Masihkah Ada Stok Seperti Kakek Mansur?

Kakek Mansur
Duduk Kakek Mansur saat penulis menemuinya

Di pelataran RSUD Kab. Polman, sabtu 12 September 2020, aku menunggu tim volunteer DD Sulbar. Yah, tujuan untuk menjenguk nenek Sa’da, isteri kakek Mansur.

Hem hampir setengah jam aku menunggu, akhirnya kelima sahabat volunteer datang, tepat pukul 16.10 WITA, kami menuju ruang perawatan Mawar A 1, kamar nenek Sa’da.

Tidak terlalu lama kami mencari ruang perawatan Mawar A 1, sebab posisinya ada di lantai dasar. Alhamdulillah nenek Sa’da tertidur pulas, nampak pula kakek Mansur terbaring dibawah, samping kiri ranjang sang isteri.

Kakek Mansur segera merapihkan kopiah hitam di kepala, dan duduk menyambut kedatangan kami. Air muka teduh, tulus menyambut. Di atas ranjang sang isteri tersayang nyenyak, selang infus di jemarinya begitu bersahabat, dua mata mengatup, entah berselancar di alam mimpi apa yah, kira-kira si nenek, gumamku dalam hati.

Tidak lama kemudian anak bungsu beliau, juga datang menghampiri. Ikut nimbrung melingkar bersama. Kakek Mansur bersama anak bungsunya merawat isteri tercinta. Nenek Sa’da masih saja tertidur pulas, rona manis terlihat dari dagu lancipnya.

Membuka pembicaraan dengan menanyakan perkembangan kesehatan nenek Sa’da. Kakek dan anaknya menjelaskan, bahwa kondisi kesehatan nenek mengalami perkembangan signifikan.

“Sudah delapan hari kami di sini, nenek tidak mau ditinggal sama kakek, selalu nenek ingin ditemani, biar saya ada selalu saja kakek yang diharapkan, ada mengelus di sampingnya, hanya hari Jum’at kakek bisa lepas keluar kamar, itu pun karena alasan kuat, bahwa kakek sedang melaksanakan sholat jum’at di masjid,” ungkap anak bungsunya.

Benjolan di perut nenek pun mengempes, ternyata menurut perawat, itu akibat penyumbatan air seni, sehari setelah nenek di rawat diadakan penyedotan, alhamdulillah akhirnya benjolan menghilang.

Nenek masih menikmati tidurnya, terlihat memang perubahan membaik, tidak seperti awal kami kunjungan, saat nenek terbaring di kediamannya. Hari ini kesegaran nampak di wajah, bahagia rasanya melihat nenek pulas tertidur, dengan senyuman manis.

Tim volunteer pun menyerahkan donasi uang, dari para donatur dermawan, untuk pengobatan dan pendampingan nenek selama masa perawatan. Amanah donatur setelah seminggu kami open donasi berhasil tersalurkan.

Temali kemanusiaan akan senantiasa terjalin, sebab jiwa-jiwa tulus akan rasa kemanusiaan, bukankah Tuhan mendesain tubuh kita untuk berbagi. Maha Pemberi balasan kebaikan akan hadir, dari berkah ketulusan hati.

Di ruangan yang adem, nenek masih saja tertidur pulas, cerita-cerita santai pun mengalir bersama kakek dan anak bungsunya.

“Masihkah ada stok seperti kakek Mansur di jaman millenial gini? 721 setia hingga akhir di samping sang isteri”, Nur Rahma tiba-tiba kelepasan ngomong sembari menatap sayup kakek.

“Nadiang dua kapang ana’ tapi jarangmi” balas kakek dengan senyum dan tawa lepas. (Masih ada nak, tapi mungkin sudah jarang).

“Apa tanda-tandanya kakek, melihat? “, Nur Rahma kembali bertanya. Mimik kami pada penasaran, meski tawa lepas tak kunjung kami kontrol, namun nenek Sa’da masih saja tertidur pulas, tak terbangun, sementara kami tertawa dan cerita lepas.

Penjaga pasien depan ranjang nenek pun, turut menonton, ah tak sadar kami jadi pusat perhatian. Mereka pun menikmati kehadiran kami, tak satu pun merasa terganggu. Dan sesekali ikut tertawa.

“Mua makarrassi nak damemammo, ita toi alawena, macoa lao rupa tau, anna massambayang”, balas kakek penuh hangat dan senyum energiknya. (Jika dia keras tinggalkan, liat siapa dia, apakah baik sesama manusia, dan apakah dia rajin beribadah sholat).

“Kakek dan nenek dulu pacaran ya? “, ah kembali kami serentak bertanya.

“Tidak nak, saya sama nenek tidak pacaran, kami hanya bertemu sekali dan langsung orang tuaku mengiyakan, apalagi nenek pada saat itu sudah yatim piatu “, balas kakek yang ternyata fasih juga bahasa Indonesia.

“Jadi semasa saya sama sampai saat ini, kami tidak pernah bertengkar, nenek juga tidak pernah meminta hal yang berlebihan, intinya kami menjalani kehidupan, sama susah sama senang, ke kebun sama, ke pasar menjual ikan sama, dengan membonceng nenek menggunakan sepeda tua, yah kami menikmati kebersamaan tanpa beban”, jawab kakek sembari tersenyum bahagia kepada kami.

“Kemana pun, dia selalu sama dek. Bahkan di rumah ke kamar mandi pun sering sama-sama, dan memang mereka tidak pernah pisah. Apalagi bertengkar, “ anak bungsunya pun semakin mempertegas.

Sebuah kisah kehidupan nan inspiratif, di tengah maraknya tingkat kasus KDRT, perselingkuhan, dan kejahatan seksual. Kami meneguk sari pengetahuan dan pembelajaran hidup, bahwa cinta bukan sebatas retorika belaka. Namun, harus mampu membumi di kehidupan sehari-hari, dan mengejewantah dalam laku diri.

Auto baperpun menyerang kami, istilah anak jaman sekarang uwu uwunya mi, romantis benar, kakek Mansur dan nenek Sa’da, Habibie Ainun versi Polman.

Lekas sembuh nenek, sebab sepasang sayap cinta, akan tetap terbang, seiring perjuangan cinta sejati, terawat meneguk makrifat cinta Maha Pemberi Cinta.

Penulis: Blantara*