Pemuda Lutra Menyulap Pakaian Bekas Menjadi Media Tanam

Pakaian Bekas banjir badang dijadikan media tanaman
Pakaian Bekas banjir badang dijadikan media tanaman

Banjir bandang di Luwu Utara tidak hanya menyisahkan kayu-kayu di bentaran sungai, dan lumpur menyelimuti rumah-rumah warga, namun pemandangan ketika kita berkunjung ke titik-titik pengungsian, sisa-sisa pakaian bekas menggunung.

Ada resah di tiap ujian, namun menyelimuti duka dengan ratapan adalah kesia-siaan, sebab semesta tidak henti merangkul jiwa-jiwa tulus dan kuat, mengakumulasi energi, mengambil hikmah dari bencana banjir bandang di Luwu Utara.

Adrenalin pun memacu di tiap detik, para pemuda-pemuda inspiratif tak henti memainkan nalar dan rasa kreatif mengolah bahan. Yah, bisa jadi nampak benda itu tidak bernilai, mampu disulap menjadi benda bermanfaat nan bernilai ekonomis.

Nalar-nalar kreatif kadang muncul di saat melingkar, menyeduh hangatnya kopi. Yah, berawal dari gundukan pakaian bekas, di titik pengungsian korban banjir bandang. Pemuda-pemuda itu bergerak hingga memunculkan ide mengolahnya menjadi benda lebih bermanfaat.

Mencoba menelisik, dampak yang bisa ditimbulkan jika sampah berbahan dasar kain, dibiarkan berceceran di tanah, tentu proses penguraiannya juga membutuhkan waktu lama.

Nah, pertanyaannya apakah pakaian bekas yang menggunung di atas permukaan tanah itu berbahaya?

Penulis mengutip dari portal online ayobandung.com, “Kepala Laboratorium Kimia Analisis Sekolah Tinggi Teknik Tekstil (STTT), Sukirman, sampah pakaian bekas membahayakan kesehatan manusia”.

“Jika tanah yang tercemar akibat sampah pakaian bekas berada di pemukiman warga, dan ditanami tumbuhan yang bisa dimakan oleh manusia, lalu dimakan oleh warga sekitar itu bisa menyebabkan kanker,”

“Timbunan sampah pakaian bekas juga berbahaya, untuk udara karena kerap mengeluarkan gas karbondioksida. Gas karbondioksida, ini muncul akibat adanya kegiatan mikroorganisme, pengurai serat sampah pakaian bekas tersebut”.

Apa yang harus dilakukan dengan melihat fakta, sampah pakaian bekas, di tengah-tengah titik pengungsian, korban banjir bandang.

Pakaian bekas menggunung pun, menyelimuti keresahan warga. Pakaian bekas tidak layak pakai, yang didonasikan dari berbagai penjuru, di tumpuk oleh warga hingga nampak gundukan baju bekas.

Pakaian Bekas
Foto: Blantara*

Kawan-kawan dari Simpul Peradaban Palopo, HMK Kampus Muhammadiyah, dan Akamsi Desa Balebo. Tidak tinggal diam, mereka bergerak memulai dengan membuat pot berbahan dasar pakaian bekas, sebagai media tanam untuk sayur-sayuran.

“Awalnya setelah beberapa hari sepulang dari Masamba, saya mampir di salah satu warkop di Palopo. Ditemani kawan HMK Kampus Muhammadiyah Palopo. Disitulah teman-teman mengeluarkan gagasan-gagasan baru, untuk membantu korban banjir bandang di Luwu Utara. ” ungkap Faisal.B (24) selaku penggerak di Simpul Peradaban Palopo.

“Kesimpulan dari kawan-kawan Simpul Peradaban dan kawan-kawan HMK Muhammadiyah, melihat pakaian yang tidak layak pakai, atau tidak lolos sortiran. Kami berinisiatif mengolah kain bekas tersebut, menjadi sebuah pot, bukan pot untuk menanam bunga. Namun, untuk nantinya dijadikan sebagai media tanam ketahanan pangan,” ungkap Faisal. B.

“Setiap rumah dibuatkan pot untuk ditanami sayur-sayuran, biar sisi ekonomi di masyarakat, bisa menutupi, walaupun tidak seberapa. Namun kami yakin dan optimis, sebagai contoh upaya meningkatkan perekonomian, masyarakat terdampak di Luwu Utara, ” ungkap Faisal. B.

Pemuda Desa Balebo/Baloli pun sangat mengapresiasi gerakan sinergitas ini, Ridwan (23) salah satu pemuda penggerak di Desa, mewakili Akamsi Desa Balebo. Tidak henti-hentinya membuka ruang bagi organ-organ/komunitas untuk berkolaborasi demi Luwu Utara bangkit.

“Harapan kami semoga apa yang menjadi ide-ide, yang kemudian dirancang teman-teman. Menjadi salah satu harapan masyarakat Luwu Utara. Untuk bisa bersama memanfaatkan hasil bantuan, yang sudah tidak layak pakai, dan hasil sisa-sisa banjir, ” ungkap Ridwan.

“Mungkin pula ada barang-barang yang masih berguna. Bisa diolah menjadi bernilai ekonomi, beberapa item kreatifitas selain pot, dan apresiasi kami semoga masyarakat Luwu Utara. Bisa lebih  kreatif dalam mengelola berbagai macam sesuatu, yang mungkin bisa lebih bermanfaat, ” tutup Ridwan.

Penulis: Blantara*