Pemanfaatan Limbah Sawit Membuka Usaha Mandiri Warga Desa Pakava

Pemanfaatan limbah sawit warga Desa Pakava, Pasangkayu, Sulawesi Barat (1)
Pemanfaatan limbah sawit warga Desa Pakava, Pasangkayu, Sulawesi Barat

Pasangkayu – Kabupaten Pasangkayu berada di ujung utara Sulawesi Barat (Sulbar) memiliki keunggulan dalam bidang perkebunan seperti kelapa sawit. Sehingga, memberikan kontribusi positif  hingga terbukanya lapangan pekerjaan baru seperti pemanfaatan limbah sawit.

Selain membuka lapangan pekerjaan karena adanya PT di wilayah tersebut, Desa Pakava, Kabupaten pasangkayu, Sulawesi Barat, merupakan salah satu desa yang melakukan inovasi dalam pemanfaatan limbah dari cangkang sawit.

Adanya limbah sawit yang hanya terbuang begitu saja, mendorong pemerintah desa Pakava, bekerja sama dengan Dirjen Lingkungan Hidup, membangun gedung untuk memanfaatkan limbah sawit menjadi jamur meram.

Pembangunan gedung yang dimulai dibangun pada bulan September 2018, dikelola kelompok wanita  Jaya Makmur untuk pemanfaatan limbah sawit. Dari usaha yang mereka lakoni menghasilkan Jamur tiram yang menjadi bahan pembuatan biogas hingga produksi pupuk cair.

Sala satu pengurus kelompok wanita Jaya Makmur, Sumiati menuturkan, untuk pemanfaatan limbah sawit, mereka bekerja sama dengan PT. Pasangkayu untuk pengadaan bahan mentah cangkang sawit. Sementara untuk bibit jamur-nya, mereka pesan langsung dari Surabaya, Jawa Timur.

Dalam pengelolaannya, Sumiati menambahkan, banyak menemui kendala. Salah satunya adalah jamur yang mereka kelola hanya bertahan 24 jam saja sehingga banyak mengalami kerugian.

“Kendala yang kami hadapi saat ini adalah Jamur Meram beda dengan jamur tiram. Jamur meram hanya mampu bertahan 24 jam sehingga saat puncak panen biasanya jamur tidak habis terjual”. Ungkap Sumiati.

Adanya hal tersebut, mereka berinisiatif menjadikan jamur meram produksinya menjadi bahan dasar pembuatan Abon jamur.   

“Hingga kelompok kami mengelola menjadi abon – abon jamur untuk mengurangi dampak kerugian. Untuk pembuatan abon – abon jamur  dijamin akan bertahan 1 bulan tapi masih ada penambahan bahan sehingga biaya produksi bertambah”. Lanjutnya.

Kendala lain yang mereka temukan adalah ketercapaian suhu 70oC untuk mengahasilkan jamur berkualitas. Mereka hanya mengandalkan kayu bakar. Sehingga, saat musim hujan tibah, pembakaran menjadi tidak maksimal dan harus mengulang pembakaran hingga mendapatkan suhu 70oC.

Pemanfaatan Limbah Sawit Menghasilkan Jamur, Bio Gas dan Pupuk Cair

Jamur tiram hasil dari pemanfaatan limbah sawit oleh kelompok usaha wanita jaya makmur desa Pakava

Pemanfaatan limbah atau cangkang sawit, dikelola dengan perendaman terlebih dahulu kemudian di masukan dan disusun ditempat wadah tertutup yang sudah tersedia. Setelah itu dilakukan pembakaran hingga mencapai suhu 70 derajat celsius.

Sebelum bibit ditebar, terlebih dahulu dilakukan pemupukan dan pencampuran dedak agar bibit jamur dapat tumbuh dengan sempurnah.

