Puisi: Duka Seorang Hartawan

Puisi: Duka Seorang Hartawan
Ilustrasi

Sayangku, hidup kita seperti menyusuri tangga
Tanpa pangkal habisnya
Jauh di atas surga tergambar
Dan kaki-kaki semakin gatal

Disini angin terasa panas
Hingga telaga tak cukup untuk redakan haus
Tanah semakin jauh

Sayangku,
Kuberi kau apa maumu
Kusangka Maha gemerlapan
telah kau raih
Nyaris saja terlupa

Sang Maha Segala belum diperhitungkan
Kita lupa diri

Sayangku, hari-hari kita mendahului fajar
Mengumpulkan serpihan-serpihan nikmat
yang ditabur langit
Tanpa kita tahu
Ini bukan apa-apa

Sayangku,
Waktu sepertiga malam
Aku terbangun dengan dada kerontang
Kurindukan syahadatku
Kurindukan senyummu yang dulu selalu
cairkan penatku

Bukan salahmu, Sayang
Aku yang lalai
Aku yang menyuapimu dengan butiran-butiran
permata
hingga terkikis jua salju di matamu

Sayangku, ini dukaku
Di tengah petang
Di tengah deret anak tangga
Tanah masih rendah hati

(Puisi ditulis di Makassar, 20 Desember 2013)