Perempuan Tamerimbi Empu di Tengah Kecemasan Pasca Gempa

Perempuan Tamerimbi
Gambar: Perempuan Tamerimbi sedang memanen Padi

Potret perempuan Tamerimbi, membuat adrenalin ini terpacu. Di tebing-tebing pegunungan, para perempuan asyik memanen padi ladang, perempuan terlihat begitu “gagah”, tanpa didampingi suami.

Yah, padi ladang telah menguning keemasan di Tanah Tua, tepatnya di dusun Tamerimbi, desa Kabiraan, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene.

Mereka berjuang untuk survive mengelola sumber daya alam lokal. Perempuan-perempuan hebat itu, penopang kebutuhan pangan keluarga, suami mengasuh anak di rumah, sementara si istri meramaikan ladang-ladang.

Rasa cemas dan takut, bukan alasan untuk tidak bangkit, manusiawi sekali, batin terhantam, was-was masih menyelimuti benak para penyintas, setelah goncangan gempa. Intensitas maksimal gempa bumi Sulawesi Barat berkekuatan 6,2 Mw, yang melanda pesisir barat Pulau Sulawesi, pada 15 Januari 2021, pukul 02.28 WITA.

Gempa susulan: 5,0 Mw; Tanggal 16 Januari 2021, disusul gempa-gempa berkekuatan kecil.

Dusun Tamerimbi yang bertetangga dengan dusun Tamerimbi Barat, Tamerimbi Utara, dan Kampung Baru, nah, empat dusun ini kurang lebih 200 KK, merasakan amukan gempa, meluluhlantahkan rumah warga, rumah ibadah, pusat kesehatan, dan lembaga pendidikan.

Satu dusun nyaris tidak ada rumah terdampak yakni, Kampung Baru. Namun tetap mengalami bias sebab, terdampak secara ekonomi dari adanya akses jalan terputus. Titik penghubung dusun dengan ibu kota kecamatan.

Perputaran ekonomi terhambat, sebab pasar-pasar lokal tutup, dan untuk membeli bahan pangan, harus menempuh jarak jauh ke Kota Kabupaten Majene.

Betul-betul ngeri sebab, gempa dahsyat telah menggoyangkan tanah Tamerimbi. Hingga jembatan sungai Tamerimbi patah, gunung longsor menutup jalan, seketika akses terputus, ekonomi lumpuh.

Kelompok rentan yang merasakan adalah perempuan hamil/menyusui, balita, lansia dan difabel. Lalu apakah para penyintas tinggal diam?.

Di balik rasa cemas dan takut, mereka perlahan bangkit menggarap lahan, menyelamatkan sisa-sisa pangan. Potensi sumber pangan tersuguhkan, memantik energi.

Ada beragam tanaman pangan berupa padi ladang, jagung, kemiri, durian, dan tentu sayur-sayuran. Semua mudah kita temukan di ladang-ladang para penyintas, tentu yang masih produktif lahannya. Namun yang terkena goncangan gempa, tanah terbelah, tentu tidak bisa dinikmati lagi. Harus memulai lagi dari awal.

Tenda-tenda berwarna biru, telah dihuni, sebab tidak ada jalan lain. Beberapa rumah roboh, hancur parah, apatah lagi jika hujan lebat. Rasa was-was menyelimuti, sebab ancaman banjir dan tanah longsor, menjadi tambahan kekhawatiran para penyintas.

Tidak ada jalan lain untuk tidak meninggalkan perkampungan, khususnya dusun yang dekat dengan area longsoran.

Pagi, siang suasana pengungsian sepi, mereka keluar berbondong-bondong menuju lahan, menggarap yang masih tersisa.

Tapak kaki kembali menyisir tenda-tenda, seorang bapak kutemukan di tepi jalan pusat perkampungan, duduk bersantai. Mengisap sebatang rokok, menggendong 1 anak balita, putrinya cantik, dan dua anaknya yang juga masih berusia anak-anak, sibuk bermain.

Maksud hati asessment, sambil alam pikiranku liar menanyakan, dimana istrinya?. Lelaki itu masih nampak energik, senyum sumringah dari bibirnya, menyambutku.

“Istriku, lagi ke ladang memanen padi. Tradisi kami di sini, menggarap lahan padi, saat awal pembersihan lahan terkadang kami bersama. Namun perihal menanam, dan memanen, dilakukan oleh istri, nah kami suami-suami tinggal di rumah mengasuh anak” kata Haris.

“Satu ke syukuran kami di sini, perempuan – perempuan Tamerimbi, sangat berperan aktif sebagai penopang kebutuhan ekonomi keluarga. Kita saksikan sendiri di ladang-ladang. Salah satu alasan kenapa menanam dan memanen padi ladang, dilakukan oleh perempuan. Karena perempuan dianggap lincah dan cepat cara kerjanya,” tutup Haris, seorang bapak yang memiliki anak 6.

Manifestasi gender lokal, kutemukan di Tamerimbi. Saling menyeimbangkan peran, laku sosial ini, memberikan pandangan ke publik, bahwa perempuan tidak hanya didomestifikasi di ruang-ruang dapur, dan kamar. Namun, perempuan-perempuan keren itu, mampu menjadi penggerak ekonomi keluarga, mereka perempuan hebat itu.

Penulis: Karmila Bakri*