Setelah proses pemupukan dan penaburan dedak, selanjutnya penebaran bibit jamur meram. Setelah itu ditutup rapat dengan menggunakan plastik dan terpal agar terhindar dari sinar matahari agar suhu pembakaran dapat menetralisir suhu dalam ruangan.

Dalam proses panen kadang mampu 300 kg selama panen dalam 1 ruangan. Proses panen biasa dilakukan 7 hingga 15 kali, tergantung proses pembuatan-nya. Hasil limbah dari jamur meram kemudian dimasukkan dalam tong besar untuk dipermentasi agar mampu menghasilkan biogas.

Pembangunan dan alat yang digunakan dalam pemanfaatan limbah sawit sudah menggunakan alat modern sehingga dijamin mampu bertahan lama. Selanjutnya hasil dari limbah biogas yang sudah mencair dijadikan sebagai pupuk cair untuk tanaman holtikultura.

Bantuan Pemerintah Desa untuk Pemanfaatan Limbah Sawit

Lokasi pemanfaatan limbah sawit warga desa Pakava, Pasangkayu, Sulbar

Perhatian pemerintah desa Pakava mendorong kelompok wanita Jaya Makmur dalam pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan dasar pengelolaan jamur, akan memberikan bantuan pengadaan kompor Gas.

Selain itu, pemerintah Desa juga membantu dalam hal peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pelatihan. Bantuan itu bertujuan agar kedepan-nya, usaha para ibu-ibu itu, lebih berkembang lagi seperti pengolahan menjadi keripik jamur, bakso jamur dan lain sebagainya.

Pengadaan Kompor Gas, Pemerintah desa Pakava melalui penetapan anggaran tahun 2019 akan memberikan bantuan sebanyak 100 mata kompor gas yang digunakan untuk pembakaran serta kekurangan lain-nya.

“Kami sudah koordinasi dengan pengurus kelompok wanita Jaya Makmur untuk kendala pembakaran. Tahun ini (2019) kita anggarkan melalui dana desa pengadaan kompor 100 mata. Nantinya kita akan memodifikasi agar pembakaran lebih efektif bahkan kita akan kembangkan usaha ini lebih baik”. Tutur Hamsir, Bendahara desa Pakava.

Melalui bantuan peningkatan SDM yang terampil, Pemerintah Desa Pakava juga memfasilitasi kelompok wanita Jaya Makmur dengan pengalokasian anggaran Desa untuk studi banding dan mengikuti pelatihan baik tingkat kabupaten, provinsi, hingga ke tingkat nasional.

Untuk pengadaan Biogas, pemerintah desa telah memberikan fasilitas untuk 20 kepala keluarga dalam satu dusun.

“Untuk pengadaan biogas sudah mampu melayani 20 Kepala Keluarga (KK) karena kapasitas biogas yang dibangun hanya mampu 20 KK. kedepan-nya kita akan membangun lagi pembangunan biogas di dusun lain”. Lanjut Hamsir.

Pembangunan pengelolaan jamur meram dan biogas berada satu tempat karena hasil limbah jamur meram dijadikan biogas dan limbahnya dimanfaatkan menjadi pupuk cair untuk Holrikultura.

Melihat perkembangan kelompok masyarakat yang mengalami perkembangan usaha pemanfaatan limbah sawit secara mandiri, Pemerintah desa melalui bantuan dana BKK Provinsi Sulbar dalam program MARASA (mandiri, cerdas dan sehat), kembali akan membangun gedung pusat pelatihan khusus yang direncanakan rampung bulan Desember 2019.

Pembangunan gedung pusat pelatihan khusus, yang dibangun pemerintah desa Pakava berharap kedepan-nya, dapat menjawab kebutuhan masyarakat dalam bidang pemberdayaan dan pembinaan.[pattae.com]

Penulis: Ridwan*
Editor: Bustamin TaTo*

Beasiswa Digital Talent 2019 dari Kemenkominfo
Beasiswa Digital Talent 2019 untuk 20 Ribu Peserta