Mattoratu, Tradisi Suku Pattae dalam Menyambut Kelahiran Sang Bayi

Tradisi Mattoratu Suku Pattae
Prosesi penyembelian hewan ternak untuk sang bayi yang di Toratu. Sumber Photo. Sapri

“Mattoratu” merupakan tradisi suku Pattae untuk menyambut sang buah hari yang baru lahir. Kelahiran seorang bayi dalam masyarakat nusantara disambut berbagai bentuk tradisi dan adat istiadat. Hal ini dilakukan sebagai wujud suka cita orang tua atas kelahiran buah hati mereka.

Di setiap daerah memiliki tradisi kelahiran bayi dengan keunikannya tersendiri. Pada masyarakat suku Pattae yang kaya akan adat istiadat dan budaya, nyatanya juga memiliki tradisi menyambut kelahiran bayi. Tradisi suku pattae itu disebut sebagai Mattoratu.

Sapri, Alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar mengungkap tradisi mattoratu suku Pattae dalam Penelitian ilmiah (Skripsi) nya melalui pendekatan Teologis, Historis, dan pendekatan Antropogis.

Penelitian dengan judul “Tradisi Mattoratu di Desa Kaleok, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar dalam Tinjauan Aqidah Islam”. Dilakukan tahun 2016 dengan mengungkap sejarah, tatacara, serta tujuan dilaksanakannya tradisi Mattoratu.  

Mattoratu merupakan suatu prosesi suatu tradisi suku pattae dengan menyembelih hewan ternak seperti ayam sebagai syarat utamanya. selain itu, prosesi tersebut disertai juga dengan ritual-ritual tertentu yang bersifat tradisional untuk menyambut kelahiran sang bayi.

Tradisi ini  merupakan kepercayaan Aluk Todolo masyarakat suku Pattae sebagai bentuk tolak bala agar kehidupan sang bayi terjaga hingga dewasa. Selain itu, juga sebagai bentuk perlakuan agar sang bayi tetap ingat kepada sang pencipta dan asal usulnya.

Berdasarkan penamaan, istilah Mattoratu  berasal dari kata Ma’toratu yang terdiri dari tiga suku kata yaitu; “Ma’” berarti melaksanakan/melakukan, dan “To”  berarti orang. Sedangkan kata “Ratu” berarti datang.

Jadi, istilah Mattoratu dapat diartikan sebagai bentuk syukuran datangnya seorang bayi dalam suatu keluarga. Arti lain dari kata Mattoratu diambil dari bahasa Pattae yang berarti Tammu Kajajian artinya menemui hari kelahiran.

Proses pelaksanan tradisi ini dilakukan pada hari ke 7 dari waktu kelahiran sang bayi dengan menyediakan hewan ternak (ayam) sesuai jenis kelamin sang bayi. Jika anak yang baru lahir adalah laki-laki, maka hewan yang disembili berjenis kelamin jantan. Begitu juga sebaliknya.

Setelah penyembelian hewan ternak dalam tradisi suku pattae (Mattoratu) tersebut, darahnya kemudian diambil dan di letakkan pada dahi dan kedua telapak tangan bayi yang di Toratu. Hewan ternak yang disembeli tadi lalu di masak dan disantap bersama sanak keluarga yang hadir pada prosesi Mattoratu.  

Menurut tetua adat (Tomakaka), Maksud menempelkan darah ayam pada dahi bayi, bertujuan agar sang bayi selalu sujud kepada sang pencipta (Allah SWT). Sedangkan darah pada telapak tangan sebagai petanda bayi tersebut merupakan cucu Nabi Adam a.s. [pattae.com]

Penulis: TaTo*

Das’ad Latif Mengisi Takziyah 40 Hari Meninggalnya H. Bedong