Pengendalian Shabu Dalam Lapas Gunakan Ponsel, Dibantah Pihak Lapas Polewali

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Polewali, angkat bicara prihal dugaan pengendalian narkoba dan penggunaan ponsel warga binaan di dalam Lapas Polewali.

Hal tersebut disuarakan usai beredarnya kisruh ada salah satu warga binaan Lapas Polewali tertangkap mengedarkan narkotika jenis sabu dalam Lapas.

Plh Kepala Lapas Kelas IIB Polewali Baharuddin menegaskan, penggunaan handphone genggam untuk warga binaan tipis adanya.

“Kita sudah melakukan rutinitas penggeledahan, bahkan kami libatkan aparat terkait (Aparat Penegak Hukum) untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terutama keberadaan handphone,” terang Pelaksana harian (Plh) Kepala Lapas Kelas IIB Polewali, Baharuddin.

Ia menyebutkan pengeledahan rutin yang dilakukan ada dua, yakni pemeriksaan insidentil dan rutinitas.

“Sebelum pihak BNNP Sulbar menjemput tersangka RU, kami sudah melakukan penggeledahan dan tidak menemukan handphone. Setelah RU dibawa pihak BNNP Sulbar kami kembali melakukan pemeriksaan dan hasilnya nihil (tidak ditemukan),” Ujar Baharuddin.

Kemudian, lanjut Baharuddin mengatakan saat RU dijemput BNNP Sulbar tidak ditemukan ada barang bukti berupa handphone.

Ia bersama jajaran lapas polewali memastikan seluruh warga binaan dipastikan tidak menggunakan handphone genggam.

Baharuddin menerangkan bahwa di Lapas Polewali ini terdapat layanan Warung Telekomunikasi Lapas (Wartelpas) yang tersedia. Sehingga tidak ada pengguna handphone genggam yang disimpan.

Untuk komunikasi melalui Wartelpas pun kata Baharuddin dibatasi dan dijaga dengan ketat oleh petugas.

“Sehingga penggunaan handphone dalam blok itu tipis adanya, karena pengawasan tidak pernah berhenti,”kata Baharuddin.

Hal tersebut juga berlaku pada keluarga binaan saat menjenguk, barang bawaannya diperiksa secara ketat. Dan tidak diperbolehkan membawa handphone.

Meski demikian, Ia bersama jajaran Lapas Polewali mengungkapkan hal ini menjadi pembelajaran penting untuk meningkatkan pengawasan ketat.

Serta sebagai bahan evaluasi bagi para petugas untuk lebih teliti lagi saat rutinitas penggeledahan.

“Artinya pemeriksaannya berlapis, sampai saat ini kami pastikan tidak ada pegawai lapas yang ikut terlibat, saya pastikan tidak ada,” ungkap Baharuddin.[*]