observasi spesialis ahli ternyata hasil rapid testnya positif. Jadi, kami lanjut pemeriksaan swabnya dan dinyatakan covid19. Ini yang sangat di sayangkan karena skrening yang dilakukan salah satu puskesmas di Balanipa itu los, hasilnya negatif,” ujar Dr. Emy

Ini juga yang menjadi kendala dari pihak Rumah sakit, karena belum ada persiapan ruangan operasi untuk ibu hamil yang positif Corona. Sehingga, pihak rumah sakit memutuskan untuk di rujuk ke rumah sakit Parepare dan Makasaar, dengan alasan fasilitas bagi ibu hamil yang positif Covid-19, belum tersedia.

“Karena persalinan tidak maju kemudian covid juga, tensinya tinggi  juga dan kasus ini PEB. Jadi, dokter menyarankan untuk operasi. Nahh.., Di operasi itu kami dari Rumah Sakit Umum Daerah Polewali ini, belum punya kamar operasi khusus untuk penanganan covid. Jadi, dokter spesialis kita anjurkan untuk rujuk saja”. ucap dokter Emy

“ketika pihak rumah sakit menghubungi rumah sakit yang ada di Parepare, awalnya tidak ada jawaban. Setelah ada jawaban ternyata full, tidak ada ruangan lagi. Begitu pun dengan rumah sakit yang ada di Makassar yang menerima rujukan pasien maternal dengan alasan yang sama (full)”. Lanjutnya menceritakan kronologi kasus yang menimpa ibu Anni.

Mendapat jawaban dari pihak rumah sakit yang ada di Parepere dan Makassar. Pihak rumah sakit Polewali memutuskan untuk merujuk ibu Anni ke Mamuju tanpa ada komunikasi yang pasti ke rumah sakit yang ada di Mamuju.

Sesampainya di Mamuju pihak rumah sakit hanya bisa menyediakan ruangan tapi tidak standar untuk pasien covid. Jadi, keluarga lebih memilih untuk membawa kembali ke Rumah Sakit Umum Daerah Polewali, untuk segera ditangani karena ketuban sudah lama pecah sudah 2 hari 1 malam. Sehingga diduga menyebabkan bayi ibu Anni meninggal dunia.

Pihak RS pun langsung melakukan operasi selama satu jam setengah dan hasilnya, ibu Anni selamat, tetapi bayi yang dikandungnya lahir tanpa rekasi (menangis), dan dinyatakan meninggal dunia.

Kurangnya tenaga medis yang tidak memenuhi standar penangan Covid-19. Juga menjadi kendala untuk menangani Ibu Anni yang diyatakan terkonfirmasi virus corona. Keberanian tenaga medis menangani Ibu Anni, kata Dokter Emy. Patut diberi apresiasi karena berani mengorbankan diri bahkan mempertaruhkan keluarga mereka dirumah yang bisa saja terkena virus corona.

Adanya kasus tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Polewali Mandar, Jupri Mahmud  sangat menyangkan. Kata dia, harusnya ada penanganan cepat, apalagi ketuban Ibu Anni sudah mongering yang menjadi dasar bayi yang dikandungnya meninggal.  

“Sungguh disayangkan kenapa tidak mengambil tindakan sedini mungkin sebelum dilakukan rujuk itu, bahwa karena tidak ada kordinasi juga tidak ada kesiapan harusnya ibu harus membuat apa? Strategi untuk melakukan tindakan yang urgent, meskipun sudah dilakukan tapi sudah terlambat nasi sudah jadi buburkasian ini Pasien”. Tuturnya kepada pihak rumah sakit Polewali.

Ilham, dari komisi IV DPRD Polman sekaligus ketua pansos 1 pencegahan Covid, juga menyangkan kejadian yang menimpa warga Kecamatan Balanipa. ia mengatakan, seharusnya pihak rumah sakit langsung menangani. Toh, setelah dirujuk dan di tolak di beberapa rumah sakit, pihak RS Polewali pun kembali menanganinya kembali, meski sudah terlambat.[sulfa]*