Kekurangan Ganjar Pranowo Sebagai Calon Presiden 2024

Ganjar Pranowo Calon Presiden 2024
Ganjar Pranowo Calon Presiden 2024 dari PDI Perjuangan

Sejak berakhirnya orde baru yang serba tertutup, kita memasuki era reformasi yang sangat terbuka. Semua sistem pemilihan kini terbuka, dan memberi kesempatan kepada semua orang untuk maju sebagai calon pemimpin.

Perubahan tersebut memberi kita kesempatan mengenal sosok Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah periode 2013-2018 dan Periode 2018-2023. Gubernur latar belakang sipil, yang berhasil mengalahkan gubernur petahana latar belakang militer, Bibit Waluyo di Pilkada Jawa Tengah 2013.

Dalam setiap pemilihan calon pemimpin, setiap orang pasti ingin mendapat informasi tentang kelebihan calon. Namun Kongres Rakyat Nasional (Kornas) justru ingin memberi informasi tentang kekurangan Ganjar Pranowo sebagai Capres. Sehingga publik semakin lengkap mengenal calon pemimpinnya. Berikut daftar kekurangan Ganjar Pranowo:

Pertama, bahwa Ganjar Pranowo berasal dari keluarga orang biasa, sederhana, tidak berasal dari kaum ningrat dan darah biru. Ayahnya polisi dengan pangkat rendah, ibunya membuka kedai kelontong dan penjual bensin eceran. Berbeda dengan Prabowo Subianto, Kakeknya Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo, adalah pendiri Bank Negara Indonesia. Ayahnya Soemitro Djojohadikoesoemo adalah begawan ekonomi Indonesia dan pernah menjabat menteri di masa orde lama dan orde baru. Sedangkan Anies Baswedan, kakeknya adalah pahlawan nasional, Abdurrahman Baswedan, pernah menjadi wakil menteri muda penerangan RI, anggota BP-KNIP. Ayahnya, Rasyid Baswedan merupakan akademisi yang pernah menjabat wakil rektor UII Yogyakarta.

Kedua, bahwa Ganjar Pranowo tidak memiliki dukungan dari konglomerat yang memiliki gurita bisnis ( bandar politik). Ganjar Pranowo hanya mengandalkan dukungan dan gotong royong partisipasi rakyat. Sementara itu, Prabowo Subianto, selain memiliki sejumlah bisnis, juga ditopang oleh pengusaha besar adiknya, Hashim Djojohadikusumo. Sedangkan Anies Baswedan didukung penuh oleh pengusaha sekaligus politisi, Jusuf Kalla dan Surya Paloh, serta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ketiga, bahwa Ganjar Pranowo tidak memiliki ambisi pribadi untuk menjadi presiden. Sementara itu Prabowo Subianto telah berulangkali menunjukkan ambisinya sejak mengikuti konvensi Capres Partai Golkar 2004, menjadi Cawapres Megawati Soekarnoputri 2009, Capres 2014 dan 2019. Sedangkan Anies Baswedan telah menunjukkan ambisinya untuk menjadi presiden dengan mengikuti konvensi Capres Demokrat 2014.

Keempat, bahwa Ganjar Pranowo adalah tokoh politik yang sudah pernah menjadi tokoh nasional sebagai Anggota DPR RI. Namun memilih pulang kampung menjadi tokoh lokal, sebagai Gubernur Jawa Tengah. Jauh dari hiruk pikuk berita nasional. Sementara itu Prabowo Subianto, sebagai anak menteri, dan menantu presiden, hingga menjadi Danjen Kopasus, Panglima Kostrad, Cawapres, Capres, Ketum Gerindra, kemudian menjadi Menteri Pertahanan RI selalu ada dalam pusaran nasional. Sedangkan Anies Baswedan, sejak jadi rektor Universitas Paramadina, ikut Konvensi Partai Demokrat, Timses Jokowi, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, hingga jadi Menteri Pendidikan dan saat ini Capres Nasdem juga selalu berada di tingkat  nasional.

Kelima, bahwa Ganjar Pranowo berani menyatakan sikap yang tegas dengan menolak penggunaan lambang dan bendera negara, serta lagu kebangsaan Israel yang direncanakan digunakan di pertandingan Piala Dunia FIFA U20 di Indonesia. Sementara itu Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan RI dan Ketum Gerindra sekaligus Capres Gerindra tidak berani menyatakan sikap apapun. Sedangkan Anies Baswedan yang sudah menjadi Capres Nasdem memilih bungkam. Keduanya membangun narasi memisahkan olahraga dengan politik. Ganjar Pranowo menjadi pihak yang disalahkan karena FIFA membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20 FIFA.

Keenam, bahwa Ganjar Pranowo lebih sering menggunakan bahasa ibunya, bahasa Jawa dalam berkomunikasi dengan publik. Sementara itu Prabowo Subianto dan Anies Baswedan pernah tinggal di luar negeri. Keduanya juga selalu menunjukkan kemampuan menggunakan bahasa asing, dan menunjukkan kemampuan bergaul dengan dunia luar.

Ketujuh, bahwa Ganjar Pranowo tidak mampu menggunakan sentimen SARA, eksploitasi ikatan- ikatan primordial, politik identitas dalam Pileg maupun Pilkada yang diikutinya. Sementara itu Prabowo Subianto dalam dua kali Pilpres menggunakannya secara terbuka. Begitu juga dengan Anies Baswedan yang berhasil memenangi Pilkada DKI Jakarta dengan politik identitas dan sentimen SARA, dan eksploitasi ikatan- ikatan primordial.

Kedelapan, bahwa Ganjar Pranowo tidak membiayai pergerakan rekan juang politik, relawan, simpatisan yang mendukungnya sebagai Capres. Relawan Ganjar Pranowo bergerak secara mandiri dan sukarela sebelum Ganjar Pranowo diumumkan sebagai Capres oleh PDIP. Sementara relawan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan terbentuk subur setelah keduanya diumumkan sebagai Capres.

Semua kekurangan yang ada pada diri Ganjar Pranowo tersebut sebagai bukti bahwa beliau sebagai Capres “orang biasa” dan memiliki banyak kesamaan, bahkan “kembar identik” dengan Presiden Joko Widodo yang juga merupakan “orang biasa”. Ganjar Pranowo mewakili mayoritas rakyat Indonesia sebagai “orang biasa”. Maka kekurangan tersebut justru akan menjadi kekuatan jika Ganjar Pranowo setia, dan berpihak kepada rakyat.[*]

Penulis: Sutrisno Pangaribuan*
Presidium Kongres Rakyat Nasional ( Kornas ), dan Presidium Koalisi Bersama Rakyat ( Koalisi Besar ).