Opini: Menuju Paradigma Baru Penataan Ruang Pasca Pandemi

Paradigma Baru
Gambar: thaismesoft.com

if you fail to plan, you are planning to fail.

– Benjamin Franklin

Masayarakat Dunia saat ini tengah menghadapi sebuah keadaan kahar. Keadaan yang mengubah tatanan hidup dan memaksa kita melakukan adaptasi pada semua aspek kehidupan. Beberapa bulan lalu, aktivitas masyarakat masih dilakukan secara normal. Bekerja di kantor, belajar di sekolah, bersosialisasi di ruang publik serta beribadah seperti biasa. Namun Saat ini, kebiasaan itu tidak dianjurkan ditengah merebaknya pandemi Covid-19.

Situasi ini meruntuhkan begitu banyak asumsi serta analisis kita pada berbagai bidang, baik dalam bidang ekonomi, sosial-politik, lingkungan dan utamanya kesehatan. Situasi yang disebut Yuval Noah Harari sebagai krisis global, yang mempengaruhi sistem serta cara hidup kita, bahkan mungkin setelah pandemi berakhir.

Beberapa diskursus tengah berkembang mengenai kemungkinan timbulnya New Normal yang dianggap sebagai keadaan tidak biasa. New Normal adalah suatu fenomena yang terjadi sebagai implikasi dari anomali akibat pandemi. Fenomena New Normal membentuk perilaku masyarakat yang baru dan berbeda serta berubah dari perilaku lazim sebelumnya. Perubahan perilaku yang terjadi selama Covid-19 telah menciptakan situasi dan pembentukan tatanan ekosistem baru yang terkoneksi dengan perangkat digital dan internet.

Perubahan prilaku itu diantaranya: Penjarakan fisik dalam setiap interaksi sosial. Penerapan pola hidup bersih dan sehat secara konsisten. Masifnya digitalisasi dalam menuntaskan pekerjaan yang lazimnya diselesaikan secara langsung. Rapat melalui aplikasi daring, kuliah dan belajar secara online, bahkan wisuda yang dianggap sebagai momentum sakral, akhirnya harus berakhir di ruang digital. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap situasi pandemi serta dorongan hasrat manusia untuk tetap bertahan hidup.

New Normal Penataan Ruang

Beberapa hal diatas dapat mejelaskan bagaimana kebiasaan baru (new normal) telah menjadi sesuatu yang mau tidak mau harus diterima saat ini. Asumsi bahwa perubahan perilaku ini disebabkan oleh tidak siapnya peralatan analisis kita dalam mengantisipasi kemungkinan yang dapat terjadi di masa mendatang, bisa jadi benar adanya. Ketidakpastian aturan yang ditetapkan menimbulkan kebingungan di masyarakat bawah.

Indonesia pernah dilanda beberapa situasi bencana yang mungkin tidak sama tetapi membutuhkan tindakan yang sama antisipatifnya. Misalnya saja, bencana Tsunami di Aceh pada Desember 2004. Kejadian itu menjadi suatu momentum penting yang juga melahirkan kebiasaan baru bagi masyarakat Indonesia, khususnya dalam menghadapi bencana.

Pasca-Tsunami Aceh, terjadi beberapa gelombang perubahan. Utamanya pada sisi kesiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Mulai dari perubahan aturan lama sampai pada pembuatan aturan baru.

Pada bidang kebencanaan aturan itu lahir dari kenyataan bahwa Indonesia dikelilingi oleh potensi bencana. Kenyataan itu memaksa kita untuk mengubah hal yang lazim menuju kebiasaan baru.

Masyarakat lebih tanggap terhadap bencana dan lebih tahu apa yang harus dilakukan bila situasi itu datang kembali. Meski secara umum, bencana tetap tidak dapat diprediksi namun dapat diantisipasi dampaknya.

Fakta lain menyatakan, perubahan iklim pada dekade pertama millennium kedua timbul mempengaruhi pola pikir perencanaan dan pembangunan. Perubahan iklim yang terjadi akibat meningkatnya emisi karbon, dinyatakan sebagai persoalan global yang juga tak dapat diantisipasi oleh pendekatan lama.

Atas dasar hal tersebut, maka pada tahun 2015 disepakati secara global bahwa dunia membutuhkan konsep baru dalam menangani perubahan iklim. Momentum itu ditandai dengan diratifikasinya “Paris Agreement” sebagai acuan global dalam mereduksi emisi karbon melalui konsep Blue Carbon serta model perencanaan dan pembangunan rendah karbon (LCD).

