Kecam Razia Buku, Pegiat Literasi dan Seni Menggelar Aksi Solidaritas

Pegiat literasi dan seni melawan razia buku
Pegiat literasi dan seni melawan razia buku

Sejumlah pegiat literasi dan seni Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar aksi solidaritas dengan mengadakan Lapak Baca Gratis di Taman kota Sport Center Polewali Mandar selama tiga hari mulai 8-10 Agustus 2019.

Kejadian razia buku yang terjadi di daerah Probolinggo dan di Gramedia Trans Mall Makassar. Dengan mengatasnamakan Brigade Muslim Indonesia di Makassar, menjadi viral beberapa minggu yang lalu (3/8/2019). Hal tersebut memicu kemarahan para pecinta literasi dan mengutuk aksi razia buku tersebut.

Dibalik Aksi penyikapan terhadap kejadian penyitaan buku-buku beberapa minggu kemarin. Lapak baca yang di gelar para pegiat literasi Sulbar, sebagai aksi tuk mengajak masyarakat Polewali Mandar untuk meningkatkan minat baca.

Lia Keccu, salah satu pegiat literasi dari Bala Tau ART yang ikut dalam barisan aksi lapak baca  tersebut mengatakan, aksi tersebut merupakan menyikapan para pecinta literasi pada kasus yang melibatkan beberapa oknum  yang melakukan penyitaan / razia buku.

“Kalo menurut saya, penyitaan itu sebenarnya kurang efektif. Mengingat semua buku itu menyimpan pelajaran”. Terangnya

“ Di lain sisi juga harusnya yang menyita mempertimbangkan kerugian pemilik toko atau penjual. Tentu, mereka membutuhkan modal untuk pengadaan buku tersebut”. Tambahnya

Aksi solidaritas tersebut ini melibatkan beberara lembaga, komunitas pegiat literasi dan personal yang prihatin terhadap kejadian tersebut.

Lembaga-lembaga tersebut diantaranya Anak Lontara Nusantara (Altar), Serikat Pemuda Desa (Sepeda), Lattang Literasi Desa Kunyi, Bala Tau Art, Coffe literasi.

selain itu ada juga, Budaya Literasi Pinrang, Kerukunan Pemuda Pelajar Pulo Battoa (KP3B), Sapo-sapo Majene, Litera Pandita, HMJ Himagrotek Unasman, HMJ KPI IAI DDI Polman. dll.

“Aksi solisaritas dalam bentuk Lapak baca yang diadakan oleh beberapa pegiat literasi dari berbagai kalangan komunitas ini, menurut saya adalah bentuk dari propaganda bahwasanya kehadiran oposisi tidaklah meruntuhkan demokrasi. Terang Untung Wijaya (Budaya Literasi Pinrang) dalam pernyataan sikapnya.

“Pelarangan hingga razia buku kiri menandakan minimnya minat baca bangsa kita ini. Lupa kah kita bahwa proklamator kita sangat gandrung akan bacaan kiri”.  Tambahnya

 “Jangan sekali-kali lupakan sejarah pancasila berawal dari tublensi ideology”. Tutupnya

Barista Coffee Literasi, Umar juga memberikan sikap pada aksi solidaritas tersebut. Ia mengatakan, Ditengah rendahnya minat baca, pelarangan buku adalah kemunduran luar biasa.

“Pelarangan buku adalah kemubaziran sempurna. Ditengah rendahnya minat baca, pelarangan buku adalah kemunduran luar biasa”. Tegasnya [pattae.com-F2]