Puan: Perlindungan Terhadap Perempuan Harus Jadi Prioritas

Perlindungan terhadap Perempuan
Ketua DPR RI, Puan Maharani

Perempuan sering berada dalam pusaran konflik, mulai dari konflik rumah tangga, sosial, hingga perang antar Negara. Sebagai kelompok rentan, selain anak, perlindungan terhadap perempuan dalam konflik harus menjadi prioritas, di tengah berbagai konflik yang tengah melanda dunia.

Hal ini disampaikan Ketua DPR RI Puan Maharani, dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada Selasa 8 Maret 2022.

“Dalam situasi konflik, perempuan sebagai kelompok rentan bisa menjadi korban berkali-kali. Mendapat kekerasan, kehilangan akses kebutuhan dasar, akses sumber daya alam, sampai menjadi sasaran kekerasan seksual,” kata Puan, dalam pers rilisnya, Jumat (11/3).

Karena itu, lanjut Puan mengatakan, “Perlindungan dan kepentingan perempuan harus menjadi prioritas pada masa mitigasi konflik dan pascakonflik,”

Perempuan pertama sebagai Ketua DPR RI ini menegaskan, Negara harus menjamin hak-hak perempuan secara penuh. Terlebih dalam situasi konflik dan pasca konflik sekalipun.

Kebijakan Negara tidak boleh memperbesar kesenjangan sosial dan diskriminasi terhadap perempuan.

“Regulasi yang disahkan Negara harus berfungsi efektif untuk menjamin perlindungan terhadap perempuan,” tegasnya.

Komitmen DPR sendiri, memastikan legislasi untuk melindungi perempuan sebagai kelompok rentan. Salah satunya adalah Rancangan Undang-undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang tengah dibahas DPR dan pemerintah.

“DPR RI akan terus mengawal hak-hak perempuan dan perlindungan perempuan. Agar tidak lagi menjadi korban, terlebih dalam situasi konflik,” ucap Puan.

Di sisi lain, Ketua DPR mengajak perempuan Indonesia agar selalu berani bersuara saat menghadapi konflik. Sebab, perempuan punya banyak kontribusi positif pada terciptanya perdamaian.

“Perempuan berperan sebagai inisiator perdamaian. Khususnya bagi penyintas dalam konflik. Perempuan bisa bersama-sama bergerak menciptakan keadilan sebab pemenuhan keadilan dan hak-hak perempuan juga menjadi amanat dalam resolusi PBB,” ungkap mantan Menko PMK itu.

Perjuangan Perempuan

Hari Perempuan Sedunia sendiri bermula dari adanya aksi unjuk rasa pada 8 Maret 1909. Lalu, aksi buruh perempuan di New York pada tahun 1911 menjadi tonggak sejarah kesetaraan gender dalam aspek-aspek kehidupan.

Tahun ini 2022, peringatan International Women’s Day mengangkat tema #BreakTheBias ‘Gender equality today for a sustainable tomorrow’ atau ‘Kesetaraan gender hari ini untuk masa depan yang berkelanjutan’. Tema ini dibuat untuk meningkatkan kesadaran terhadap bias dunia terhadap kesetaraan gender.

“#Break The Bias, memiliki pesan kepada para perempuan untuk selalu berusaha melawan ketidaksetaraan, bias, dan stereotip yang disematkan oleh masyarakat. Perempuan harus saling membela,” ujar Puan.

Cucu Proklamator RI Bung Karno tersebut juga menilai, perempuan harus lebih peka dan peduli terhadap setiap perkembangan zaman. Dengan begitu, kata Puan, perempuan harus terus siap memberikan solusi dan kontribusi terbaik bagi bangsa Indonesia.

“Apalagi perempuan saat ini berperan besar dalam kehidupan. Perempuan saat ini berperan sebagai pribadi, istri, ibu, pekerja, sekaligus warga negara yang berkewajiban mendidik generasi penerus,” katanya.

Sebagai bagian dari kaum Perempuan, sekaligus sebagai ketua DPR RI, Puan menyampaikan, selamat Hari Perempuan Internasional bagi seluruh kaum perempuan hebat di Indonesia.[rls*]