Konvensi Hak Anak Perlu Dipahamkan Kepada Orang Tua

Konvensi Hak Anak
Pelatihan Konvensi Hak Anak

Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB). Menggelar pelatihan Konvensi Hak Anak di Aula Gedung PKK Polewali. Kamis (24/2/2022).

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas P3AP2KB Hj Harsani, menyampaikan, pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA) sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman hak dan perlindungan ke anak, kepada para orang tua dan lapisan masyarakat.  

Kegiatan yang seharusnya berlangsung 4 hari. Namun karena pertimbangan situasi Covid-19. Kegiatan hanya berlangsung sehari dan diikuti sebanyak 20 pserta dari perwakilan OPD, Lembaga Masyarakat, Dunia Usaha dan Media serta Masyarakat.

Meski sehari, Harsani mengatakan, materi dari 5 kluster KHA tetap disampaikan kepada peserta pelatihan.

Selain itu, pelatihan ini kata Harsani, juga memberikan informasi dan pengetahuan tentang implementasi hak anak serta menciptakan lingkungan ramah anak dan menghargai partisipasi anak.

“Ini yang banyak didapatkan hari ini, kadang-kadang banyak orangtua yang mengabaikan pendapat anak atau partisipasi anak. Padahal pendapat anak-anak itu sangat brilian yang bisa saja ada pelajaran dalam pendapatnya itu,” ujar Harsani.

Ia berharap, dengan adanya kegiatan ini mereka memahami Konvensi Hak Anak dan ikut serta menyebarluaskan informasi terkait hal ini baik dilingkungan keluarga maupun di tengah masyarakat.

Sementara itu, Fasilitator sekolah ramah anak Siti Nurwana sebagai pemateri yang di SK kan langsung Menteri Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia mengatakan pelatihan Konvensi Hak Anak sangat penting sosialisasikan ke orang tua serta pendidik pasalnya anak adalah penerus cita-cita bangsa tapi kenyataan nya masih banyak anak-anak yang mendapatkan perlakuan kekerasan saat ini.

“Sementara anak-anak memiliki hak, hak untuk hidup, hak berpendapat, hak tumbuh berkembang, hak perlindungan dan hak partisipasi,” jelas Nurwana

Ia berharap kedepan ini tidak ada lagi kekerasan pada anak, yang ada hanya partisipasi anak dalam berpendapat dan berkreasi.[*]