Melihat situasi saat ini. Penyebaran Covid-19 yang begitu cepat dan sangat sulit dikendalikan memberikan pengalaman baru bagi kita. Ketidaksiapan itu terlihat dari lambannya penentuan langkah dalam memutus mata rantai penyebaran.

Walaupun seperti yang kita ketahui bersama, bahwa penawar dari virus hanyalah vaksin yang sampai saat ini juga belum ditemukan. Namun sebisa mungkin prediksi serta antisipasi terhadap kemungkinan datangnya virus baru, harus mulai menjadi perhatian penting bagi kita.

Keberadaan virus ini pada akhirnya menjadi refleksi dan kontemplasi bagi semua norma dan aturan yang selama ini kita gunakan dalam hal merencanakan dan memanfaaatkan ruang.

Menuju Paradigma Baru

Kegagalan demi kegagalan perencanaan dan pembangunan dalam mencapai tujuannya seringkali disebabkan bukan hanya oleh perencanaan atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Melainkan adanya kontribusi kesalahan karena berkembangnya kepercayaan terhadap kebenaran teori atau konsep yang melandasinya. Padahal setiap teori maupun konsep selalu mengalami perkembangan dan koreksi, sehingga senantiasa melahirkan peregeseran nilai –nilai yang dianggap baik dan benar.

Konsep dan teori yang semula dianggap sebagai suatu kebenaran, dikemudian hari akhirnya dianggap salah dan keliru, akibat pelajaran dan pengalaman, pergeseran nilai-nilai kehidupan dan perkembangan teknologi atau juga akibat transformasi pemahaman hasil dari analisisi-analaisis baru serta perubahan drastis dari masyarakat sebagai pelaku. Fenomena ini sering disebut sebagai pergeseran paradigma atau lahirnya paradigma baru.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat dipengaruhi oleh bekembangnya paradigma sebagai pola pikir dan konsep yang menjadi acuan. Thomas Kuhn menggambarkan, Pergeseran Paradigma selalu diawali oleh keadaan yang disebut sebagai anomali. Kondisi ini mengugat Normal Sains yang berlaku dan menimbulkan normal baru.

Anomali yang timbul disebabkan oleh permasalahan yang tidak mampu dijawab oleh paradigma lama. Setelah itu, anomali berlanjut menjadi krisis, dimana situasi ini ditandai dengan perubahan-perubahan mendasar yang bertentangan dengan aturan lama, melebarnya kesenjangan antara teori dan fakta serta perubahan sosial-kultural yang drastis di masyarakat. Pada saat krisis, akan timbul respon alternatif dan modifikasi konsep sementara, sebagai upaya kedua untuk menyelesaikan krisis.

Namun jika alternatif dan modifikasi konsep tetap tidak mampu menjadi solusi dari krisis, maka situasi akan menuju pada keadaan yang dikemukakan Kuhn sebagai Revolusi Ilmiah. Fase ini merupakan perkembangan non-komulatif, dimana paradigm lama diganti sebagian atau seluruhnya dengan paradigma baru yang bertentangan.

Paradigma tersebut telah diyakini dapat menyelesaikan persoalan untuk masa depan. Apabila paradigma baru dapat diterima dan bertahan dalam kurun waktu tertentu, maka secara otomatis akan menjadi Normal Sains yang baru.

Pada bidang Penataan Ruang, proses pergeseran paradigma telah terjadi seiring berkembangnya peradaban. Sesuai dengan prinsipnya yang dinamis, maka perubahan atau pergeseran paragdigma menjadi suatu keniscayaan bagi perkembangan keilmuan penataan ruang. Melihat kondisi ini, kemungkinan pergeseran pola pikir dalam proses penataan ruang menjadi hal yang penting untuk didiskusikan bersama.

Dibutuhkan modifikasi dan alternatif konsep yang baru dalam menyelesaikan persoalan penyebaran virus dari perspektif penataan ruang dimasa kini dan masa mendatang, baik dari sisi teknis maupun kebijakan. Sebab sejauh ini, proses penataan ruang belum mampu menjadi solusi bagi bencana sosial Covid-19.

Padahal, tujuan dari penataan ruang adalah tercapainya ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Namun pada kondisi saat ini, tujuan itu tidak mampu dihasilkan oleh produk perencanaan tata ruang. Maka dari itu lahirnya diskursus mengenai paradigm baru penataan ruang, sangatlah relevan saat ini. Utamanya dalam mewujudkan penataan ruang sebagai instrumen mitigasi bencana dan panglima pembangunan wilayah.(*)

Pelepasan Tukik
Peserta PIFAF Melepas 203 Tukik dan Menanam 150 Pohon di Mampie